Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Ngegodin di Bulan Ramadan: Lucu, Rahasia, tapi Bikin Hati Deg-Degan

Rabu, 25 Februari 2026 | 03:19 WIB Last Updated 2026-02-24T20:19:35Z

 

Ngagodin di bulan puasa
Ilustrasi remaja makan diam-diam di tempat sepi pada siang hari Ramadan. Fenomena “ngegodin” kerap terjadi di kalangan pelajar akibat godaan lapar dan ajakan teman.

Ringkasan Artikel

Ngegodin merupakan fenomena unik Ramadan berupa makan sembunyi-sembunyi di siang hari, terutama di kalangan remaja. Faktor utama biasanya lapar, tidak sahur, atau tekanan teman sebaya. Meski sering dibungkus cerita lucu, banyak pelaku mengaku menyesal setelahnya. Kisah Sri Indani, siswi SMA yang pertama kali tergoda ikut ngegodin, menunjukkan bagaimana iman bisa goyah oleh lingkungan. Fenomena ini menyadarkan bahwa puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga melatih kejujuran dan keteguhan diri lho!

SATUSPIRIT — Ramadan itu penuh cerita. Ada yang khusyuk ibadah, ada yang sibuk ngabuburit, ada yang rajin berburu takjil… dan ada juga “spesies langka” yang muncul tiap tahun: tim ngegodin.

Istilah “ngegodin” di kalangan anak sekolah merujuk pada makan atau minum diam-diam di siang hari saat puasa, biasanya sembunyi dari orang tua, guru, atau teman yang taat. Fenomena ini bukan hal baru, tapi selalu saja muncul dengan cerita yang kadang lucu, kadang bikin geleng-geleng, kadang juga bikin nyesek.

Mulai dari anak SMP, SMA, mahasiswa, sampai orang dewasa  semua punya potensi “tergoda”. Bedanya cuma tempat dan gaya operasinya.

Kenapa Ngegodin Selalu Ada?

Alasannya klasik tapi nyata:

Lapar tak tertahankan

Haus berat karena cuaca panas

Tidak sahur

Kondisi tubuh lemah

Ajakan teman

“Cuma sekali doang kok…”

Faktor sosial, terutama tekanan teman sebaya, jadi pemicu paling kuat  khususnya pada remaja.

Kisah Sri Indani: Iman vs Teman Nongkrong

Sebut saja Sri Indani, siswi SMA di Kota Bandungan yang dikenal rajin ibadah. Ramadan tahun ini sebenarnya berjalan mulus… sampai suatu siang sepulang sekolah.

Ia diajak empat temannya “main ke rumah” salah satu dari mereka. Rumahnya dua lantai. Orang tua si pemilik rumah mengira mereka sekadar ngobrol atau menunggu waktu sore.

Ternyata tidak sesederhana itu.

Di lantai dua, tas dibuka, plastik berisik, aroma makanan menyeruak. Bekal, camilan, minuman dingin semua sudah disiapkan.

Sri mulai gelisah.

“Aku cengak-cengok aja… ini beneran mau makan siang ya?” katanya sambil tertawa saat menceritakan ke redaksi.

Awalnya ia menolak. Tapi teman-temannya terus menggoda.

“Udah lah, santai aja.”

“Kan nggak ada yang lihat.”

“Cuma hari ini doang.”

Godaan paling berat bukan kata-kata… tapi bau makanan.

Akhirnya benteng iman runtuh.

“Empat orang itu terus ngegodain aku… ya udah deh, imanku luntur juga,” ujarnya sambil ngakak malu.

Mereka makan bersama, santai, bercanda, seolah tidak terjadi apa-apa  sampai menjelang pukul empat sore.

Setelah Kenyang… Datang Penyesalan

Setelah pulang ke rumah, suasana berubah drastis. Sri tidak lagi tertawa.

Ia memilih diam di kamar.

Rasa kenyang berganti rasa bersalah.

“Nyesel sih… ini pertama kali aku kayak gitu,” katanya pelan.

Tidak ada yang memarahi. Tidak ada yang tahu. Tapi hati kecilnya ribut sendiri.

Fenomena ini cukup umum. Banyak pelaku ngegodin mengaku justru merasa tidak nyaman setelahnya.

Fenomena Lama, Tapi Selalu Baru

Meski identik dengan remaja, ngegodin sebenarnya lintas usia.

Ngagodin anak sekolah biasanya di rumah teman, toilet sekolah, atau tempat sepi.

Mahasiswa: kos, kampus, minimarket

Orang dewasa: kantor, warteg, kafe, mobil

Bahkan ada “tim senior” yang nongkrong santai siang hari

Bedanya, yang muda sembunyi-sembunyi… yang dewasa kadang lebih “profesional”.

Kenapa Remaja Paling Rentan?

Masa remaja adalah fase pencarian jati diri. Kontrol diri belum stabil, sementara pengaruh teman sangat kuat.

Dalam psikologi sosial, ini disebut peer pressure  dorongan untuk mengikuti kelompok agar tidak dianggap berbeda.

Kalimat seperti:

“Masa lo doang yang nggak?”

“Ah alim banget sih.”

“Santai aja, nggak ada yang tahu.”

Bisa lebih ampuh dari ceramah panjang.

Sudut Pandang Agama: Puasa Itu Rahasia

Dalam Islam, puasa memiliki karakter unik: ibadah yang sangat personal.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

(QS. Al-Baqarah: 183)

Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi melatih kejujuran. Tidak makan saat tidak ada yang melihat itulah inti ujian.

Dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman:

“Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya, tidak ada manusia yang benar-benar bisa memverifikasi apakah seseorang berpuasa atau tidak. Hanya diri sendiri dan Tuhan yang tahu.

Lucu, Tapi Jangan Dibiasakan

Meski kisah ngegodin sering dibumbui humor, banyak tokoh pendidikan mengingatkan agar fenomena ini tidak dianggap biasa.

Sri sendiri memberi pesan:

“Kalau bisa jangan ikut-ikut teman yang ngajak nggak puasa. Jangan kayak aku… imannya kalah.”

Ia juga menyarankan untuk waspada jika diajak ke tempat “mencurigakan” di siang hari Ramadan.

Tips Menghindari Godaan

Biar nggak masuk tim ngegodin, beberapa cara ini cukup ampuh:

Sahur yang cukup dan bergizi

Hindari nongkrong siang hari tanpa tujuan

Cari lingkungan pertemanan positif

Sibukkan diri dengan kegiatan

Minum cukup saat sahur agar tidak dehidrasi

Ingat tujuan puasa

Kadang solusi paling sederhana adalah… pulang langsung ke rumah.

Sisi Manusiawi yang Tak Bisa Dipungkiri

Meski dilarang, fenomena ini menunjukkan satu hal: manusia tidak sempurna.

Ramadan bukan hanya bulan orang kuat, tapi juga bulan belajar bagi yang lemah.

Bahkan banyak orang yang pernah “jatuh” justru kemudian menjadi lebih serius beribadah di tahun-tahun berikutnya.

Setiap Ramadan selalu menghadirkan dua sisi:

Kesempatan memperbaiki diri

Godaan yang terasa lebih berat

Ngegodin mungkin tampak sepele, tapi sebenarnya menggambarkan pergulatan batin yang nyata terutama bagi generasi muda.

Pesan Inspiratif

Pada akhirnya, ngegodin adalah cerita kecil yang hampir semua orang pernah dengar bahkan mungkin pernah alami.

Lucu untuk dikenang, tapi sebaiknya tidak diulang.

Karena Ramadan hanya datang setahun sekali. Dan setiap detiknya terlalu berharga untuk ditukar dengan sepiring mi instan sembunyi-sembunyi.

“Semoga ke depan aku bisa lebih kuat,” kata Sri menutup ceritanya.

Dan mungkin… banyak dari kita diam-diam mengamini.

(*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update