×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Pencak Silat Sudah Mendunia, Kini Tantangannya Membuat Generasi Muda Semakin Mencintainya

Minggu, 06 September 2026 | 07:41 WIB Last Updated 2026-09-06T00:45:20Z

 

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menyampaikan dorongan agar pencak silat terus dikembangkan dan mampu mendunia, dengan penguatan pembinaan di dalam negeri serta pengenalan sejak sekolah.

Satuspirit – Pencak silat bukan sekadar olahraga bela diri. Di balik setiap gerakan, jurus dan ketangkasan pesilat, tersimpan warisan budaya yang tumbuh dari perjalanan panjang bangsa Indonesia.

Kini pencak silat telah dikenal dan dipraktikkan di berbagai negara. Namun, ketika olahraga yang lekat dengan identitas Indonesia itu semakin mendunia, muncul tantangan baru: bagaimana memastikan generasi muda di tanah air tidak justru menjauh dari warisan leluhurnya sendiri?

Pertanyaan itulah yang kembali mengemuka ketika Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir mendorong peningkatan kualitas pencak silat dari dalam negeri.

Menurut Erick, ambisi membawa pencak silat ke panggung dunia harus dimulai dari pembinaan yang kuat di Indonesia.

“Upaya membawa pencak silat mendunia harus diawali dengan peningkatan kualitas pembinaan di dalam negeri,” kata Erick saat menghadiri pengukuhan dan pelantikan Ketua Umum PB IPSI masa bakti 2026–2030, Sugiono, beserta jajarannya di Jakarta, Sabtu.

Pernyataan tersebut menjadi penting karena pencak silat sebenarnya tidak lagi berhenti sebagai olahraga yang hanya dikenal di Indonesia. Perkembangannya telah melewati batas negara.

Tetapi mendunia bukan sekadar membuat pencak silat dikenal. Ada pekerjaan yang jauh lebih besar: menciptakan sistem pembinaan yang mampu melahirkan pesilat berkualitas, memperkuat kompetisi, memperluas pendidikan pencak silat, sekaligus menjaga nilai budaya yang melekat di dalamnya.

Dari Halaman Sekolah hingga Panggung Dunia

Erick melihat sekolah sebagai salah satu pintu penting untuk memperkuat masa depan pencak silat.

Menurutnya, semakin banyak sekolah yang mengenalkan pencak silat, semakin besar pula peluang lahirnya bibit-bibit atlet potensial.

Gagasan itu sebenarnya sederhana. Anak-anak tidak hanya diperkenalkan pada teknik bela diri, tetapi juga kepada budaya yang menjadi bagian dari identitas bangsa.

Pencak silat dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk belajar disiplin, keberanian, konsentrasi, sportivitas dan rasa percaya diri.

Dari sana, pembinaan dapat berlanjut ke tingkat yang lebih tinggi hingga melahirkan atlet yang mampu membawa nama Indonesia ke kompetisi internasional.

Erick bahkan berharap suatu saat pencak silat dapat tampil di panggung Olimpiade.

“Kalau Jepang punya karate dan judo, Korea punya taekwondo, kenapa Indonesia tidak punya?” ujarnya.

Pertanyaan itu bukan sekadar membandingkan Indonesia dengan negara lain. Ada pesan besar di dalamnya: Indonesia memiliki cabang olahraga sekaligus warisan budaya yang layak diperjuangkan agar memperoleh tempat lebih tinggi di panggung olahraga dunia.

Di tengah semakin dikenalnya pencak silat di luar negeri, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan.

Generasi muda Indonesia harus menjadi barisan terdepan yang mencintai dan melestarikannya.

Jangan sampai pencak silat justru semakin populer di berbagai belahan dunia, sementara anak-anak Indonesia semakin asing dengan seni bela diri yang lahir dari tanah leluhur mereka sendiri.

Karena itu, pengembangan pencak silat tidak cukup hanya berbicara tentang medali.

Ada nilai sejarah, budaya dan karakter bangsa yang harus tetap hidup.

Di situlah pencak silat memiliki nilai yang berbeda.

Ia dapat menjadi olahraga prestasi sekaligus ruang pendidikan karakter.

Sementara itu,Ketua Umum PB IPSI 2026–2030 Sugiono pun menegaskan komitmennya untuk mengembangkan pencak silat.

Menurutnya, pencak silat merupakan olahraga bela diri yang tumbuh, lahir dan berkembang sebagai bagian dari budaya Indonesia.

Kepengurusan PB IPSI saat ini, kata Sugiono, melanjutkan tongkat estafet pembinaan yang selama bertahun-tahun dipimpin dan dibimbing Prabowo Subianto.

“Pencak silat sebagai olahraga bela diri yang tumbuh, lahir, berkembang, dan bagian dari budaya bangsa harus dikembangkan,” kata Sugiono.

Kini tantangannya adalah bagaimana tongkat estafet tersebut diteruskan kepada generasi berikutnya.

Bukan hanya kepada atlet profesional, tetapi juga kepada anak-anak sekolah, remaja, komunitas dan masyarakat luas.

Jika pembinaan dimulai sejak dini, fasilitas diperkuat, kompetisi diperbanyak dan pencak silat semakin dekat dengan kehidupan generasi muda, peluang untuk melahirkan pesilat hebat tentu semakin terbuka.

Pada akhirnya, membawa pencak silat mendunia bukan berarti mengubah jati dirinya agar mengikuti dunia.

Sumber: Antara

(*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update