![]() |
| Jaringan kabel komunikasi dan internet yang menjadi bagian dari infrastruktur penyebaran informasi di era digital. |
Satuspirit – “Bukankah media sosial itu sama saja dengan media online?” |
Pertanyaan itu muncul dari Yudi, seorang penggiat media sosial, ketika berbincang dengan Brata di sebuah kafe.
Yudi heran melihat banyak brand menawarkan publikasi melalui media online dengan tarif tertentu.
“Kenapa harus bayar media online? Bukankah sekarang semua orang bisa promosi lewat TikTok, Facebook atau YouTube?” tanyanya.
Brata tersenyum.
“Di situlah banyak orang keliru. Sama-sama menggunakan internet, bukan berarti media sosial, media online dan media massa itu sama.”
Yudi penasaran.
“Lantas apa bedanya?”
Media Sosial: Siapa Saja Bisa
“Media sosial itu platform,” jawab Brata.
Contohnya Facebook, YouTube, TikTok, Instagram dan X.
Siapa pun bisa membuat akun dan mengunggah konten. Pelajar, pedagang, pekerja, pengusaha, bahkan orang yang tidak memiliki latar belakang jurnalistik pun bisa menjadi pengguna sekaligus pembuat konten.
Kekuatan media sosial ada pada kecepatan, interaksi, komunitas dan potensi viral.
“Satu video bisa ditonton ribuan bahkan jutaan orang tanpa harus menjadi wartawan,” kata Brata.
Yudi mengangguk.
“Berarti konten kreator belum tentu media?”
“Betul.”
Media Online: Ada Website dan Redaksi
“Kalau media online?”
“Media online adalah media berbasis internet. Contohnya portal berita atau situs media yang menyajikan berita dan informasi melalui website.”
Menurut Brata, media online yang menjalankan fungsi jurnalistik memiliki proses kerja yang berbeda. Ada redaksi, penulis atau wartawan, penyuntingan, verifikasi informasi, etika jurnalistik dan tanggung jawab terhadap berita yang dipublikasikan.
“Jadi bukan sekadar membuat akun lalu mengunggah?”
“Beda. Ada proses jurnalistik dan ada tanggung jawab terhadap informasi.”
Kekuatan media online antara lain berita bisa cepat diperbarui, mudah ditemukan melalui mesin pencari, dapat dibaca kapan saja, dan memiliki jejak digital melalui halaman website.
Lalu Apa Itu Media Massa?
“Kalau media massa?”
“Media massa cakupannya lebih luas.”
Media massa adalah sarana penyampaian informasi kepada masyarakat dalam jumlah besar. Bentuknya bisa berupa koran, majalah, radio, televisi, hingga media online yang menjalankan fungsi pers.
Jadi, media online bisa menjadi bagian dari media massa, tetapi istilah media online dan media massa tidak sepenuhnya sama.
“Berarti media online itu berdasarkan medianya menggunakan internet, sedangkan media massa lebih kepada fungsi dan jangkauan penyampaian informasinya?”
“Nah, tepat.”
Jadi Jangan Disamakan
Brata kemudian mengambil secarik kertas dan menuliskan tiga kata:
Media sosial = Platform, seperti: Facebook, Tiktok, YouTube, Line dan sejenisnya.
Media Online = Media Berbasis Internet, seperti: detik.com, kompas.com, satuspirit.my.id, sportsjabar.com dan sejenisnya
Media Massa = Media khalayak luas, seperti koran, radio dan televisi.
“Ini yang sering tertukar,” katanya.
Media sosial kuat dalam viralitas dan interaksi.
Media online kuat dalam publikasi berita, informasi, pencarian melalui mesin pencari dan jejak digital.
Media massa memiliki kekuatan dalam jangkauan informasi kepada khalayak luas dan fungsi penyebaran informasi publik.
Yudi akhirnya mengerti.
“Jadi karena semuanya ada di HP dan sama-sama memakai internet, bukan berarti semuanya sama?”
“Persis.”
Brata menutup pembicaraan dengan kalimat sederhana.
“Platformnya bisa sama-sama digital. Tetapi fungsi, proses kerja, dan tanggung jawabnya berbeda.”
Yudi menyeruput kopinya.
“Pantas saja brand tidak selalu melihat jumlah followers saja.”
Brata tersenyum.
“Karena angka followers bukan satu-satunya ukuran nilai sebuah publikasi.”
Di era banjir informasi seperti sekarang, memahami perbedaan media sosial, media online dan media massa bukan lagi sekadar soal istilah.
Reporter: Alifa Fajrin
Editor: Restu Nugraha
(*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar