BLANTERORIONv101

Hidup Sederhana di Tengah Dunia yang Gemar Pamer

30 Januari 2026

Gaya hidup
Makan siang sederhana di warung menjadi pilihan sebagian orang untuk tetap hidup apa adanya, tanpa harus larut dalam gaya hidup konsumtif. (Foto satuspirit)

Ringkasan Artikel

Di tengah arus glamorisasi gaya hidup dan tekanan budaya konsumtif, hidup sederhana menjadi pilihan sadar yang justru memberi ketenangan. Artikel ini mengangkat kisah dan refleksi tentang bagaimana menata pengeluaran, memilih kebutuhan secara bijak, serta tetap hidup layak tanpa harus berlebihan. Dengan sudut pandang manusiawi dan dekat dengan realitas, kesederhanaan ditampilkan bukan sebagai keterbatasan, melainkan sebagai bentuk kendali atas hidup dan masa depan.

satuspirit.my.id -Hidup hari ini bukan cuma soal bertahan, tapi juga soal menahan diri. Bukan menahan lapar, melainkan menahan keinginan. Di era media sosial, standar hidup pelan-pelan bergeser. Ukuran “cukup” sering kalah oleh “terlihat”.

Pamer bukan lagi soal kekayaan, tapi soal citra. Dari pakaian, makanan, tempat nongkrong, hingga gadget semuanya seakan berlomba untuk ditampilkan. Padahal, tidak semua orang berada di garis start yang sama. Dan itu seharusnya tidak menjadi masalah.

Di tengah arus glamorisasi kehidupan, hidup sederhana justru menjadi pilihan yang tidak populer, tapi menyelamatkan.

Media sosial membuat hidup orang lain tampak selalu baik-baik saja. Foto liburan, kopi mahal, outfit baru, makan di tempat hits—semuanya hadir setiap hari. Tanpa sadar, muncul dorongan membandingkan diri.

“Kadang bukan kita yang butuh, tapi ego kita yang nggak mau kalah,” begitu kata Rini sari (32), seorang karyawan swasta di Bandung.

Rini, bekerja di perusahaan logistik dengan gaji sekitar Rp4,5 juta per bulan. Sekilas, hidupnya biasa saja. Tidak ada mobil, tidak sering nongkrong mahal, dan jarang update liburan. Tapi justru dari kesederhanaan itu, ia merasa lebih tenang.

“Saya sadar penghasilan saya segini. Kalau dipaksain hidup seperti orang lain, yang capek bukan orang lain, tapi saya sendiri,” ujarnya pelan.

Bagi mamah muda ini, hidup sederhana bukan pilihan instan. Ia juga pernah berada di fase ingin terlihat “naik kelas”.

“Dulu saya juga pengin kelihatan keren. Ikut nongkrong, beli baju mahal, padahal akhirnya nyesel sendiri. Pulang-pulang mikir, ini buat apa?” kenangnya.

Sejak itu, ia mulai menyusun ulang prioritas hidup. Ia mencatat pengeluaran, menahan belanja impulsif, dan membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

“Sekarang saya lebih mikir masa depan. Nabung dikit, bantu orang tua, sama tenang itu lebih penting,” katanya.

Dalam dunia yang cepat menilai dari tampilan, pakaian sering dijadikan identitas sosial. Padahal, fungsi utama pakaian adalah menutup tubuh dan memberi kenyamanan.

“Baju saya itu-itu aja. Yang penting bersih, rapi, dan nyaman. Orang mau bilang apa, terserah,” katanya sambil tertawa kecil.

Ia memilih membeli pakaian yang awet dan netral. Tidak banyak, tapi cukup.

“Saya lebih malu kalau punya banyak baju tapi nggak bisa bayar kewajiban,” ujarnya jujur.

Makan Sederhana, Pikiran Lebih Lega

Gaya hidup juga tercermin dari pola makan. Kini, makan sering kali bukan soal lapar, tapi konten.

“Kadang orang makan bukan buat kenyang, tapi buat foto,” imbuhnya tersenyum.

Ia lebih memilih makan di warung langganan atau masak sendiri.

“Lebih murah, lebih sehat, dan rasanya lebih jujur,” tambahnya.

Baginya, hidup sederhana berarti tidak memaksakan diri hanya demi terlihat “ikut zaman”.

Di era gadget, ponsel sering jadi simbol status. Versi terbaru dianggap mencerminkan keberhasilan.

Rini masih menggunakan ponsel lama yang fungsinya masih berjalan baik.

“Selama bisa dipakai kerja, komunikasi, sama hiburan seperlunya, buat apa ganti?” ucapnya

Ia menyadari bahwa teknologi seharusnya mempermudah hidup, bukan menambah tekanan finansial.

Sederhana Bukan Berarti Anti Kemajuan

Hidup sederhana sering disalahartikan sebagai hidup pasrah. Padahal, kesederhanaan justru soal kesadaran.

“Saya bukan nggak mau sukses. Saya cuma mau sukses dengan cara yang sehat,” tegasnya.

Ia tetap punya mimpi: rumah sederhana, keluarga tenang, dan hidup tanpa utang konsumtif.

“Kalau rezeki bertambah, alhamdulillah. Tapi gaya hidup nggak perlu ikut melonjak,” katanya.

Kesederhanaan mengajarkan satu hal penting: cukup itu bukan angka, tapi sikap.

Banyak orang terlihat mewah, tapi jiwanya lelah. Sebaliknya, ada yang hidup sederhana, tapi tidurnya nyenyak.

“Kita nggak perlu terlihat kaya untuk hidup layak,” ujar wanita yang doyan bola voli ini menutup ceritanya.

Di tengah budaya pamer, hidup sederhana justru butuh mental kuat. Berani berbeda. Berani tidak ikut arus. Berani jujur pada diri sendiri.

Kesederhanaan bukan soal tidak mampu, tapi soal tahu diri. Bukan menolak dunia, tapi tidak diperbudak olehnya.

Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling terlihat, tapi siapa yang paling tenang menjalaninya.

(*)

Komentar