Satuspirit – Gemericik air Curug Bugbrug yang mengalir di kaki perbukitan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, seolah menjadi pengingat bahwa alam yang indah harus dijaga bersama. Di tengah suasana peringatan Hari Lahir (Harlah) PKB yang berlangsung di kawasan wisata alam tersebut, Minggu (26 Juli 2026), pesan tentang pentingnya pelestarian lingkungan menggema melalui kehadiran Yayasan Bentang Alam Indonesia.
Tidak sekadar menjadi tamu dalam kegiatan itu, yayasan tersebut menghadirkan Duta Lingkungan Provinsi Jawa Barat yakni Zahira Rasyifa, Kadinya Kirana Putri dan Nayfha Rubiana, sebagai simbol ajakan kepada masyarakat agar semakin peduli terhadap kondisi lingkungan yang kian memprihatinkan.
Bagi Ketua Yayasan Bentang Alam Indonesia, Ahmad Sastra, menjaga kelestarian alam bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan. Menurutnya, berbagai persoalan lingkungan di Jawa Barat, khususnya Kabupaten Bandung Barat, membutuhkan perhatian serius dari semua pihak.
"Kami berangkat dari keprihatinan para akademisi, pemuda, aktivis lingkungan, hingga pelaku usaha terhadap kondisi lingkungan saat ini. Persoalan limbah peternakan sapi yang belum tertangani dengan baik, sampah, hingga berbagai bentuk kerusakan lingkungan menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama," ujarnya.
Ia menilai persoalan lingkungan tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada pemerintah. Kesadaran masyarakat menjadi faktor utama dalam menjaga keseimbangan alam.
"Kalau bicara lingkungan, ini bukan hanya tugas pemerintah. Lingkungan adalah tanggung jawab kita semua. Masyarakat harus ikut terlibat karena dampaknya juga dirasakan bersama," katanya.
Berangkat dari semangat itu, Yayasan Bentang Alam Indonesia terus membangun kolaborasi lintas sektor. Salah satunya melalui program Kampung Asri yang mulai dijalankan bersama berbagai pihak sejak diluncurkan pada 22 Juni lalu.
![]() |
| Tiga Duta Lingkungan Hidup Propinsi Jawa Barat. |
Program tersebut tidak hanya melibatkan pemerintah, tetapi juga komunitas, pegiat lingkungan, hingga dunia usaha. Tujuannya sederhana, namun memiliki dampak besar, yakni membangun budaya menjaga lingkungan dari tingkat masyarakat.
Menurut Ahmad Sastra, upaya pelestarian lingkungan membutuhkan dukungan yang lebih luas, termasuk dari kalangan legislatif.
Karena itu, pihaknya telah melakukan audiensi dengan Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Bandung Barat guna mendorong lahirnya kebijakan yang berpihak terhadap pelestarian lingkungan serta memperkuat sinergi antara pemerintah daerah dan sektor swasta.
"Kami berharap semua pihak bisa bersama-sama mendukung upaya pelestarian lingkungan di Bandung Barat. Tidak cukup hanya berbicara, tetapi harus diwujudkan melalui program nyata yang melibatkan masyarakat," ungkapnya.
Di tengah laju pembangunan dan perkembangan teknologi yang terus meningkat, ancaman terhadap lingkungan pun semakin nyata. Berkurangnya ruang hijau, persoalan sampah, hingga pencemaran limbah menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan.
Karena itu, edukasi menjadi salah satu fokus utama Yayasan Bentang Alam Indonesia. Melalui berbagai kegiatan sosial, kampanye lingkungan, hingga pemberdayaan masyarakat, yayasan ini berupaya menanamkan kesadaran bahwa menjaga alam harus dimulai dari langkah-langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Kehadiran Duta Lingkungan Jawa Barat dalam kegiatan Harlah PKB pun menjadi simbol bahwa gerakan mencintai alam harus melibatkan seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi muda yang akan mewarisi bumi di masa depan.
Di balik derasnya aliran Curug Bugbrug, tersimpan harapan besar agar kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti sebagai slogan. Sebab, alam yang lestari bukan hanya menjadi warisan, tetapi juga penopang kehidupan bagi generasi yang akan datang.
(*)



Social Media