Satuspirit – Memimpin sebuah organisasi profesi yang menaungi ratusan guru bukan perkara mudah. Dibutuhkan komunikasi yang baik, semangat kebersamaan, dan komitmen untuk menyatukan berbagai kepentingan demi satu tujuan, yakni meningkatkan kualitas pendidikan.
Tantangan itulah yang kini dihadapi Ketua PGRI Kecamatan Sindangkerta, Abdul Rojak, M.Pd. Baginya, keberhasilan organisasi bukan diukur dari banyaknya kegiatan yang digelar, melainkan dari soliditas para pengurus dan anggotanya dalam menjalankan amanah organisasi.
Hal itu disampaikannya usai pelaksanaan Konferensi Kerja 1 PGRI cabang Sindangkerta yang menjadi momentum menyusun arah program kerja organisasi untuk periode mendatang.
Abdul Rojak berharap konferensi tersebut mampu menghasilkan keputusan-keputusan yang benar-benar membawa manfaat bagi guru dan dunia pendidikan.
"Mudah-mudahan Konferensi Kerja Cabang ini berjalan lancar sesuai AD/ART organisasi. Saya berharap seluruh panitia dan peserta mendukung sekaligus menyosialisasikan hasil konferensi kepada seluruh anggota PGRI," ujarnya.
Menurutnya, pekerjaan pertama yang harus dilakukan pengurus bukanlah menyusun banyak program, melainkan memperkuat kekompakan internal.
Baginya, organisasi yang kuat lahir dari komunikasi yang sehat dan rasa saling percaya antarpengurus.
"Yang paling utama adalah menyatukan pengurus internal. Ketika bekerja, kita harus saling memahami, saling mendukung, dan sama-sama bekerja untuk kemajuan organisasi," katanya.
Namun, Abdul Rojak tidak menampik masih adanya tantangan yang dihadapi PGRI Sindangkerta. Salah satunya adalah belum optimalnya sinkronisasi dengan berbagai organisasi dan lembaga pendidikan.
Menurutnya, koordinasi antara PGRI, K3S, KKPS, dan unsur pendidikan lainnya masih perlu diperkuat agar setiap program berjalan searah.
"Selama ini masih ada kegiatan yang waktunya berbenturan sehingga tidak semua pengurus bisa hadir. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi kami agar komunikasi ke depan jauh lebih baik," ungkapnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, ia memastikan kepengurusan PGRI tidak hanya menunggu di balik meja.
Pengurus akan lebih sering turun langsung ke sekolah-sekolah untuk membangun komunikasi dengan seluruh unsur pendidikan.
"Insyaallah setelah konferensi ini kami akan lebih banyak turun ke lapangan. Tujuannya supaya tidak ada lagi miskomunikasi di antara berbagai lembaga pendidikan dan semua bisa berjalan bersama," jelasnya.
Ia meyakini bahwa kemajuan organisasi hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi, bukan bekerja sendiri-sendiri.
Karena itu, PGRI Sindangkerta ingin menjadi rumah bersama bagi seluruh guru untuk saling menguatkan dan mencari solusi atas berbagai persoalan pendidikan.
Di akhir wawancara, Abdul Rojak berharap kepengurusan baru mampu membawa semangat baru bagi organisasi.
"Mudah-mudahan PGRI Kecamatan Sindangkerta semakin maju, semakin dikenal melalui program-program yang bermanfaat, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan," tuturnya.
Konferensi Kerja Cabang I PGRI Kecamatan Sindangkerta menjadi langkah awal memperkuat konsolidasi organisasi. Harapannya, semangat kebersamaan yang terbangun dalam forum tersebut dapat diwujudkan dalam program-program nyata yang berdampak bagi guru, sekolah, dan dunia pendidikan di Kecamatan Sindangkerta.
Kegiatan tersebut dihadiri unsur Muspika Kecamatan Sindangkerta, di antaranya Camat Agus Ahmad Setiawan, jajaran Koramil dan Polsek, pengurus PGRI, serta guru dari jenjang SD, SMP, hingga SMA/sederajat. Acara ini dibuka oleh H. Samid Rusmana, yang mewakili Ketua PGRI, yang tidak bisa hadir karena sakit. Konferensi mengusung tema "(Bersatu Dalam Pengabdian Bergerak Untuk Kemajuan Menginspirasi Generasi Bangsa)" di SDN Gapurawinaya, Kamis, 30 Juli 2026, sebagai komitmen bersama membangun organisasi guru yang semakin profesional, solid, dan adaptif menghadapi tantangan pendidikan.
(*)



Social Media