![]() |
| Cukup memprihatinkan angka percobaan bunuh diri di Tanah Air meningkat perlu penanganan lebih agar dapat ditekan. |
Satuspirit – Ada persoalan yang tidak selalu terlihat di lingkungan sekolah. Di balik aktivitas belajar, bercanda bersama teman, hingga rutinitas sehari-hari, sebagian siswa ternyata sedang menghadapi tekanan mental yang cukup berat.
Kondisi tersebut tergambar dari data Global School-Based Student Health Survey (GSHS) yang disampaikan Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono.
Dante mengungkapkan, persentase siswa yang dilaporkan pernah melakukan percobaan bunuh diri meningkat tajam. Pada 2015 angkanya sekitar 3,8 persen, sedangkan dalam survei 2023 mencapai 10,7 persen. Wamenkes menyebut peningkatan tersebut sekitar 2,7 kali lipat.
Angka ini menjadi alarm bahwa persoalan kesehatan mental pada anak dan remaja tidak bisa lagi dianggap sebagai masalah yang akan hilang dengan sendirinya.
Survei GSHS 2023 dilakukan terhadap lebih dari 10 ribu siswa kelas 7 hingga 12, yang umumnya berada pada rentang usia 13–17 tahun. Dalam survei tersebut, 10,7 persen siswa melaporkan pernah melakukan percobaan bunuh diri dalam 12 bulan sebelum survei. Angkanya lebih tinggi pada siswi dibandingkan siswa.
Selain itu, 8,5 persen siswa mengaku pernah secara serius mempertimbangkan untuk mencoba bunuh diri dalam periode yang sama.
Menurut Dante, data tersebut menunjukkan pentingnya mengenali persoalan kesehatan mental sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.
Ia mengibaratkan persoalan bunuh diri seperti fenomena gunung es. Apa yang terlihat di permukaan belum tentu menggambarkan seluruh persoalan kesehatan jiwa yang sebenarnya terjadi di masyarakat.
“Jadi bukan hanya kasus yang sampai meninggal. Ada persoalan yang jauh lebih besar di bawahnya,” ujar Dante dalam Temu Media Peningkatan Mental Health Awareness di Jakarta, Jumat (4 September 2026)
Salah satu persoalan kesehatan mental pada remaja adalah gejalanya tidak selalu terlihat jelas.
Seorang anak yang biasanya ceria bisa tiba-tiba lebih banyak diam. Ada pula yang mulai kehilangan minat melakukan aktivitas yang sebelumnya disukai, sulit tidur, mudah tersinggung, sulit berkonsentrasi, atau mengalami perubahan pola aktivitas.
Dante mengingatkan masyarakat agar memperhatikan perubahan kondisi fisik, emosi, dan perilaku yang berlangsung secara konsisten.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain gangguan tidur, perubahan berat badan, mudah tersinggung, kecemasan berlebihan, kesulitan berkonsentrasi, serta perubahan pola bicara dan aktivitas yang menetap.
Jika perubahan tersebut berlangsung sekitar dua minggu atau lebih dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, kondisi itu layak mendapatkan perhatian dan evaluasi lebih lanjut.
Artinya, orang tua, guru, saudara, maupun teman tidak harus menunggu sampai seorang anak berada dalam kondisi krisis untuk mulai peduli.
Kesehatan mental bukan hanya persoalan ketika seseorang sudah mengalami gangguan berat.
Menurut Dante, upaya menjaga kesehatan jiwa perlu dilakukan sejak awal kehidupan, bahkan sejak masa kehamilan dan setelah melahirkan.
Di tingkat anak dan remaja, deteksi lebih awal juga menjadi bagian penting. Kementerian Kesehatan mendorong pemanfaatan Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai salah satu sarana untuk membantu menemukan gejala depresi maupun kecemasan lebih dini.
Kemenkes juga menyediakan skrining kesehatan jiwa melalui SATUSEHAT menggunakan kuesioner.
Namun, teknologi dan layanan kesehatan bukan satu-satunya jalan.
Lingkungan terdekat justru sering menjadi tempat pertama seseorang menunjukkan perubahan.
Empat Langkah Sederhana: Tanya, Dengarkan, Temani, Hubungkan
Ada pesan penting yang disampaikan Dante kepada masyarakat: seseorang tidak harus menjadi psikolog atau dokter untuk memberikan pertolongan awal kepada orang yang sedang mengalami masalah kesehatan mental.
Ada empat langkah sederhana yang bisa dilakukan:
Tanya. Berani membuka percakapan dan menanyakan kondisi seseorang dengan cara yang tidak menghakimi.
Dengarkan. Berikan ruang agar dia bisa bercerita tanpa langsung menyalahkan, menggurui, atau meremehkan masalahnya.
Temani. Jangan membuat orang yang sedang kesulitan merasa menghadapi semuanya sendirian.
Hubungkan. Jika diperlukan, bantu menghubungkannya dengan orang tua, keluarga yang dipercaya, tenaga kesehatan, psikolog, dokter, atau layanan bantuan yang sesuai.
Kemenkes juga menyediakan Healing119 melalui 119 ekstensi 8 untuk dukungan bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan terkait kondisi krisis psikologis.
Peduli Itu Bisa Dimulai dari Hal Sederhana
Persoalan kesehatan mental pada anak dan remaja bukan sesuatu yang bisa diselesaikan hanya dengan mengatakan, “Jangan dipikirkan.”
Kadang seseorang memang hanya membutuhkan satu orang yang mau bertanya, kemudian benar-benar mendengarkan.
Karena itu, ketika melihat perubahan yang cukup mencolok pada anak, teman, siswa, atau anggota keluarga, jangan buru-buru menganggapnya sebagai kenakalan, mencari perhatian, atau sekadar sedang memasuki masa remaja.
Bisa jadi ada sesuatu yang sedang mereka perjuangkan sendirian.
Dan kepedulian sederhana hari ini mungkin menjadi langkah penting agar mereka tidak menghadapi persoalan tersebut sendirian.
Sumber: Antara
(*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar