Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Gaji Segitu-Gitu Saja, Kebutuhan Terus Bertambah: Jangan Panik, Begini Caranya

Kamis, 10 September 2026 | 19:10 WIB
Meski gaji tetap sedangkan kebutuhan naik tak usah panik karena ada tips atau solusinya.

Satuspirit – Pernah merasa gaji belum naik, tetapi kebutuhan setiap bulan justru semakin banyak?

Dulu uang dengan jumlah tertentu mungkin masih terasa cukup. Sekarang, kebutuhan yang sama bisa menghabiskan anggaran lebih besar. Belanja rumah tangga, transportasi, tagihan, pendidikan, hingga kebutuhan kecil yang sering tidak terasa, perlahan membuat pengeluaran semakin berat.

Kondisi seperti ini bukan hanya soal seseorang boros atau tidak pandai mengatur uang. Perubahan harga barang dan jasa juga ikut memengaruhi daya beli masyarakat.

Badan Pusat Statistik mencatat inflasi Indonesia pada Agustus 2026 sebesar 3,19 persen secara tahunan. Artinya, secara umum terjadi kenaikan harga dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Di tengah kondisi tersebut, persoalannya menjadi sederhana tetapi cukup bikin pusing:

Gaji tetap. Kebutuhan bertambah. Pengeluaran meningkat. Lalu harus bagaimana?

Jawabannya bukan selalu harus mencari uang lebih banyak. Kalau memang pendapatan belum bisa bertambah, langkah pertama yang paling realistis adalah mengendalikan uang yang sudah ada.

1. Bedakan kebutuhan dan keinginan

Ini mungkin terdengar sederhana, tetapi justru sering menjadi bagian paling sulit.

Kebutuhan adalah sesuatu yang memang harus dipenuhi. Sementara keinginan adalah sesuatu yang menyenangkan jika dimiliki, tetapi masih bisa ditunda.

Makan, biaya rumah, listrik, air, transportasi untuk bekerja, pendidikan anak, serta cicilan yang memang wajib dibayar tentu berbeda dengan nongkrong, belanja impulsif, mengganti gawai yang masih berfungsi, atau membeli barang hanya karena sedang tren.

OJK juga menekankan pentingnya memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan serta membuat skala prioritas dalam mengelola pengeluaran.

Yang perlu dikurangi adalah pengeluaran yang tidak memberikan manfaat sebanding dengan uang yang dikeluarkan.

2. Jangan menunggu uang tersisa untuk menabung

Kesalahan yang sering terjadi adalah menggunakan uang untuk berbagai kebutuhan terlebih dahulu, kemudian berharap ada sisa untuk ditabung.

Sering kali, sisa itu tidak pernah ada.

Karena itu, begitu menerima gaji, langsung pisahkan sejumlah uang untuk tabungan atau dana darurat. Jumlahnya tidak harus besar.

Yang lebih penting adalah konsisten.

Misalnya, dari penghasilan Rp5 juta, seseorang belum mampu menyisihkan Rp1 juta. Tidak masalah memulai dari Rp200 ribu atau Rp300 ribu.

Sedikit tetapi rutin jauh lebih baik daripada menunggu kondisi ideal yang belum tentu datang.

3. Periksa pengeluaran kecil yang sering dianggap sepele

Kebocoran keuangan tidak selalu berasal dari pembelian besar.

Justru pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali sering tidak terasa.

Kopi, makanan pesan antar, biaya langganan aplikasi yang jarang digunakan, ongkos tambahan karena malas berjalan sedikit lebih jauh, belanja online karena tergoda diskon, atau kebiasaan jajan setiap hari.

Coba hitung semuanya selama satu bulan.

Bisa jadi jumlahnya cukup besar.

Karena itu, jangan hanya bertanya, "Apa yang harus saya beli?"

Sesekali tanyakan juga:

"Apa yang sebenarnya tidak perlu saya beli?"

4. Buat batas pengeluaran mingguan

Mengatur uang hanya berdasarkan hitungan bulanan terkadang terasa sulit.

Cara yang lebih sederhana adalah membaginya menjadi mingguan.

Setelah kebutuhan wajib, tabungan dan cicilan dipisahkan, tentukan berapa uang yang boleh digunakan dalam satu minggu.

Cara ini membuat seseorang lebih cepat sadar ketika pengeluaran mulai melewati batas.

Jika jatah minggu pertama sudah habis terlalu cepat, masih ada waktu untuk memperbaiki pola pengeluaran sebelum akhir bulan.

5. Kurangi hiburan mahal, bukan kebahagiaan

Hidup hemat bukan berarti tidak boleh menikmati hidup.

Setiap orang tetap membutuhkan hiburan dan waktu bersama keluarga.

Namun, hiburan tidak selalu harus mahal.

Nonton film di rumah, memasak bersama keluarga, olahraga, jalan pagi, berkunjung ke rumah saudara, atau menikmati ruang publik bisa menjadi pilihan yang jauh lebih murah.

Yang dikurangi bukan kebahagiaannya.

Yang dikurangi adalah biaya untuk mendapatkan kebahagiaan tersebut.

Ini penting supaya hidup hemat tidak terasa seperti hukuman.

6. Jangan mengikuti gaya hidup orang lain

Media sosial sering membuat seseorang merasa hidupnya kurang.

Melihat orang membeli kendaraan baru, makan di restoran mahal, berlibur, menggunakan gawai terbaru atau mengenakan pakaian bermerek bisa memunculkan keinginan untuk melakukan hal yang sama.

Padahal kondisi keuangan setiap orang berbeda.

Jangan sampai pendapatan biasa saja tetapi gaya hidup mengikuti orang yang penghasilannya jauh lebih besar.

OJK juga mengingatkan agar gaya hidup, khususnya pada pos hiburan, disesuaikan dengan kemampuan keuangan agar tidak menjadi penyebab kondisi keuangan tidak sehat.

Tidak semua yang terlihat menarik di media sosial harus dimiliki.

7. Evaluasi cicilan dan utang

Ketika penghasilan tetap, cicilan yang terlalu besar bisa menjadi beban paling berat.

Karena itu, jangan menambah utang hanya untuk memenuhi keinginan.

Jika sudah memiliki beberapa cicilan, buat daftar seluruh kewajiban tersebut. Lihat mana yang paling besar, mana yang bunganya tinggi, dan mana yang bisa segera diselesaikan.

Tujuannya bukan sekadar bebas utang, tetapi membuat ruang dalam pendapatan bulanan menjadi lebih longgar.

8. Belanja dengan daftar, bukan dengan perasaan

Pergi ke pasar, minimarket atau pusat perbelanjaan tanpa daftar belanja bisa membuat seseorang membeli lebih banyak dari yang direncanakan.

Sebelum belanja, buat daftar.

Kemudian disiplin mengikuti daftar tersebut.

Diskon juga tidak selalu berarti hemat.

Membeli barang Rp100 ribu yang tidak dibutuhkan bukan berarti hemat karena mendapatkan potongan harga 50 persen.

Tetap saja uang Rp100 ribu keluar untuk sesuatu yang sebenarnya tidak diperlukan.

9. Cari tambahan penghasilan jika memungkinkan

Menghemat pengeluaran penting, tetapi ada batasnya.

Seseorang tidak mungkin terus-menerus memangkas kebutuhan pokok.

Karena itu, jika kondisi memungkinkan, pikirkan pula cara menambah pendapatan.

Tidak harus langsung membuka bisnis besar.

Bisa dimulai dari kemampuan yang sudah dimiliki.

Menjual makanan, menjadi freelancer, menerima pekerjaan sampingan, menjual produk secara online, menawarkan jasa sesuai keahlian, atau memanfaatkan hobi yang memiliki nilai ekonomi.

Tujuannya bukan bekerja tanpa istirahat.

Tetapi mencari ruang agar kondisi keuangan tidak hanya bergantung pada satu sumber pendapatan.

10. Bangun dana darurat sedikit demi sedikit

Kondisi keuangan yang tenang bukan hanya ketika saldo rekening masih ada.

Yang lebih penting adalah ketika terjadi sesuatu yang tidak terduga, kita tidak langsung panik.

Motor rusak, anggota keluarga membutuhkan biaya, kehilangan pekerjaan, atau kebutuhan mendadak lainnya bisa menghabiskan uang dalam jumlah besar.

Karena itu, dana darurat perlu dibangun secara bertahap.

OJK dalam materi perencanaan keuangannya merekomendasikan dana darurat minimal sekitar 3–6 kali biaya kehidupan bulanan dan ditempatkan pada instrumen yang mudah dicairkan.

Tidak perlu langsung mencapai angka tersebut.

Bangun sedikit demi sedikit.

11. Jangan mengejar hidup mewah, kejar hidup yang tenang

Pada akhirnya, mengatur keuangan bukan perlombaan untuk terlihat paling kaya.

Justru salah satu ukuran keberhasilan finansial adalah ketika seseorang mampu menjalani hidup tanpa terus-menerus dihantui pertanyaan:

"Nanti akhir bulan uang saya cukup atau tidak?"

Gaji mungkin belum naik.

Harga kebutuhan mungkin terus berubah.

Tetapi kita masih memiliki kendali atas keputusan menggunakan uang.

Mulailah dari hal sederhana: catat pengeluaran, tentukan prioritas, kurangi kebocoran, tahan pembelian yang tidak perlu, sisihkan uang di awal, dan jangan memaksakan gaya hidup.

Sebab hidup sejahtera tidak selalu berarti memiliki uang paling banyak.

Terkadang, hidup terasa lebih sejahtera ketika kita mampu membuat uang yang ada bekerja sesuai kebutuhan hidup kita.

Sumber dan Referensi

Artikel ini merupakan rangkuman dan olahan redaksi Satuspirit Media dari berbagai sumber informasi dan edukasi keuangan yang terpercaya, antara lain:

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) – materi edukasi dan literasi keuangan mengenai perencanaan, pengelolaan pengeluaran, kebutuhan dan keinginan, serta dana darurat.

Kementerian Keuangan RI – informasi dan edukasi mengenai strategi mengelola keuangan di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu. 

Badan Pusat Statistik (BPS) – data perkembangan inflasi sebagai gambaran perubahan harga barang dan jasa.

Diolah dan ditulis oleh: Satuspirit Media

(*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update