![]() |
| Ilustrasi seorang ayah yang memilih tetap mendampingi dan membesarkan anaknya setelah rumah tangganya berakhir. (Ilustrasi: Satuspirit Media) |
Satuspirit — Tidak semua kisah rumah tangga berakhir seperti yang diharapkan. Ada yang bertahan hingga usia senja, tetapi ada pula yang harus berhenti ketika usia pernikahan bahkan belum lama berjalan.
Kisah itu dialami Aep Hasan, nama samaran seorang pria asal Garut yang kini menjalani kehidupannya di Bandung.
Ia menikah ketika usianya sekitar 20 tahun. Sang istri saat itu masih berusia 17 tahun. Pernikahan berlangsung sederhana. Keduanya kemudian menjalani kehidupan sebagai pasangan suami istri hingga dikaruniai seorang anak.
Namun, setelah kehadiran buah hati, rumah tangga mereka mulai goncang.
Menurut pengakuan Aep kepada redaksi, ia mengetahui istrinya memiliki hubungan dengan pria lain (teman kerja). Hubungan tersebut, kata Aep, sudah berlangsung sekitar tiga bulan.
Bagi Aep, kenyataan itu tentu bukan perkara mudah.
Ia sempat memilih bertahan.
Bukan karena persoalan tersebut dianggap sepele, melainkan karena ada seorang anak yang harus dipikirkan.
“Saya sebenarnya sudah ingin menceraikan, cuma saya ingat sama anak. Saya berusaha mempertahankan pernikahan dulu karena baru setahun atau dua tahun, masa harus bercerai,” tuturnya.
Aep mengaku sudah mencoba berkomunikasi dan memberikan nasihat kepada istrinya. Ia bahkan menyampaikan persoalan tersebut kepada keluarga dengan harapan rumah tangganya masih bisa diselamatkan.
Namun, upaya tersebut tidak membuat keadaan kembali seperti semula.
Anak 9 Bulan Mengubah Jalan Hidupnya
Peristiwa yang paling membekas bagi Aep terjadi ketika ia sedang menjalankan aktivitasnya sebagai pedagang di sebuah pasar di Kota Bandung.
Sejak subuh ia sudah berada di tempat usahanya. Hari-harinya dihabiskan untuk berdagang hingga sore bahkan malam.
Suatu hari, sekitar pagi menjelang siang, ia dikejutkan oleh kedatangan sang istri.
Bukan untuk berbincang seperti biasanya.
Sang istri datang membawa anak mereka yang ketika itu masih berusia sekitar sembilan atau sepuluh bulan.
Kemudian, anak tersebut diserahkan kepada Aep.
Sejak saat itu, kehidupan Aep berubah.
Rumah tangganya berakhir. Namun, tanggung jawabnya sebagai seorang ayah justru baru dimulai.
Anak yang masih sangat kecil itu kemudian dibesarkan oleh Aep seorang diri.
Dari Pedagang Pasar hingga Tambal Ban
Setelah perceraian, Aep mencoba menata kembali kehidupannya.
Ia tetap berada di wilayah Bandung. Dari sebelumnya memiliki aktivitas sebagai pedagang di pasar, sekitar dua tahun terakhir ia menjalani pekerjaan sebagai tukang tambal ban.
Bagi Aep, pekerjaan bukan hanya soal mencari penghasilan.
Ada seorang anak yang harus ia besarkan.
Hari demi hari dilaluinya sebagai ayah sekaligus orang tua tunggal.
Waktu berjalan.
Anaknya yang dahulu masih bayi kini sudah tumbuh besar dan menyelesaikan pendidikan SMP.
Hampir 14 tahun telah berlalu sejak perceraian itu.
Namun, selama rentang waktu tersebut, Aep memilih tidak menikah lagi.
Alasannya sederhana.
Ia ingin terlebih dahulu memastikan anaknya tumbuh dan memiliki masa depan.
“Saya ingin fokus mengurus anak. Saya ingin lihat dulu anak saya besar,” katanya.
Menariknya, setelah bertahun-tahun berlalu, menurut pengakuan Aep, mantan istrinya sempat dua kali mengajaknya untuk kembali membangun rumah tangga.
Namun, Aep memilih menolak.
Ia mengatakan tidak ingin kembali mengulang kehidupan rumah tangga yang pernah membuatnya terluka.
Terlebih, anak yang sejak kecil diasuhnya kini sudah tumbuh besar.
“Dia ingin menikah lagi dengan saya, ingin balik lagi. Bahkan anaknya sudah besar ingin dibawa oleh ibunya. Saya tidak mau. Anak sudah besar, sudah diurus dari kecil, sekarang sudah besar, mau diambil, saya tidak mau,” ungkapnya.
Kini Aep mengaku lebih tenang menjalani kehidupannya bersama sang anak.
Soal menikah lagi?
Ia tidak sepenuhnya menutup kemungkinan tersebut.
Namun, waktunya belum menjadi prioritas.
“Mungkin saya juga ingin menikah lagi kalau melihat anak sudah sukses. Mau lanjut atau tidak, itu terserah anaknya,” ujarnya.
Pesan Inspiratif
Kisah Aep tidak Hanyar cerita tentang perceraian.
Di balik rumah tangga yang gagal dipertahankan, ada seorang ayah yang memilih mengambil tanggung jawab dan tidak meninggalkan anaknya.
Ada pula pelajaran bahwa membangun rumah tangga bukan hanya soal rasa cinta.
Diperlukan kesiapan emosional, mental, sosial, komunikasi, ekonomi, serta kemampuan menghadapi konflik dan tanggung jawab sebagai pasangan maupun orang tua.
Dalam konteks perkawinan anak, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) menyebut perkawinan pada usia anak berkaitan dengan berbagai risiko, antara lain ketidaksiapan menjalankan peran keluarga, persoalan psikologis, kekerasan dalam rumah tangga dan perceraian. Kemen PPPA juga menekankan pentingnya kematangan psikologis dan kesiapan dalam membangun keluarga.
Saat ini, berdasarkan UU Nomor 16 Tahun 2019, batas minimal usia perkawinan bagi laki-laki dan perempuan adalah 19 tahun, dengan dispensasi melalui pengadilan dalam kondisi tertentu.
BKKBN juga menekankan bahwa persiapan kehidupan berkeluarga bukan hanya menyangkut usia, tetapi mencakup kesiapan fisik, mental-emosional, finansial dan sosial.
Karena itu, kisah Aep tidak seharusnya dibaca sebagai kesimpulan bahwa “menikah muda pasti berakhir dengan perceraian.”
Setiap rumah tangga memiliki persoalan dan penyebab yang berbeda.
Namun, kisah tersebut dapat menjadi pengingat bahwa keputusan menikah membutuhkan kesiapan yang jauh lebih besar daripada sekadar kesiapan untuk mengucapkan akad.
Reporter: Alifa Fajri
Editor: Restu Nugraha
(*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar