Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Gajinya Nggak Kecil, Tapi Kenapa Setiap Akhir Bulan Dia Selalu Merasa Miskin?

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:39 WIB Last Updated 2026-08-26T12:57:27Z
Kopi, rokok, dan makanan ringan merupakan teman yang pas saat santai baik di warung, kafe atau tempat nongkrong. (Foto ilustrasi)

Satuspirit — Kalau dilihat sekilas, kehidupan Raka Pratama  sebenarnya nggak ada masalah.


Umurnya 25 tahun. Sudah bekerja. Punya penghasilan sendiri. Motor ada. HP lumayan. Teman nongkrong juga banyak.


Kalau malam Sabtu atau malam Minggu, jangan cari Raka di rumah. Kemungkinan besar dia sedang ngopi bersama teman-temannya.


Instagram-nya juga lumayan aktif.

Kadang foto kopi.

Kadang nongkrong.

Kadang jalan-jalan.

Sesekali upload makanan yang harganya bikin orang berpikir dua kali sebelum pesan.


Kalau melihat kehidupannya dari media sosial, orang mungkin akan berkata:

“Enak ya jadi Raka.”

Tapi ada satu fakta yang nggak pernah dia upload.

Tanggal tua adalah waktu yang paling dia takuti.

Bukan karena tidak punya pekerjaan.

Bukan pula karena gajinya kecil.

Justru di situlah persoalannya.

Raka punya penghasilan.

Tapi entah kenapa, uangnya selalu terasa kurang.


“Aku Nggak Miskin, Tapi Kok Selalu Merasa Kekurangan?”


Redaksi Satu Spirit mencoba ngobrol santai dengan Raka.

Bukan di kantor.

Bukan di tempat resmi.

Kami bertemu di sebuah kedai kopi sederhana yang cukup ramai oleh anak muda.

Raka datang menggunakan kaus polos, celana jeans, dan sneakers.

Dia memesan kopi, lalu duduk sambil membuka HP.


Redaksi Satuspirit :

“Rak, kalau boleh jujur, hidup kamu sekarang gimana?”

Raka tertawa.

“Pertanyaannya berat banget.”


Redaksi:

“Jawab santai aja.”

Dia diam sebentar.

Lalu mengangkat bahu.


Raka:

“Ya... sebenarnya aku baik-baik aja.”

Redaksi:

“Cuma sebenarnya?”

Raka kembali tertawa.

“Nah, itu dia.”


Dia kemudian mengatakan sesuatu yang sederhana, tetapi cukup menggelitik.


“Aku nggak miskin. Tapi kok setiap akhir bulan selalu merasa miskin?”


Gaji Masuk, Bahagia Sebentar


Menurut Raka, tanggal gajian adalah hari yang menyenangkan.

Begitu notifikasi transfer masuk, rasanya seperti hidup kembali.

Saldo bertambah.

Mood naik.

Mau makan apa saja rasanya boleh.

Mau ngopi, ayo.

Mau beli baju, gas.

Mau traktir teman, sesekali nggak masalah.

Masalahnya, kebahagiaan itu biasanya cuma bertahan beberapa hari.


Redaksi:

“Berapa lama biasanya uang gaji bertahan?”

Raka langsung tertawa.

“Jangan ditanya.”

“Kadang belum tengah bulan sudah mulai menghitung.”


Redaksi:

“Kenapa?”

“Ya banyak kebutuhan.”

“Motor.”

“Pulsa.”

“Internet.”

“Makan.”

“Ngopi.”

“Terus kadang ada ajakan teman.”

Dia berhenti sebentar.

Kemudian tersenyum.


“Yang kadang bukan kebutuhan, tapi kalau nggak ikut rasanya ketinggalan.”


Nah.

Di situlah Raka mulai sadar.

Tidak semua uangnya habis untuk kebutuhan.

Sebagian habis untuk keinginan agar tidak merasa berbeda dari lingkungan.

“Kalau Teman Nongkrong, Masa Aku Pulang?”

Raka bukan orang yang suka pamer.

Setidaknya menurut dirinya sendiri.

Dia hanya suka menikmati hidup.

Tapi ada satu hal yang perlahan dia sadari.

Lingkungan pergaulan ternyata ikut menentukan cara seseorang menghabiskan uang.

Kalau teman-temannya mengajak nongkrong di tempat biasa, Raka santai.

Tapi kalau tiba-tiba ada yang berkata:


“Bro, cobain tempat baru. Katanya keren banget.”


Raka biasanya ikut.

Padahal saldo rekening sudah mulai memberi peringatan.


Redaksi:

“Pernah sebenarnya nggak punya uang tapi tetap ikut nongkrong?”

Raka tersenyum.

“Pernah.”

“Kenapa?”

“Ya... malu aja kalau bilang nggak punya.”

Redaksi:

“Jadi gengsi?”

Raka terdiam.

“Kalau dibilang gengsi, mungkin iya.”

Lalu dia menambahkan:


“Kadang kita bukan membeli sesuatu karena butuh. Kita membelinya karena nggak mau terlihat nggak mampu.”


Media Sosial Bikin Semua Terlihat Mudah

Raka juga mengakui bahwa media sosial punya pengaruh.

Bukan berarti media sosial adalah penyebab semua masalahnya.

Tapi tanpa sadar, dia sering membandingkan kehidupannya dengan orang lain.

Ada teman yang baru beli motor.

Ada yang liburan.

Ada yang membuka usaha.

Ada yang menikah.

Ada yang tiba-tiba membeli HP baru.

Ada pula yang kelihatannya setiap minggu selalu punya tempat nongkrong baru.

Raka melihat semuanya.

Lalu membandingkan dengan dirinya sendiri.

“Kadang aku mikir, kok orang lain bisa, ya?”

Padahal dia tidak pernah tahu bagaimana kondisi keuangan orang yang dilihatnya.

Dia hanya melihat hasil akhirnya.

Tidak melihat cicilannya.

Tidak melihat perjuangannya.

Tidak melihat masalah keluarganya.

Tidak melihat apa yang terjadi setelah kamera dimatikan.


Redaksi:

“Jadi kamu merasa tertinggal?”

Raka mengangguk.

“Iya. Padahal mungkin sebenarnya aku nggak tertinggal. Aku cuma terlalu sering lihat jalan hidup orang lain.”

Ada Satu Perempuan yang Bikin Dia Makin Minder

Ternyata masalah Raka bukan cuma soal uang.

Ada seorang perempuan yang sudah cukup lama dia kenal.

Namanya Naya.

Mereka sering bertemu.

Kadang ngobrol.

Kadang saling bercanda.

Bahkan beberapa teman Raka sudah bisa menebak kalau dia menyukai Naya.

Tapi Raka tidak pernah berani mengatakannya.


Redaksi:

“Kenapa nggak ditembak?”

Raka langsung tertawa.

“Waduh.”

Redaksi:

“Serius.”

Dia menghela napas.

“Karena aku merasa belum siap.”

Redaksi:

“Belum siap secara mental?”

“Bukan cuma itu.”

“Ekonomi juga?”

Raka mengangguk pelan.


“Aku takut kalau nanti dekat sama dia, aku nggak bisa ngasih apa-apa.”


Padahal Naya tidak pernah meminta mobil.

Tidak pernah meminta makan di restoran mahal.

Tidak pernah meminta hadiah mewah.

Tapi masalahnya bukan Naya.

Masalahnya ada di kepala Raka sendiri.

Dia merasa seorang laki-laki harus sudah mapan sebelum berani mencintai.

Dan karena merasa belum mapan, dia memilih mundur sebelum berperang.

Ketika Uang Menjadi Ukuran Harga Diri

Ada satu bagian dari percakapan yang membuat Raka cukup lama diam.


Redaksi:

“Kalau boleh tahu, sebenarnya kamu takut apa?”

Raka melihat gelas kopinya.

Kemudian menjawab pelan.

“Takut dianggap nggak berhasil.”

Sederhana.

Tapi mungkin itu yang sedang dirasakan banyak anak muda.

Mereka bukan hanya mengejar uang untuk memenuhi kebutuhan.

Mereka juga mengejar uang karena ingin merasa berharga.

Ingin dianggap sukses.

Ingin dianggap dewasa.

Ingin membuktikan sesuatu kepada keluarga.

Ingin terlihat berhasil di hadapan teman.


Bahkan terkadang ingin terlihat pantas di depan orang yang dicintai.

Padahal nilai seseorang tidak pernah sesederhana isi rekening.

Di Rumah, Raka Juga Punya Cerita

Raka tinggal bersama ibunya.

Ayahnya sudah lama tidak tinggal serumah karena pekerjaan.

Hubungan mereka sebenarnya baik.

Tetapi komunikasi keluarga tidak selalu hangat.

Ada masa-masa mereka bisa ngobrol panjang.

Ada pula masa ketika masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri.

Raka jarang bercerita tentang masalah keuangannya.

Bukan karena ibunya tidak peduli.

Dia hanya merasa sudah waktunya mengurus dirinya sendiri.

“Aku sudah punya penghasilan. Masa masih minta terus?”


Kalimat itu sering muncul dalam pikirannya.

Akibatnya, ketika uang mulai menipis, dia memilih diam.

Mengurangi pengeluaran.

Kadang makan seadanya.

Menunggu tanggal gajian berikutnya.

Sampai Suatu Hari, Saldo Rekeningnya Tinggal Rp47 Ribu

Raka masih ingat kejadian itu.

Tanggal belum masuk akhir bulan.

Tapi saldo rekeningnya tinggal Rp47 ribu.

Dia melihat angka itu cukup lama.

Kemudian menutup aplikasi mobile banking.

Tidak panik.

Tidak marah.

Cuma merasa bodoh.

Redaksi:

“Kenapa merasa bodoh?”


Raka:

“Karena aku tahu uang itu sebenarnya bisa dikelola lebih baik.”


Dia mulai mengingat kembali pengeluarannya.

Kopi.

Makan di luar.

Belanja kecil-kecilan.

Nongkrong.

Pesanan online.

Dan berbagai pengeluaran yang kelihatannya cuma puluhan ribu.

Masalahnya, puluhan ribu yang keluar berkali-kali akhirnya menjadi ratusan ribu.

Bahkan jutaan.

“Ternyata bukan gaji aku yang selalu kurang.”

Raka berhenti sebentar.

“Cara aku mengatur uang yang masih berantakan.”

Raka Mulai Mengubah Kebiasaannya

Perubahannya tidak langsung ekstrem.

Dia tidak tiba-tiba menjadi orang yang anti nongkrong.

Tidak juga berhenti membeli sesuatu yang dia sukai.

Dia cuma mulai bertanya sebelum mengeluarkan uang:

“Ini kebutuhan atau cuma pengin?”

Kalau memang ingin, dia tidak selalu melarang dirinya.

Tapi dia mulai menyiapkan anggarannya.

Dia juga mulai menyisihkan uang begitu menerima gaji.

Bukan menunggu uang tersisa.

Karena dia sadar satu hal:

Kalau menunggu sisa, biasanya memang tidak pernah ada sisa.

“Aku Tetap Mau Menikmati Hidup”

Menariknya, Raka tidak ingin berubah menjadi orang yang terlalu pelit terhadap dirinya sendiri.

Dia masih ngopi.

Masih bertemu teman.

Masih sesekali membeli sesuatu yang dia suka.

Bedanya, sekarang dia lebih sadar batas.


Redaksi:

“Jadi sekarang kamu sudah berubah?”

Raka tertawa.

“Belum sepenuhnya.”

“Masih suka khilaf?”

“Masih.”

“Terus?”

Raka:

“Setidaknya sekarang kalau khilaf, aku tahu kenapa.”

Kami tertawa.

Tetapi di balik candaan itu ada perubahan kecil.

Raka mulai memahami bahwa hidup bukan soal siapa yang paling cepat memiliki sesuatu.

Belajar dari Raka: Jangan Sampai Gaya Hidup Mengalahkan Masa Depan

Cerita Raka sebenarnya bukan tentang siapa yang boros dan siapa yang hemat.

Lebih jauh dari itu.

Ini tentang bagaimana anak muda berusaha mencari keseimbangan antara menikmati hidup hari ini dan mempersiapkan kehidupan esok hari.

Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari.

1. Jangan Menjadikan Media Sosial sebagai Alat Ukur Kehidupan

Apa yang muncul di layar hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang.

Jangan membandingkan proses hidup kita dengan hasil yang orang lain tampilkan.

Kita punya jalan masing-masing.

2. Bedakan Kebutuhan dan Keinginan

Tidak semua yang kita inginkan harus langsung dibeli.

Berhenti sebentar sebelum checkout.

Tanyakan:


“Aku benar-benar butuh atau cuma sedang ingin terlihat punya?”


Pertanyaan sederhana ini bisa menyelamatkan banyak uang.

3. Jangan Takut Terlihat Sederhana

Nggak ikut nongkrong bukan berarti miskin.

Tidak punya HP terbaru bukan berarti gagal.

Memakai barang lama bukan berarti ketinggalan zaman.

Kadang justru orang yang paling tenang adalah orang yang sudah tidak sibuk membuktikan sesuatu kepada orang lain.

4. Bangun Skill, Bukan Sekadar Gaya Hidup

Uang yang habis untuk gaya hidup tidak selalu kembali.

Tetapi kemampuan yang kita bangun bisa menjadi bekal untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik.

Belajar fotografi.

Desain.

Editing.

Digital marketing.

Bahasa.

Atau keterampilan apa pun yang sesuai dengan minat.

Anak muda tidak harus langsung kaya. Tapi harus terus bertumbuh.

5. Jangan Mengukur Harga Diri dari Isi Rekening

Ini mungkin yang paling penting.

Punya uang memang penting.

Bekerja keras juga penting.

Membangun masa depan juga penting.

Tetapi jangan sampai nilai diri kita hanya ditentukan oleh berapa angka yang ada di rekening.

Karena manusia lebih besar daripada saldo banknya.

Dan Bagaimana dengan Jodoh?

Raka masih belum tahu apakah suatu hari nanti dia akan bersama Naya atau tidak.

Dia juga belum tahu apakah perempuan itu memang orang yang tepat.

Tapi sekarang dia punya cara pandang yang sedikit berbeda.

“Dulu aku pikir harus sukses dulu baru pantas mencintai.”

“Sekarang?”

Raka tersenyum.

“Sekarang aku pikir, aku harus belajar menjadi orang yang bertanggung jawab dulu. Soal jodoh, biar Tuhan yang atur.”

Dia tidak lagi ingin mengejar seseorang hanya karena takut kalah dari laki-laki lain.

Dia ingin menjadi dirinya sendiri.

Lebih matang.

Lebih bertanggung jawab.

Dan lebih percaya diri.

Pada Akhirnya, Kaya Bukan Sekadar Punya Banyak Uang

Raka masih 25 tahun.

Dia belum menjadi pengusaha besar.

Belum punya rumah.

Belum punya tabungan fantastis.

Belum tahu kapan menikah.

Dan mungkin beberapa kali lagi dia masih akan salah mengatur uang.

Tapi ada satu hal yang mulai berubah.

Dia tidak lagi ingin menjalani hidup hanya untuk terlihat berhasil.

Dia ingin benar-benar berhasil menjalani hidupnya sendiri.

Karena ternyata...

Merasa cukup bukan berarti berhenti bermimpi.

Merasa cukup berarti kita tidak lagi membenci hidup sendiri hanya karena kehidupan orang lain terlihat lebih bagus.

Dan mungkin, di zaman ketika semua orang berlomba menunjukkan apa yang mereka punya, ada keberanian lain yang jauh lebih keren:

berani hidup sesuai kemampuan, terus belajar, terus berusaha, dan tidak malu memulai dari bawah.

Raka meneguk kopinya.

Kemudian mengambil HP.

Ada notifikasi dari temannya.

“Rak, nongkrong malam ini?”

Raka tersenyum.

Kali ini dia tidak langsung menjawab.

Dia membuka catatan keuangannya terlebih dahulu.

Kemudian berkata pelan:

“Kalau memang ada uangnya, gas. Kalau nggak ada, ya lain kali.”

Dan mungkin...

itulah salah satu tanda bahwa seorang anak muda mulai dewasa.

Bukan ketika dia punya banyak uang.

Tetapi ketika dia mulai tahu ke mana uangnya harus pergi.

(*)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update