×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Bos Jana: Sepak Bola, Keluarga, dan Jalan Mengabdi untuk Kampung

Minggu, 09 Agustus 2026 | 20:20 WIB Last Updated 2026-08-09T13:23:40Z

 

Rahmat Saepudin alias Bos Jana bersama keluarga besarnya dalam sebuah momen kebersamaan. Bagi Bos Jana, keluarga menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup, termasuk dalam menumbuhkan kecintaan terhadap sepak bola dan semangat untuk saling membantu serta membangun lingkungan.

Satuspirit – Sepak bola bukan sesuatu yang asing bagi Rahmat Saepudin, atau yang akrab disapa Bos Jana. Ia lahir dan tumbuh di tengah keluarga besar yang memiliki kecintaan terhadap sepak bola.

Kecintaan itu mengalir dari generasi ke generasi. Sang kakek, ayahnya Cecep (alm.), Rahmat sendiri, saudara-saudaranya, hingga para keponakannya sama-sama menyukai sepak bola.

Rahmat merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya, Eka Patimah, S.Pd., berprofesi sebagai guru dan menjabat kepala TK di Kecamatan Batujajar. Sementara adiknya, Ryan Andriani N., menekuni dunia usaha.

Rahmat sendiri memilih jalan sebagai pengusaha jeans. Namun, bagi dirinya, usaha bukan semata-mata tentang mengejar keberhasilan pribadi.

Ada keinginan yang lebih besar: membantu keluarga dan masyarakat di lingkungan tempat ia dilahirkan.

Salah satu caranya adalah membuka kesempatan kerja bagi saudara-saudaranya maupun warga sekitar sesuai kemampuan dan latar belakang pendidikan mereka. Sejumlah anggota keluarganya pun mendapat kesempatan bekerja di lingkungan usaha jeans.


Bagi Bos kelahiran 10 Agustus 1983, di Kampung Sareuni, Desa Mekarjaya, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, keberhasilan akan terasa lebih berarti ketika bisa memberikan manfaat kepada orang lain.

Keinginan yang sama juga ia bawa untuk kampung halamannya. Ia ingin ikut memajukan lingkungan tempat ia lahir dan tumbuh.

Kecintaan terhadap sepak bola kemudian menjadi salah satu jalannya.

Melalui kegiatan sepak bola, termasuk Cipulus Cup, ia ingin memberikan ruang kepada generasi muda untuk mengembangkan bakat, menambah pengalaman, sekaligus mempererat silaturahmi antarpemain dan masyarakat.

Baginya, anak-anak muda tidak cukup hanya bermain bola di kampung sendiri. Mereka perlu diberi panggung agar potensi yang dimiliki dapat dilihat lebih luas.

Di balik semua aktivitas tersebut, ada prinsip hidup yang terus dipegangnya: ingin sukses dengan kemampuan sendiri tanpa menggantungkan hidup kepada orang lain, tetapi tetap bisa membantu orang-orang di sekitarnya.

Dalam kehidupan keluarga, Rahmat menikah dengan perempuan asal Cipanji, Desa Citapen, dan telah dikaruniai tiga orang anak.

Kini, sepak bola dan aktivitas sosial di kampung menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Dari keluarga yang mencintai sepak bola, Rahmat tumbuh menjadi pengusaha yang mencoba mengembalikan sebagian keberhasilannya kepada keluarga dan lingkungan.

Bos Jana mungkin membangun usaha untuk masa depannya, tetapi melalui sepak bola dan kepeduliannya terhadap kampung, ia juga sedang mencoba membangun kesempatan bagi masa depan generasi setelahnya.

(*)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update