BLANTERORIONv101

YBAI Dorong Limbah Peternakan Sapi Diolah Jadi Energi dan Pupuk, Bukan Lagi Cemari Lingkungan

27 Juli 2026

 

Di tengah hijaunya kawasan Curug Bugbrug, Parongpong, Ketua Yayasan Bentang Alam Indonesia Ahmad Sastra bersama Duta Lingkungan Hidup Jawa Barat mengajak generasi muda mengambil peran aktif menjaga kelestarian alam. Salah satu gagasan yang didorong ialah mengubah limbah peternakan sapi menjadi sumber energi dan pupuk organik bernilai ekonomi.


Satupirit – Yayasan Bentang Alam Indonesia (YBAI) mendorong pemerintah daerah, DPRD, serta pelaku usaha peternakan untuk segera menghadirkan solusi konkret dalam mengatasi persoalan limbah peternakan sapi yang selama ini menjadi salah satu penyumbang pencemaran lingkungan di Kabupaten Bandung Barat.

Ketua Yayasan Bentang Alam Indonesia, Ahmad Sastra, mengatakan persoalan limbah peternakan sapi tidak boleh dipandang sebagai masalah semata, tetapi harus diubah menjadi potensi ekonomi yang tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.

Menurutnya, sektor usaha peternakan sapi dalam hal ini KPSBU harus mampu berjalan beriringan dengan upaya menjaga ekosistem.

"KPSBU itu sektor usaha yang menghasilkan keuntungan harus seimbang dengan aspek lingkungan. Jangan sampai kegiatan ekonomi justru mengabaikan kelestarian alam," ujar Ahmad Sastra saat menghadiri Harlah ke-28 PKB Kabupaten Bandung Barat bertema Green Party di Curug Bugbrug, Parongpong, Minggu (26 Juli 2026).

Ia mengungkapkan, YBAI telah melakukan studi banding ke peternakan cacing  yang berhasil mengelola limbah menjadi produk yang bernilai ekonomi.

Mulai dari pengolahan limbah cacing menjadi biogas,   dijual ke pemancing hingga bahan baku industri farmasi. Dengan sistem tersebut, hampir seluruh hasil peternakan cacing dapat dimanfaatkan tanpa menyisakan limbah yang mencemari lingkungan.

"Kami sudah melihat langsung. Dari sapi itu hampir tidak ada yang terbuang. Susunya dikelola koperasi, yang kotorannya menjadi biogas, bahkan dimanfaatkan untuk kebutuhan lainnya. Model seperti ini sangat layak diterapkan di Bandung Barat," jelasnya.

Menurut Ahmad, masyarakat sebenarnya memiliki antusiasme tinggi untuk mengembangkan pengelolaan limbah yang ramah lingkungan. Namun, implementasinya masih terkendala berbagai regulasi, terutama dalam proses perizinan.

Karena itu, ia berharap pemerintah, termasuk Kementerian Pertanian, dapat memberikan kemudahan bagi kelompok masyarakat maupun pelaku usaha yang ingin mengembangkan teknologi pengolahan limbah.

"Kami siap bergerak di lapangan sebagai pendamping masyarakat. Yang dibutuhkan sekarang adalah dukungan fasilitas dan kemudahan perizinan. Kalau pemerintah hadir mendukung, saya yakin masyarakat akan sangat antusias," katanya.

YBAI juga berharap Komisi III DPRD Kabupaten Bandung Barat dapat mendorong lahirnya kebijakan yang mendukung pengelolaan limbah peternakan secara terpadu, sehingga persoalan pencemaran lingkungan dapat berubah menjadi sumber energi terbarukan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Menurut Ahmad Sastra, pengelolaan limbah berbasis ekonomi sirkular menjadi salah satu langkah strategis untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Bandung Barat, di mana aktivitas ekonomi tetap berkembang tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.

(*)

Komentar