Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Bukan Cuma Piala, SMPN 2 Cililin Fokus Bentuk Karakter dan Potensi Siswa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 13:16 WIB Last Updated 2026-08-27T06:20:28Z


Haji Nandang Jaeni, S.Pd., bersama murid SMPN 2 Cililin. Pembentukan karakter menjadi prioritas dalam menghadapi tantangan jaman.

Satuspirit – Suasana aula guru SMPN 2 Cililin, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (27 Agustus 2026), terasa hangat. Obrolan redaksi bersama Kepala sarana dan Prasarana SMPN 2 Cililin, H. Nandang Jaeni, S.Pd., mengalir dari satu topik ke topik lain.


Bukan sekadar membicarakan nilai rapor atau siapa yang membawa pulang piala. Kali ini, obrolan justru masuk ke hal yang lebih mendasar: bagaimana sekolah membentuk karakter siswa sekaligus mendorong mereka berprestasi.


Menurut Nandang, pembentukan karakter di SMPN 2 Cililin dilakukan melalui berbagai program yang menyentuh kehidupan siswa sehari-hari.


“Banyak program yang dilaksanakan dalam rangka pembentukan karakter. Mulai dari budi pekerti, etika bersikap, bertutur kata, berpakaian, sampai tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat,” ujarnya.


Artinya, karakter tidak cukup hanya dibicarakan di dalam kelas. Siswa dibiasakan melalui kegiatan yang dilakukan secara rutin.


Salah satunya melalui upacara bendera. Kegiatan yang mungkin bagi sebagian siswa terlihat sederhana itu tetap dianggap penting sebagai sarana menanamkan nilai kebangsaan.


Kemudian ada kegiatan membaca dan berinteraksi yang diarahkan untuk kembali menumbuhkan kegemaran membaca di kalangan siswa.


“Menanamkan gemar membaca kembali kepada anak,” kata Nandang.


Program lainnya juga menyentuh pola hidup sehat dan kepedulian terhadap lingkungan. Ada kegiatan senam, kebersihan lingkungan, hingga program yang berkaitan dengan Adiwiyata.


Setiap Kamis, sekolah juga memberikan ruang bagi penanaman nilai-nilai rohani dan keimanan.


Menariknya, program tersebut tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Ketika masih ada siswa yang belum mampu membaca Al-Qur'an, misalnya, sekolah melakukan pendataan dan memberikan pendampingan.


Siswa yang mengaku belum bisa mengaji diarahkan untuk mendapatkan bimbingan dari guru.


“Didata siapa yang sudah bisa dan siapa yang belum bisa membaca, kemudian dibimbing,” jelasnya.


Bagi Nandang, sekolah bukan hanya tempat mengejar angka-angka akademik. Anak-anak juga harus memiliki bekal karakter agar siap menghadapi kehidupan setelah mereka meninggalkan bangku sekolah.


Ia menyadari tantangannya tidak ringan.


Perkembangan teknologi dan media sosial menjadi salah satu tantangan terbesar. Anak-anak sekarang hidup dalam lingkungan yang jauh lebih terbuka dibandingkan generasi sebelumnya.


Belum lagi pengaruh pergaulan di luar sekolah.


“Pengaruh lingkungan tidak bisa dipungkiri. Anak-anak tidak hanya berinteraksi dengan teman di sekolah, tetapi juga dengan lingkungan yang lebih luas,” tuturnya.


Karena itu, sekolah berusaha menjadi salah satu benteng agar siswa tidak mudah terbawa arus.


Bukan berarti sekolah bisa mengendalikan seluruh kehidupan anak. Justru siswa harus dipersiapkan agar mampu menentukan pilihan ketika berhadapan dengan berbagai pengaruh.


Pesan yang ingin ditanamkan sederhana: di mana pun berada dan kapan pun waktunya, jadilah individu yang siap menghadapi tantangan.


“Jangan terkalahkan oleh zaman, tetapi jadilah generasi yang unggul,” kata Nandang.


Soal prestasi, SMPN 2 Cililin juga tidak ingin hanya melihat satu bidang.


Menurut Nandang, setiap anak memiliki kesempatan untuk mengembangkan kompetensinya sesuai potensi masing-masing.


Di bidang seni, misalnya, siswa pernah mengikuti ajang seperti FLS2N, termasuk lomba pantomim dan kemampuan literasi seperti membaca cerpen.


Sementara di bidang olahraga, siswa juga berpartisipasi dalam O2SN, salah satunya bulutangkis.


Tidak semua perjalanan berakhir di tingkat provinsi. Ada yang berhenti di tingkat kabupaten.


Namun bagi sekolah, pencapaian tersebut tetap layak diapresiasi.


Sebab, keberanian siswa untuk tampil, berkompetisi, belajar menghadapi kekalahan, dan mencoba kembali merupakan bagian dari proses pendidikan.


“Kita usahakan ada kesempatan untuk anak mengembangkan kompetensinya, meskipun dengan keterbatasan biaya,” ujarnya.


Sekolah, Karakter dan Tantangan Zaman


Obrolan pagi itu akhirnya bermuara pada satu kesimpulan: pendidikan bukan hanya tentang membuat anak pintar.


Anak juga perlu dibekali etika, kebiasaan baik, rasa tanggung jawab, kecintaan terhadap bangsa, kepedulian terhadap lingkungan, serta kemampuan beradaptasi.


SMPN 2 Cililin mencoba merangkai semuanya melalui rutinitas sekolah.


Ada upacara untuk menanamkan nasionalisme. Ada kegiatan membaca untuk membangun kebiasaan literasi. Ada senam dan kebersihan untuk membangun kepedulian terhadap kesehatan dan lingkungan. Ada kegiatan keagamaan untuk memperkuat nilai spiritual. Dan ada ruang kompetisi untuk menemukan serta mengembangkan bakat siswa.


Di sisi lain, sekolah tidak menutup mata terhadap tantangan zaman, terutama derasnya pengaruh media sosial dan lingkungan pergaulan.


Justru di situlah pendidikan karakter menjadi penting.


Sebab, ketika anak sudah berada di luar pagar sekolah, tidak ada lagi guru yang setiap saat mengingatkan.


Yang diharapkan tersisa adalah kesadaran dari dalam diri siswa.


Dan mungkin, itulah prestasi yang paling penting: bukan hanya berapa banyak piala yang tersimpan di lemari sekolah, tetapi berapa banyak siswa yang tumbuh menjadi pribadi yang mampu berdiri sendiri, punya etika, memiliki keterampilan, dan siap menghadapi zaman.


Di aula tersebut sebuah obrolan santai berubah menjadi cerita tentang satu hal penting: membangun masa depan anak ternyata tidak cukup dengan mengejar prestasi. Karakter harus berjalan beriringan.


(*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update