Satuspirit – Lapang Legok Sanghyang, Desa Mukapayung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, dua hari ini kemeriahan berbalut spirit kebersamaan sangat terasa.
Ya, ada sesuatu yang lebih besar sedang digarap: ingatan tentang sejarah desa, kebanggaan terhadap seni budaya, sekaligus semangat menggerakkan ekonomi masyarakat.
Suasana itu terasa dalam rangkaian Milangkala ke-44 Desa Mukapayung, yang digelar pada 27–28 Agustus 2026.
Pentas seni lokal, bazar UMKM, tabligh akbar hingga pagelaran wayang golek menjadi bagian dari pesta rakyat yang dikemas Pemerintah Desa Mukapayung bersama masyarakat.
Yang menarik, perayaan tersebut tidak berhenti pada kemeriahan panggung dan hiburan.
Ada pesan yang ingin sampaikan: sebelum sebuah desa melangkah jauh ke depan, masyarakatnya perlu tahu dari mana mereka berasal.
Kepala Desa Mukapayung, Firman Supianto Hadi, mengatakan gagasan menggali kembali sejarah desa muncul setelah pihaknya berkeliling dan berinteraksi dengan masyarakat.
Dari sana, ia menemukan bahwa masih banyak warga yang belum mengetahui secara utuh bagaimana Desa Mukapayung terbentuk.
“Mayoritas masyarakat Desa Mukapayung itu bukan tidak mengetahui, tetapi belum semua mengetahui dari mana asal-usul kita, kapan desa ini terbentuk,” ujar Firman saat ditemui di Kantor Desa Mukapayung, Kamis (27 Agustus 2026).
![]() |
| Kades Mukapayung bersama Linmas, penuh semangat menghantar Milangkala ke-44. |
Jangan Sampai Tinggal di Desa, Tapi Lupa Sejarahnya
Bagi Firman, milangkala bukan sekadar momentum bertambahnya usia desa.
Ia ingin perayaan tersebut menjadi kesempatan bagi generasi sekarang untuk kembali mengenal perjalanan Mukapayung.
Desa Mukapayung sendiri merupakan hasil pemekaran dari Desa Rancapanggung. Dalam sejarah awal pembentukannya, terdapat sejumlah tokoh yang menjadi bagian dari proses berdirinya desa tersebut.
Karena itu, dalam rangkaian milangkala tahun ini, pemerintah desa juga menyiapkan materi mengenai sejarah Mukapayung, mulai dari awal berdiri hingga perkembangan desa saat ini.
Semangat itu sejalan dengan ungkapan “jas merah” — jangan sekali-kali melupakan sejarah.
“Jangan sampai kita berdiri, berdiam, berusaha dan menjalani kehidupan di Desa Mukapayung, tetapi tidak tahu asal-usul desa kita dari mana,” kata Firman.
Merayakan hari jadi bukan hanya melihat usia yang bertambah, tetapi juga menengok perjalanan yang sudah dilalui.
Setelah sejarah dikenalkan, masyarakat diajak melihat apa yang mereka miliki hari ini.
Berbagai potensi kesenian yang tumbuh di tengah masyarakat Mukapayung ditampilkan. Seni lokal tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga diperkenalkan sebagai bagian dari identitas desa.
Rangkaian acara kemudian berlanjut dengan tabligh akbar.
Sementara malam puncaknya diisi pagelaran wayang golek, yang menjadi salah satu kesenian tradisional Sunda yang masih memiliki tempat kuat di tengah masyarakat.
Dengan konsep tersebut, Milangkala Mukapayung seolah ingin mengatakan bahwa modernisasi boleh berjalan, tetapi akar budaya jangan sampai hilang.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah keberadaan bazar UMKM.
Firman mengatakan kegiatan milangkala sengaja tidak hanya berisi hiburan. Produk-produk lokal masyarakat juga diberikan ruang untuk tampil dan dipasarkan.
Sebab, menurutnya, potensi Mukapayung bukan hanya pada seni dan budaya.
Ada pula produk UMKM dan potensi wisata yang perlu diperkenalkan lebih luas.
“Selain menggali sejarah, kita ingin meningkatkan UMKM desa. Makanya diadakan bazar. Intinya ingin peningkatan ekonomi,” ujarnya.
Dengan demikian, pesta rakyat tidak hanya membuat lapangan ramai.
Ada harapan agar uang yang berputar selama kegiatan juga memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pelaku UMKM mendapatkan ruang promosi. Produk lokal semakin dikenal. Warga pun memiliki kesempatan melihat bahwa potensi ekonomi sebenarnya ada di sekitar mereka.
Babarengan Sauyunan Membangun Desa
Ada satu pesan yang terus ditekankan Firman dalam Milangkala ke-44 ini: babarengan sauyunan.
Bersama-sama. Bergotong royong. Tidak berjalan sendiri-sendiri.
Menurut Firman, keberhasilan kegiatan tersebut tidak terlepas dari dukungan masyarakat. Bukan hanya tenaga dan pikiran, tetapi juga dukungan materi.
Semangat gotong royong itulah yang ingin terus dipelihara setelah acara milangkala selesai.
“Yuk kita bersatu untuk membangun desa,” katanya.
Bagi Firman, desa bukan hanya milik pemerintah desa.
Desa adalah milik masyarakat yang di dalamnya terdapat berbagai potensi, mulai dari kesenian, UMKM, wisata hingga sumber daya manusianya.
Karena itu, tema kebersamaan menjadi penting.
Sabeungkeutan Maju Sauyunan
Bukan sekadar slogan di panggung milangkala, tetapi diharapkan menjadi semangat dalam pembangunan Mukapayung ke depan.
Mukapayung Ingin Dikenal karena Potensinya
Milangkala ke-44 akhirnya menjadi semacam etalase.
Masyarakat diajak melihat kembali sejarahnya.
Anak-anak muda dikenalkan kepada kesenian lokal.
Dan masyarakat secara keseluruhan kembali dipertemukan dalam suasana kebersamaan.
Firman ingin Mukapayung tidak hanya dikenal sebagai sebuah nama di wilayah Kecamatan Cililin.
Ia ingin potensi desa mulai dikenal lebih luas.
“Mukapayung itu ada keseniannya, ada produk UMKM-nya, ada wisatanya juga,” ujarnya.
Dari sanalah cita-cita sederhana itu tumbuh: Mukapayung harus bisa bergerak bersama.
Sebab sebuah desa tidak akan maju hanya karena pemerintahnya bekerja.
Desa akan berkembang ketika masyarakatnya ikut merasa memiliki.
Dan mungkin itulah makna terdalam Milangkala ke-44 Mukapayung.
Bukan hanya merayakan 44 tahun perjalanan, tetapi mengajak seluruh warga membuka kembali halaman sejarah, melihat potensi hari ini, lalu bersama-sama menulis cerita untuk masa depan.
(*)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar