![]() |
| Ada hikmah dibalik jomblo, jadi jangan khawatir dan status jomblo bukan aib nikmatilah masa jomblo dengan tersenyum. |
Satuspirit — Jomblo adalah status yang kurang mengenakkan untuk dialami atau dirasakan.
Status ini bisa dialami siapa saja, baik cowok maupun cewek. Ada yang menikmatinya, ada yang biasa saja, ada yang resah pula, tetapi tidak sedikit yang diam-diam merasa kesepian ketika melihat orang lain sudah memiliki pasangan.
Coba saja deh, ketika sedang jalan sendirian pada sore hari.
Kita berjalan di taman. Atau sekadar keliling mal untuk mencari suasana baru.
Tiba-tiba dari kejauhan terlihat seseorang yang kita kenal.
Dia datang bersama pasangannya.
Jalan berdua. Tertawa. Saling menggoda.
Tangannya bergandengan.
Bibir kita mungkin ikut tersenyum ketika berpapasan.
Bahkan mungkin sempat menyapa.
“Eh, kalian di sini?”
Tapi setelah mereka berlalu, ada sesuatu yang tiba-tiba terasa mengganjal.
Hati seperti bertanya sendiri.
“Kenapa aku masih sendirian?”
Tidak ada yang tahu. Senyum tetap terlihat. Tetapi hati diam-diam meronta.
Begitu pula ketika sedang mengendarai motor sendirian.
Tiba-tiba ada motor lain menyalip. Di atasnya ada pasangan muda.
Si perempuan memeluk erat pasangannya.
Kita mungkin cuma tertawa kecil.
“Ah, biasa.”
Tapi beberapa detik kemudian, pikiran mulai ke mana-mana.
“Kapan aku seperti itu?”
Sejuta kalimat bisa saja muncul di kepala.
Namun semuanya hanya menjadi suara yang tidak pernah keluar dari mulut.
Karena itulah jomblo kadang memang tidak mengenakkan.
Bukan karena status itu hina.
Tetapi karena kesendirian terkadang terasa paling nyata ketika kita melihat orang lain sedang menikmati kebersamaan.
Dan kisah seperti itu ternyata dirasakan oleh seorang lelaki bernama Randi Tiadi.
Enam Tahun Tanpa Pasangan
Randi kini berusia sekitar 32 tahun.
Posturnya tinggi.
Pembawaannya santai.
Dia juga bukan orang yang sulit bergaul.
Randi bekerja di sebuah perusahaan swasta yang cukup besar di bidang otomotif. Penghasilannya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.
Secara ekonomi, dia tidak bisa dikatakan gagal.
Secara pergaulan, justru sebaliknya.
Randi dikenal supel dan f leksibel alias
gampang bergaul dengan siapa saja.
Media sosialnya juga cukup aktif.
Kalau ada teman yang membutuhkan bantuan, Randi termasuk orang yang tidak segan turun tangan.
Tapi ada satu hal yang sampai sekarang belum dimilikinya.
Pasangan hidup.
Randi sudah sekitar enam tahun menjalani kehidupan tanpa pacar.
Hubungan terakhirnya berakhir enam tahun lalu.
Setelah itu?
Tidak ada lagi hubungan serius.
Bukan karena trauma. Bukan karena sakit hati berkepanjangan.
Bukan juga karena ia menutup diri.
Dia hanya belum menemukan seseorang yang benar-benar cocok.
Ketika ditemui Redaksi Satuspirit, Randi mengatakannya dengan santai.
“Ya, aku memang jomblo. Belum punya pasangan.” ucapnya.
Dia tertawa.
“Setelah putus dulu, aku memang belum kembali punya pasangan. Bukan berarti aku menutup diri. Mungkin memang belum ketemu yang cocok.” lanjut anak pertama dari tiga bersaudara ini
Ketika Semua Teman Sudah Menikah
Yang terkadang membuat Randi merasa berbeda adalah lingkaran pertemanannya.
Banyak teman seusianya sudah menikah. Sebagian bahkan sudah memiliki anak.
Dulu ketika berkumpul, pembicaraan mereka soal pekerjaan, nongkrong, kendaraan, atau sekadar membahas hal-hal receh.
Sekarang pembicaraannya berubah.
“Anak gue lagi sakit.”
“Istri gue minta...”
“Kemarin gue antar anak sekolah...”
Randi tetap tertawa. Tetap ikut bercanda.
Tetap menjadi Randi yang selama ini dikenal teman-temannya.
Sampai suatu ketika ada yang nyeletuk:
“Ran, kapan nyusul?”
Randi biasanya cuma tertawa.
“Santai, belum ketemu orangnya.”
Temannya tertawa.
Obrolan pun berlanjut.
Selesai.
Tetapi kadang setelah pulang, pertanyaan itu masih terngiang.
Kapan?
Malam Minggu mungkin menjadi salah satu waktu yang paling mudah membuat seorang jomblo menyadari statusnya...Sendiri.
Bagi sebagian orang, malam Minggu adalah waktunya bertemu pasangan.
Makan malam.
Nonton.
Jalan-jalan.
Atau sekadar duduk berdua sambil ngobrol sampai malam.
Tapi bagi Randi, malam Minggu tidak selalu seperti itu.
Dia lebih sering berada di rumah orang tuanya.
Rumah dua lantai. Randi punya kamar sendiri. Tidak ada yang mengganggu. Dia bisa rebahan. Main HP. Menonton video. Membuka media sosial.
Kadang tertawa melihat postingan teman.
Kadang membalas komentar.
Kadang hanya diam menatap layar.
Aneh memang.
Media sosialnya ramai, tetapi kamarnya tetap sepi.
Randi mengakui ada saat-saat tertentu ketika kesendirian itu terasa.
“Yang kadang aku rasakan itu ketika ada hari-hari yang seharusnya diisi dengan kemesraan atau cinta, aku justru sendiri.” lirihnya tersenyum kecut.
Dia tidak menyangkalnya.
Tetapi Randi juga tidak mau terus mengeluh.
“Ya, aku menerima. Kalau memang sekarang masih sendiri, ya aku jalani.” imbuhnya.
Sebenarnya Randi Ingin Menikah
Menariknya, Randi bukan berarti tidak ingin memiliki pasangan.
Dia ingin.
Bahkan ingin suatu saat mengakhiri status jomblonya.
Hanya saja dia tidak ingin memaksakan diri.
“Aku juga ingin punya pasangan,” ujarnya perlahan sambil seruput kopi hangat.
“Tapi kalau hanya karena takut dibilang jomblo, terus aku asal memilih orang, menurutku malah lebih bahaya.”
Bagi Randi, hubungan bukan perlombaan.
Teman menikah bukan berarti dia harus ikut menikah.
Teman punya anak bukan berarti hidupnya tertinggal.
Setiap orang memiliki waktunya masing-masing.
Dan mungkin, bagian tersulit dari menjadi jomblo bukanlah menunggu seseorang datang.
Melainkan belajar tetap percaya diri ketika semua orang di sekitar kita seolah sudah menemukan pasangannya.
Cerita Randi sebenarnya bukan ajakan untuk menikmati kesendirian selamanya.
Juga bukan pembenaran bahwa memiliki pasangan tidak penting.
Pasangan tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan banyak orang.
Namun selama pasangan itu belum datang, hidup tidak boleh berhenti.
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan.
1. Jangan Jadikan Status Jomblo sebagai Aib
Jomblo bukan penyakit.
Bukan kegagalan.
Dan bukan ukuran bahwa seseorang tidak laku.
Kalau belum menemukan pasangan yang tepat, tidak perlu merasa rendah diri.
Lebih baik sendiri dengan tenang daripada bersama orang yang justru membuat hidup berantakan.
2. Jangan Membandingkan Timeline Hidup
Teman menikah di usia 25.
Kita 30 masih sendiri.
Bukan berarti kita gagal.
Ada orang yang cepat menikah tetapi masih berjuang membangun rumah tangga.
Ada pula yang menikah lebih lambat tetapi menemukan pasangan yang benar-benar cocok.
Hidup bukan lomba lari 100 meter.
Tidak semua orang harus sampai di garis finis pada waktu yang sama.
3. Tetap Bergaul
Jangan karena jomblo kemudian menarik diri dari lingkungan.
Tetap bertemu teman.
Tetap ikut kegiatan.
Tetap olahraga.
Tetap bekerja.
Tetap mengembangkan kemampuan.
Justru lingkungan sosial yang sehat bisa membuat hidup jauh lebih berwarna.
4. Jangan Terlalu Terobsesi Mencari Pasangan
Ini penting.
Semakin seseorang panik karena ingin segera punya pasangan, terkadang semakin sulit berpikir jernih.
Kenali orang.
Bangun komunikasi.
Nikmati proses.
Tetapi jangan menjadikan setiap orang yang datang sebagai “calon jodoh” sebelum benar-benar mengenalnya.
5. Bangun Diri Sendiri
Kalau sekarang belum memiliki pasangan, gunakan waktu itu untuk memperbaiki diri.
Karier.
Keuangan.
Kesehatan.
Keterampilan.
Relasi sosial.
Dan yang tidak kalah penting, hubungan dengan Tuhan.
Jangan hanya sibuk mencari seseorang untuk mencintai kita. Belajarlah menjadi seseorang yang layak dipercaya dan dicintai.
6. Tetap Dekat dengan Tuhan
Ada hal-hal dalam hidup yang memang tidak bisa dipaksa.
Termasuk jodoh.
Berusaha tentu wajib.
Berkenalan juga boleh.
Membuka diri juga penting.
Tetapi pada akhirnya, ada bagian yang berada di luar kendali manusia.
Di situlah seseorang perlu belajar sabar, berdoa, memperbaiki diri, dan percaya bahwa hidup tidak pernah berjalan tanpa alasan.
Randi Masih Jomblo, Tapi Tidak Lagi Merasa Kalah
Enam tahun sendiri bukan berarti enam tahun tanpa kebahagiaan. Randi masih bisa tertawa.
Masih bisa berkumpul dengan teman.
Masih bisa menikmati pekerjaannya.
Masih bisa pulang ke rumah dan beristirahat dengan tenang.
Dia juga masih punya harapan.
Mungkin suatu hari nanti ada seseorang yang datang.
“Ya, tentu aku ingin. Siapa sih yang nggak mau punya pasangan?”
Randi tertawa.
Kemudian melanjutkan:
“Tapi aku nggak mau karena ingin cepat punya pasangan, aku malah salah memilih.”
Kalimat itu mungkin sederhana.
Namun ada pelajaran besar di dalamnya.
(*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar