×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Ngobrol Santai di Teras Bazar Batununggal, DPRD Bandung Tegaskan UMKM Tulang Punggung Ekonomi

Jumat, 09 Januari 2026 | 16:03 WIB Last Updated 2026-01-09T09:04:12Z

Teras bazar UMKM batununggal
Anggota DPRD Kota Bandung Komisi II M. Bagja Jaya Wibawa, SH (tengah) bersama dr. Dodi Nugraha, Ketua perahukita.org, berfoto bersama para pelaku UMKM usai podcast dan diskusi interaktif di Teras Bazar UMKM Pasar Modern Batununggal, Kota Bandung, Jumat (9 Januari 2025). Kegiatan ini menjadi ruang dialog inspiratif untuk mendorong UMKM naik kelas melalui pemanfaatan digital marketing dan kolaborasi.

satuspirit.my.id - Suasana santai Teras Bazar UMKM Pasar Modern Batununggal, Jumat (9 Januari 2026), menjadi ruang diskusi yang hidup ketika podcast digelar bersama Anggota DPRD Kota Bandung Komisi 2, M. Bagja Jaya Wibawa, SH, dan dr. Dodi Nugraha, Ketua perahukita.org.

Di tengah aktivitas pelaku usaha kecil, Bagja Jaya Wibawa memaparkan alasan mengapa UMKM disebut sebagai tulang punggung ekonomi nasional. Bukan sekadar jargon, tetapi fakta yang nyata dirasakan di lapangan.

“UMKM itu bisa tumbuh besar dan yang paling penting, menyerap banyak tenaga kerja. Secara tidak langsung, bapak ibu sudah membantu menekan angka pengangguran di Kota Bandung,” ujar Bagja.

Ia mencontohkan, banyak pelaku UMKM yang kini mampu mencukupi kebutuhan hidup tanpa harus bergantung pada pekerjaan formal. Bahkan, dari satu lapak usaha, terbuka peluang kerja bagi saudara, tetangga, hingga teman sekitar.

Tak hanya itu, perputaran uang dari aktivitas UMKM dinilai sangat berpengaruh terhadap ekonomi daerah. Menurut Bagja, sektor ini juga terbukti paling tahan banting saat krisis, termasuk ketika pandemi Covid-19 melanda.

“UMKM itu fleksibel. Hari ini bisa tutup dulu, besok buka lagi kalau sudah ada modal. Tidak seperti korporasi besar yang strukturnya kaku dan modalnya sangat besar,” jelasnya.

Karena fleksibilitas dan kemandiriannya, UMKM tidak sepenuhnya bergantung pada kebijakan atau bantuan pemerintah. Bahkan kebijakan besar seperti pajak ekspor-impor, lanjut Bagja, relatif tidak berdampak langsung pada UMKM yang tetap bisa berjalan.

Dalam kesempatan itu, ia juga mendorong pelaku UMKM agar mulai naik kelas. Salah satunya dengan terus meningkatkan kualitas produk dan mengikuti perkembangan selera pasar.

“Kita harus inovatif, menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Kota Bandung. Apa yang disukai konsumen hari ini, itu yang harus kita tangkap,” katanya.

Pemanfaatan teknologi juga menjadi kunci. Bagja menyebut media sosial dan platform digital sebagai peluang besar bagi UMKM, mulai dari live streaming di TikTok, Shopee, hingga memanfaatkan marketplace seperti Tokopedia.

Selain itu, kepuasan pelanggan disebut sebagai fondasi utama keberlanjutan usaha. Pelayanan yang baik, menurutnya, akan membuat konsumen kembali, berapa pun harga produk yang dijual.

Menutup pemaparannya, Bagja menegaskan bahwa Pemerintah Kota Bandung terus berupaya hadir melalui akses permodalan dan pelatihan bagi UMKM. Ia menyebut berbagai program pelatihan keterampilan hingga bantuan alat usaha sebagai bentuk dukungan nyata.

“Ini bukti bahwa pemerintah hadir. Tinggal bagaimana kita sama-sama memanfaatkan peluang yang ada agar UMKM di Kota Bandung semakin kuat dan mandiri,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua perahukita.org, dr. Dodi Nugraha, menilai pemanfaatan digital marketing menjadi langkah penting dalam mendorong UMKM Kota Bandung agar semakin dikenal luas.

“Sekarang memang saatnya kita mulai serius menggunakan digital marketing. Salah satunya lewat podcast, supaya UMKM bisa diperkenalkan lebih luas lagi,” ujar Dodi.

Ia menjelaskan, Teras Bazar UMKM Pasar Modern Batununggal bukan sekadar tempat berjualan, tetapi juga menjadi ruang belajar dan bertumbuh bersama bagi pelaku usaha kecil.

Di lokasi tersebut, terdapat sekitar 20 ruko dengan karakter usaha yang beragam. Dalam satu ruko, bisa diisi oleh beberapa pelaku UMKM dengan produk yang berbeda-beda. Hingga saat ini, tercatat 84 produk UMKM yang telah terdaftar dan mengisi Teras Bazar UMKM.

“Tempat ini memang kami rancang sebagai wadah bagi UMKM yang ingin berkembang dan bertumbuh bersama. Itu tantangan sekaligus peluang,” katanya.

Menurut Dodi, masih banyak masyarakat di luar sana yang ingin berwirausaha, namun bingung harus memulai dari mana. Kehadiran Teras Bazar UMKM diharapkan bisa menjadi pintu masuk bagi mereka untuk belajar, berdiskusi, dan membangun usaha secara bertahap.

“Kalau bingung mau mulai usaha, datang saja ke sini. Kita bisa diskusi bareng, saling belajar,” ujarnya.

Ke depan, Dodi berharap program-program yang dijalankan di Teras Bazar UMKM, termasuk podcast dan aktivitas edukatif lainnya, dapat terus mendorong peningkatan kualitas dan jumlah UMKM di Kota Bandung.

“Harapannya, dengan adanya tempat ini dan program yang kami jalankan, UMKM Kota Bandung bisa terus naik kelas,” pungkasnya.

Diskusi pun mengalir hangat, menyatu dengan denyut aktivitas UMKM. Podcast sore itu bukan sekadar obrolan, tetapi menjadi ruang inspirasi bahwa dari lapak-lapak kecil, ekonomi kota bisa terus bergerak.

(*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update