Satuspirit — Final Turnamen Mini Soccer Putri 2026 yang mempertemukan Tunas Putri Desa Cililin dengan tuan rumah Putri Desa Budiharja berlangsung sengit di Lapangan RW 03 Desa Budiharja, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Minggu (30 Agustus 2026).
Ribuan pasang mata—atau setidaknya ratusan penonton dari berbagai penjuru memadati sekitar lapangan. Dukungan suporter tuan rumah maupun tim tamu membuat atmosfer pertandingan semakin panas sejak sebelum kick-off.
Menariknya, sebelum laga final dimulai, penonton terlebih dahulu disuguhi pertunjukan tari jaipongan dan pencak silat. Nuansa budaya lokal tersebut menjadi pembuka sebelum kedua tim terbaik tampil memperebutkan gelar juara.
Pertandingan sendiri digelar melalui kolaborasi Karang Taruna RW 03 dengan Karang Taruna Desa Budiharja, dengan dukungan berbagai pihak.
Begitu peluit pertandingan dibunyikan, kedua tim langsung bermain dengan tempo tinggi.
Jual beli serangan terjadi. Tunas Putri Cililin beberapa kali mencoba membongkar pertahanan Budiharja, sementara tuan rumah mendapatkan suntikan energi dari dukungan suporter yang terus memberikan semangat dari pinggir lapangan.
Memasuki menit ke-13, pemain Cililin melepaskan tendangan ke arah gawang, tetapi belum menghasilkan gol.
Tak lama berselang, peluang emas dimiliki Budiharja. Pemain tuan rumah sudah berhadapan langsung dengan penjaga gawang Cililin, namun penyelesaian akhirnya masih lemah sehingga berhasil diblok kiper.
Permainan semakin keras. Salah seorang pemain Budiharja bernomor punggung 13 harus menerima kartu kuning setelah melakukan pelanggaran keras.
Cililin kembali mendapatkan peluang melalui striker bernomor punggung 9. Ia berhasil berhadapan dengan penjaga gawang Budiharja, tetapi tendangannya masih melebar.
Hingga penghujung babak pertama, Cililin terlihat lebih banyak menguasai permainan. Sejumlah peluang emas berhasil diciptakan, tetapi tidak satu pun mampu dikonversikan menjadi gol.
Babak pertama berakhir 0-0.
Memasuki babak kedua, Cililin langsung ngegas.
Penguasaan bola lebih banyak berada di kaki pemain Cililin. Beberapa kali lini pertahanan Budiharja dibuat kerepotan.
Salah satu peluang emas tercipta ketika pemain Cililin berhasil mengecoh pemain belakang Budiharja. Namun, tendangannya masih mampu diamankan penjaga gawang tuan rumah.
Sebuah peluang tercipta di depan gawang Cililin melalui situasi kemelut. Namun, sepakan pemain Budiharja masih lemah dan berhasil ditangkap penjaga gawang.
Memasuki sekitar menit ke-10 babak kedua, pemain Cililin kembali mendapatkan kesempatan emas setelah berhadapan dengan penjaga gawang. Sayangnya, bola justru melenceng dari sasaran.
Pertandingan semakin menegangkan ketika pelanggaran keras dilakukan pemain Cililin di luar kotak penalti. Wasit memberikan kartu kuning.
Budiharja mendapatkan kesempatan melalui tendangan bebas, tetapi bola masih melambung di atas mistar gawang.
Waktu normal akhirnya berakhir. Skor tetap 0-0.
Tidak ada extra time. Sesuai ketentuan pertandingan, penentuan juara langsung dilakukan melalui adu penalti.
Di sinilah drama final benar-benar terjadi.
Adu Penalti Jadi Penentu
Para pemain kedua tim terlihat tegang. Pelatih dari masing-masing kubu terus memberikan instruksi dari pinggir lapangan.
Penonton pun tidak kalah tegang. Teriakan dan tepuk tangan terus terdengar, terutama dari suporter tuan rumah yang berharap Budiharja mampu mengangkat trofi di hadapan publik sendiri.
Namun, dalam adu penalti tersebut, eksekutor Tunas Putri Cililin tampil lebih siap.
Cililin akhirnya memenangkan adu penalti dengan skor 2-1.
Kemenangan tersebut sekaligus membuat Tunas Putri Desa Cililin mempertahankan gelar juara turnamen mini soccer putri yang digelar di Desa Budiharja.
Sementara itu, Putri Desa Budiharja harus puas menjadi runner-up.
Nazwa: Bukan Rezeki, Kami Sudah Berjuang
Kapten Putri Desa Budiharja, Nazwa, mengaku tetap bangga dengan perjuangan rekan-rekannya meski gagal meraih gelar juara.
Menurutnya, hasil tersebut harus menjadi motivasi untuk terus berlatih.
“Bukan rezekinya, tetapi kami sudah bermain penuh semangat. Ke depan mudah-mudahan lebih baik lagi, terus berlatih dan bisa juara tahun depan,” ujarnya.
Rini: Kunci Kami Kerja Sama Tim
Sementara kapten Tunas Putri Cililin, Rini, menyebut kerja sama menjadi salah satu kunci keberhasilan timnya.
Ia juga mengapresiasi perjuangan tim Budiharja yang mampu memberikan perlawanan sengit sepanjang pertandingan.
“Kuncinya kerja sama tim. Kami berdoa kepada Allah dan intinya percaya sama tim,” kata Rini.
Ia berharap turnamen tersebut dapat kembali digelar dengan skala yang lebih besar sehingga semakin banyak desa yang dapat berpartisipasi.
“Budiharja keren, pokoknya mantap. Semoga ada lagi ajang silaturahmi seperti ini dengan acara yang lebih besar,” ujarnya.
Top Skor dan Pemain Terbaik
Selain menentukan juara, turnamen juga memberikan penghargaan individu kepada pemain yang tampil menonjol.
Gelar top skor diraih Funi dari Desa Cililin dengan torehan 8 gol selama turnamen.
Sementara penghargaan pemain terbaik diberikan kepada Fera dari Desa Budiharja.
Dua penghargaan tersebut menjadi gambaran bahwa meskipun pertandingan final berakhir tanpa gol hingga adu penalti, turnamen tetap melahirkan pemain-pemain dengan performa terbaik.
Kepala Desa Budiharja, Ahmad Syarif Hidayat, mengapresiasi seluruh pihak yang telah menyukseskan turnamen.
Menurutnya, keberhasilan kegiatan tidak lepas dari kolaborasi Karang Taruna RW 03 dan Karang Taruna Desa Budiharja, serta dukungan pemerintah desa dan berbagai pihak lainnya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat dan penonton yang ikut menjaga ketertiban selama turnamen berlangsung.
“Terima kasih kepada para penonton. Suksesnya acara ini tidak lepas dari partisipasi dan dukungan, termasuk menjaga ketertiban dan kondusivitas selama turnamen,” ungkapnya.
Menurut Ahmad, kegiatan tersebut juga memberikan dampak positif bagi pelaku UMKM yang berjualan di sekitar lokasi pertandingan.
“Semoga kegiatan-kegiatan seperti ini turut meningkatkan perekonomian para pelaku UMKM,” katanya.
Lebih jauh, Ahmad menilai nilai paling penting dari turnamen bukan semata-mata siapa yang menjadi juara.
Baginya, pertemuan antarpemain dan masyarakat dari berbagai desa justru menjadi bagian paling berharga.
“Yang membuat saya terharu adalah silaturahmi kami antar desa. Hubungan antarpemain juga semakin erat. Bukan hanya gelar juaranya, tetapi persaudaraan dan kedekatan kita dengan desa-desa lain,” ujarnya.
Tahun Depan Ingin Lebih Besar
Ahmad mengatakan, turnamen tahun ini masih menjadi bahan evaluasi. Salah satunya terkait waktu pelaksanaan yang bertepatan dengan berbagai agenda Agustus di sejumlah desa sehingga jumlah peserta belum sebanyak yang diharapkan.
Ke depan, pihaknya ingin mencari momentum yang lebih tepat agar turnamen dapat diikuti lebih banyak desa dari wilayah Bandung Barat Selatan.
“Ke depan kami upayakan konsisten diselenggarakan, tetapi akan kami evaluasi. Mudah-mudahan waktunya bisa lebih tepat sehingga semua bisa berpartisipasi,” katanya.
Bahkan, targetnya tidak berhenti pada beberapa kecamatan saja.
Jika penyelenggaraan semakin matang, turnamen tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi ajang yang lebih luas hingga melibatkan desa-desa se-Kabupaten Bandung Barat.
Ahmad juga berharap pengelolaan turnamen ke depan semakin profesional, termasuk koordinasi dengan berbagai pihak dan dukungan sponsor.
Ia mengucapkan terima kasih kepada para sponsor dan pengusaha yang telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan turnamen.
Final Berakhir, Persaudaraan Tetap Menang
Setelah pertandingan selesai, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan closing ceremony. Para pemain, panitia dan pihak yang terlibat berkumpul dalam suasana penuh keakraban.
Tawa dan kebahagiaan kembali terlihat setelah ketegangan pertandingan berakhir.
Tunas Putri Cililin boleh membawa pulang gelar juara. Putri Budiharja harus menerima posisi runner-up.
Namun, bagi penyelenggara, pertandingan final tersebut meninggalkan cerita yang jauh lebih besar daripada sekadar angka 2-1 dalam adu penalti.
Ada pemain yang berjuang, suporter yang memberikan dukungan, UMKM yang ikut menggerakkan ekonomi, kesenian yang menghidupkan suasana, serta desa-desa yang dipertemukan melalui olahraga.
Di lapangan mereka bersaing. Setelah peluit akhir, mereka kembali bergandengan tangan.
(*)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar