Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Dulu Cuma Diberi Uang Jajan, Kini Samsul Punya Lima Cabang Gorengan

Minggu, 30 Agustus 2026 | 06:23 WIB Last Updated 2026-08-29T23:23:27Z
Berkat ketekunan dan kesabaran, Samsul menuai hasilnya. Lima titik usaha telah ia jalankan dan kebutuhan hidupnya terpenuhi.

Satuspirit — Tidak semua orang memulai kehidupan dengan modal besar. Ada yang memulai dengan tabungan jutaan rupiah, ada yang mendapat dukungan keluarga, tetapi ada pula yang hanya bermodal kemauan untuk bekerja dan keyakinan bahwa hidup harus terus berjalan.

Lulus SMA sekitar dua dekade lalu, Samsul tahu betul bahwa dirinya tidak bisa berharap banyak dari orang tua. Kondisi ekonomi keluarga membuatnya harus mengubur keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Alih-alih meratapi keadaan, ia memilih bekerja.

Ia ikut membantu seorang teman yang sudah lebih dulu berjualan gorengan di Kota Bandung. Hampir satu tahun lebih Samsul berada di sana. Bukan sebagai karyawan dengan gaji tetap.

Bagi sebagian orang, mungkin jumlahnya kecil dan tidak berarti. Tetapi bagi Samsul, uang itu justru menjadi awal dari sebuah perjalanan panjang.

“Saya setelah lulus SMA, orang tua saya tidak punya. Saya ikut kerja bersama teman yang sudah lama jualan gorengan. Kurang lebih satu tahun. Bukan digaji, setiap hari dikasih uang buat jajan,” kenang Samsul.

Namun ada satu kebiasaan yang membuat perjalanan hidupnya perlahan berubah.

Uang jajan itu tidak semuanya ia habiskan.

Sebagian disisihkan. Sedikit demi sedikit.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Samsul terus mengumpulkan uang tersebut sambil belajar satu hal yang kelak menjadi keahliannya: membuat dan menggoreng gorengan.

Ia tidak hanya belajar bagaimana mencampur bahan. Ia belajar bagaimana menggoreng, mengatur dagangan, melayani pembeli, hingga memahami bahwa berdagang tidak selalu tentang berapa banyak uang yang didapat hari ini.

Ada proses yang harus dijalani.

“Setengahnya saya kumpulkan. Lumayan, hampir setahun, hampir satu tahun setengah. Tekun di sana. Saya bisa bikin gorengan, saya sendiri sudah bisa menggoreng,” tuturnya.

Setelah merasa cukup memiliki kemampuan dan sedikit modal, Samsul mengambil keputusan besar.

Tabungannya kemudian digunakan untuk membeli sebuah gerobak sederhana.

Saat itu, sekitar tahun 2004–2005, harga gerobak yang dibelinya masih sekitar Rp300 ribuan.

Tidak mewah. Tidak besar.

Tetapi bagi Samsul, gerobak kecil itu adalah simbol bahwa ia mulai memiliki jalan sendiri.

Dari situlah perjalanan sebagai pedagang gorengan dimulai.

Samsul menjalani semuanya sendiri. Pagi berjualan, sore kembali berjualan. Tidak ada tim besar, tidak ada toko dengan papan nama besar, apalagi sistem usaha seperti sekarang.

Yang ada hanya gerobak, gorengan, kopi dan kemauan untuk terus berjualan.

Sedikit demi sedikit pelanggan mulai mengenal.

Penghasilan yang awalnya hanya cukup untuk bertahan hidup mulai bisa disisihkan.

Samsul pun mulai berpikir lebih jauh.

Ia tidak ingin selamanya hanya memiliki satu gerobak.

Kesempatan datang ketika seorang temannya terkena PHK. Teman tersebut kemudian ikut membantu mengembangkan jualan Samsul.

Gerobak lain mulai dibuka.

Samsul mengajarkan cara menggoreng, cara menyiapkan dagangan dan bagaimana menjalankan jualan sehari-hari.

Dari satu, berkembang menjadi dua.

Kemudian terus bertambah.

Kini, setelah perjalanan panjang itu, Samsul sudah memiliki lima titik jualan gorengan di beberapa lokasi.

Setiap stand digawangi sekitar dua orang.

Dagangan tidak hanya gorengan. Ada pula kopi yang menjadi teman pelanggan ketika nongkrong atau sekadar mencari sarapan dan camilan.

Jam operasionalnya pun cukup panjang.

Pagi hari, dagangan mulai dibuka sekitar pukul 06.00 hingga sekitar pukul 09.00.

Kemudian kembali berjualan pada sore hari, sekitar pukul 16.00 hingga pukul 23.00. Jika pembeli masih ramai, bisa berlanjut sampai tengah malam.

Begitulah roda usaha Samsul berputar.

Bukan hanya roda gerobaknya, tetapi juga roda kehidupannya.

Di tengah perjalanan membangun usaha, Samsul menikah ketika usianya sekitar 26 tahun.

Menariknya, istrinya juga datang dari keluarga sederhana.

Tidak ada tuntutan untuk hidup mewah.

Tidak ada syarat harus memiliki pekerjaan kantoran atau usaha besar.

Yang ada justru dukungan.

Istrinya menerima Samsul apa adanya dan memilih berjalan bersamanya.

Setelah menikah, sang istri bahkan ikut terjun langsung membantu usaha.

“Istri saya itu setelah menikah bersama saya di gorengan yang utama. Pekerja saya tempatkan buka lagi di tempat gerobak yang satunya,” katanya.

Pembagian itu membuat usaha Samsul semakin berkembang.

Ia fokus mengelola satu titik, sementara pekerjanya menjalankan titik lainnya.

Dari sana, cabang demi cabang kembali tumbuh.

Lima gerobak akhirnya berdiri di berbagai tempat.

Samsul pun mulai merasakan hasil dari perjuangan panjangnya.

Ia sudah memiliki jongko di sebuah pasar.

Ia juga sudah memiliki rumah di sebuah perumahan, meskipun masih dalam proses cicilan.

Namun bagi Samsul, rumah yang masih dicicil itu bukan masalah.

Setiap bulan, cicilan masih bisa dibayar. Anak-anaknya bisa sekolah. Kebutuhan keluarga dapat dipenuhi dari hasil usaha yang dibangun dari sebuah gerobak kecil.

“Alhamdulillah penghasilan saya lumayan. Saya sudah punya rumah, cicil rumah di sebuah perumahan. Walaupun masih nyicil, alhamdulillah setiap bulannya masih bisa. Anak saya bisa sekolah,” ujarnya.

Namun menjadi pedagang tentu tidak selalu berarti dagangan habis setiap hari.

Ada hari ketika pembeli ramai.

Ada pula hari ketika gorengan tersisa.

Samsul menghadapi persoalan itu dengan cara yang sederhana tetapi menurutnya penting: kejujuran.

Gorengan yang tersisa tidak dicampur begitu saja dengan gorengan yang baru.

Ia memisahkannya.

Bahkan kepada pelanggan, ia tidak menutup-nutupi.

Jika ada gorengan yang sudah dibuat sebelumnya, pelanggan diberi tahu.

Kalau pelanggan tidak mau, tidak menjadi persoalan.

Sementara makanan yang tidak habis terkadang ia bagikan.

“Kalau gorengan yang tidak habis, saya pisahkan dengan yang masih baru. Kepada pelanggan juga saya bilang, ini yang kemarin. Kalau mau silakan, kalau tidak juga tidak apa-apa,” katanya.

Baginya, berdagang bukan hanya mencari keuntungan.

Ada kepercayaan pelanggan yang harus dijaga.

Sebab pelanggan yang datang hari ini bisa menjadi pelanggan yang kembali besok.

Dan kepercayaan itu tidak bisa dibeli hanya dengan uang.

Kalau ditanya apa yang membuat dirinya bisa bertahan sampai sekarang, Samsul tidak menyebut strategi bisnis yang rumit.

Tidak pula menyebut modal besar.

Jawabannya justru sederhana.

Tekun. Sabar. Yakin dengan rezeki dari Allah dan tidak berhenti berdoa.

“Saya seperti ini karena saya tekun, sabar, yakin dengan rezeki dari Allah. Yang utama, saya tidak pernah berhenti untuk berdoa,” ucapnya.

Tetapi jika melihat perjalanan hidupnya, kalimat tersebut sebenarnya telah ia praktikkan selama bertahun-tahun.

Dari seorang anak SMA yang tidak mampu melanjutkan sekolah.

Dari uang jajan yang disisihkan.

Dari gerobak seharga sekitar Rp300 ribuan.

Dari lima tahun berjualan seorang diri.

Dari seorang teman yang terkena PHK.

Dari seorang istri yang bersedia menerima dan ikut berjuang.

Hingga akhirnya berdiri lima titik usaha, memiliki jongko di pasar, rumah, dan anak-anak yang bisa bersekolah.

Samsul mungkin bukan pengusaha yang namanya terpampang di berbagai media.

Tidak memiliki gedung tinggi.

Tidak memakai jas ketika bekerja.

Setiap hari, ia masih berhadapan dengan minyak panas, adonan gorengan, kopi, gerobak dan pelanggan.

Tetapi di balik gerobak sederhana itu ada sebuah cerita tentang bagaimana seseorang membangun kehidupannya sedikit demi sedikit.

Ia tidak menunggu sukses datang.

Ia menjemputnya.

Dengan tangan sendiri.

Dengan kesabaran.

Dan dengan keyakinan bahwa rezeki memang tidak selalu datang dalam bentuk yang besar di awal.

Kadang-kadang, rezeki itu datang dalam bentuk uang jajan yang disisihkan setiap hari.

Kemudian berubah menjadi sebuah gerobak.

Gerobak berubah menjadi usaha.

Usaha berkembang menjadi lima titik.

Dan dari sana, sebuah keluarga sederhana perlahan memiliki kehidupan yang dulu mungkin hanya menjadi angan-angan.

Samsul mengajarkan satu hal sederhana: memulai dari kecil bukan berarti akan selamanya kecil.

Yang penting, mau memulai, mau belajar, tekun menjalani, jujur kepada pelanggan, dan tidak berhenti berusaha ketika hasil belum terlihat.

Sebab terkadang, kesuksesan memang tidak datang dengan suara keras.

Ia tumbuh pelan-pelan, dari pinggir jalan, dari sebuah gerobak kecil, dan dari seseorang yang setiap pagi memilih untuk tetap membuka dagangannya.

(*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update