Satuspirit – Timnas voli putri Indonesia memang harus mengakui keunggulan juara bertahan Vietnam dalam lanjutan AVC Women's Volleyball Cup 2026. Namun kekalahan tersebut justru menghadirkan optimisme baru bagi masa depan Garuda Pertiwi.
Menghadapi salah satu kekuatan terbesar Asia Tenggara, skuad asuhan Marcos Sugiyama tampil jauh di luar perkiraan banyak pengamat. Sebelum pertandingan dimulai, sebagian besar prediksi mengunggulkan Vietnam untuk menang mudah mengingat dominasi mereka dalam beberapa tahun terakhir atas Indonesia.
Prediksi itu bukan tanpa alasan. Dalam sejumlah pertemuan sebelumnya, Indonesia kerap kesulitan menghadapi Vietnam dan sering menelan kekalahan dengan skor telak 0-3 atau 1-3. Namun kali ini cerita berbeda tersaji di lapangan.
Sejak set pertama, para pemain Indonesia tampil berani dan penuh percaya diri. TisyaAmelia dan kawan-kawan menunjukkan permainan kolektif yang rapi, disiplin dalam bertahan, serta berani meladeni permainan cepat khas Vietnam.
Bahkan juara bertahan tersebut dipaksa bekerja keras untuk meraih setiap poin. Serangan-serangan Indonesia mampu beberapa kali membuat pertahanan Vietnam kerepotan dan memaksa mereka mengubah pola permainan.
Meski akhirnya Indonesia kalah 0-3, skor yang tercipta menunjukkan perlawanan sengit. Bukan sekadar hasil akhir yang menjadi sorotan, tetapi bagaimana Garuda Pertiwi mampu menunjukkan peningkatan kualitas permainan yang cukup signifikan.
Salah satu aspek paling menonjol dalam pertandingan ini adalah penampilan dua middle blocker Indonesia, Chelsea Berliana dan Namira Maradanti atau Rara.
Keduanya tampil solid di depan net. Beberapa kali blok mereka berhasil menghentikan serangan cepat Vietnam yang selama ini menjadi senjata utama tim berjuluk Golden Star Warriors tersebut.
Tak hanya bertahan, Chelsea dan Rara juga produktif menyumbangkan poin melalui quick attack yang efektif. Penampilan keduanya menjadi sinyal positif bahwa Indonesia mulai memiliki generasi middle blocker yang mampu bersaing di level Asia.
Pada laga ini, Marcos Sugiyama memberikan kepercayaan kepada Putri Agustina untuk mengisi posisi outside hitter.
Pemain muda tersebut tampil cukup menjanjikan. Spike-spike keras dari posisi empat maupun serangan dari back row beberapa kali menghasilkan poin penting bagi Indonesia.
Keberanian Putri Agustina mengambil tanggung jawab di laga besar menjadi catatan positif tersendiri. Kehadirannya memberikan tambahan opsi serangan yang membuat permainan Indonesia lebih variatif.
Di sisi lain, Ersandrina Devegakembali menunjukkan kualitasnya sebagai salah satu pemain muda terbaik yang dimiliki Indonesia saat ini. Kombinasi Sandrina dan Putri membuat sektor sayap Indonesia tampil lebih hidup dibanding beberapa pertandingan sebelumnya.
Penampilan apik Indonesia juga tidak lepas dari peran setter Tisya Amelia.
Setter berpengalaman tersebut mampu mengatur ritme permainan dengan baik. Variasi umpan ke middle blocker, outside hitter, hingga back attack membuat blok Vietnam tidak mudah membaca arah serangan Indonesia.
Keberhasilan Tisya Amelia mendistribusikan bola juga didukung penerimaan bola pertama yang cukup baik dari libero Indah Guritno.
Beberapa penyelamatan penting yang dilakukan Indah membuat Indonesia tetap mampu membangun serangan meski mendapat tekanan dari servis-servis keras Vietnam.
Harapan di Masa Depan
Kekalahan ini memang membuat peluang Indonesia untuk menembus target empat besar yang dicanangkan PBVSI semakin berat. Namun dari sisi permainan, ada banyak hal positif yang bisa dibawa pulang.
Perlu diingat, Indonesia tampil di turnamen ini tanpa Megawati Hangestri Pertiwi yang memilih fokus pada pemulihan kondisi fisik dan persiapan bersama klub barunya di Korea Selatan.
Meski tanpa pemain terbaiknya, Garuda Pertiwi mampu memberikan perlawanan sengit kepada salah satu tim terbaik Asia Tenggara. Fakta tersebut menunjukkan bahwa kedalaman skuad Indonesia mulai berkembang.
Masih ada dua pertandingan tersisa melawan Lebanon dan Hong Kong. Secara kualitas, kedua tim tersebut masih berada dalam jangkauan Indonesia.
Jika performa saat menghadapi Vietnam mampu dipertahankan bahkan ditingkatkan, peluang meraih hasil positif masih sangat terbuka.
Lebih dari sekadar hasil di AVC Women's Volleyball Cup 2026, pertandingan melawan Vietnam menjadi bukti bahwa fondasi Timnas voli putri Indonesia mulai terbentuk. Kombinasi pemain senior dan talenta muda menunjukkan perkembangan yang menjanjikan.
Dengan program pembinaan yang berkelanjutan, kompetisi yang semakin kompetitif, serta jam terbang internasional yang terus bertambah, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan Indonesia akan menjadi kekuatan baru yang diperhitungkan di Asia Tenggara bahkan Asia.
Kekalahan dari Vietnam memang tercatat di papan skor. Namun dari permainan yang ditunjukkan, Garuda Pertiwi sejatinya telah memenangkan satu hal penting: harapan akan masa depan yang lebih cerah bagi voli putri Indonesia.
(*)

Social Media