![]() |
| Suasana keluarga yang memilih hidup selaras dengan kebutuhan, bukan gengsi. (Foto satuspirit) |
Ringkasan Artikel
Di tengah derasnya budaya pamer dan glamorisasi hidup di era digital, sebuah keluarga memilih jalan berbeda: hidup sederhana meski sebenarnya mampu hidup mewah.
Melalui kisah nyata seorang ayah dan keluarganya, artikel ini mengajak pembaca memahami bahwa gaya hidup bukan soal kemampuan finansial semata, melainkan tentang kesadaran, nilai, dan tanggung jawab terhadap keluarga serta lingkungan sekitar. Dari cara berpakaian, mengatur pengeluaran, hingga mendidik anak, hidup sederhana justru menghadirkan ketenangan, kedewasaan, dan makna hidup yang lebih dalam.
Artikel ini menjadi refleksi bahwa kesederhanaan bukan kekurangan, melainkan pilihan sadar untuk hidup lebih seimbang di tengah hiruk-pikuk dunia digital.
satuspirit.my.id - Di era digitalisasi hari ini, gaya hidup sering kali diukur dari apa yang tampak di layar. Media sosial penuh dengan potret liburan mahal, pakaian bermerek, kopi kekinian, rumah megah, hingga kendaraan mewah. Pelan-pelan, standar hidup pun bergeser. Bukan lagi soal cukup atau nyaman, melainkan soal terlihat berhasil dan dianggap “naik kelas”.
Namun, tidak semua orang yang mampu secara finansial memilih jalan itu.
Salah satunya adalah Niban Hasta, seorang pengusaha menengah ke atas yang secara ekonomi sebenarnya sangat memungkinkan untuk hidup mewah dan glamor. Ia memiliki usaha yang stabil, rumah yang nyaman, kendaraan pribadi yang tergolong mewah, dan penghasilan yang jika mau cukup untuk mengikuti arus hedonisme urban.
Niban tinggal bersama istrinya dan dua orang anak di sebuah lingkungan yang relatif sederhana. Meski mampu pindah ke kawasan elite atau membangun citra sosial tertentu, ia justru memilih hidup yang menurutnya cukup, wajar, dan relevan dengan lingkungannya.
“Saya bukan anti kemewahan,” ujar Niban suatu waktu.
“Tapi saya tidak ingin anak-anak saya tumbuh dengan standar hidup palsu.”
Baginya, hidup mewah bukan masalah. Masalahnya adalah ketika kemewahan menjadi identitas utama, lalu mengaburkan nilai-nilai dasar seperti empati, kesederhanaan, dan rasa cukup.
Dalam keseharian, Niban dikenal berpakaian sederhana. Kaos polos, kemeja biasa, sepatu yang nyaman. Tidak ada logo besar, tidak ada simbol status yang mencolok.
Bukan karena ia tidak mampu membeli merek mahal, melainkan karena ia ingin anak-anaknya memahami bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh label pakaian.
“Baju itu fungsi. Menutup tubuh, bikin nyaman, rapi. Kalau itu sudah tercapai, kenapa harus berlebihan?” katanya.
Anak-anaknya pun dibiasakan berpakaian sesuai kebutuhan. Ke sekolah dengan sepatu yang awet, tas yang layak, tanpa tuntutan harus selalu mengikuti tren terbaru.
Soal makanan, keluarga Niban tidak anti nongkrong atau jajan. Namun, mereka lebih sering makan di rumah. Masakan sederhana, menu rumahan, dan sesekali makan di luar sebagai bentuk kebersamaan bukan ajang pamer.
“Sekarang ini banyak orang makan bukan karena lapar, tapi karena konten,” ujar istrinya.
Mereka sepakat bahwa makanan bukan sekadar gaya hidup, tapi bagian dari pendidikan keluarga: mengenalkan rasa syukur, kesehatan, dan kebersamaan.
Di tengah lingkungan yang makin kompetitif dan penuh perbandingan, Niban justru ingin rumahnya menjadi tempat paling netral bagi anak-anak.
Tidak ada tuntutan harus selalu unggul. Tidak ada tekanan harus terlihat “lebih” dari orang lain.
“Dunia di luar sudah keras. Rumah jangan ikut keras,” katanya.
Anak-anaknya diajak memahami uang sebagai alat, bukan tujuan. Diajak berdiskusi tentang kebutuhan dan keinginan. Tentang menabung, berbagi, dan menahan diri.
Pilihan Sadar di Tengah Digitalisasi
Niban sadar, hidup sederhana di era digital bukan perkara mudah. Setiap hari anak-anak disuguhi standar hidup tinggi dari layar ponsel. Tanpa pendampingan, nilai-nilai itu bisa dengan mudah membentuk cara pandang mereka.
Karena itu, ia memilih menjadi contoh, bukan sekadar pemberi nasihat.
“Saya ingin anak-anak melihat langsung bahwa hidup yang tenang itu mungkin. Bahwa bahagia tidak selalu harus mahal.”
Pilihan hidup Niban bukan berarti anti modern, anti sukses, atau anti kemajuan. Ia tetap bekerja keras, memanfaatkan teknologi, dan berkembang secara ekonomi.
Namun ia memilih hidup sadar: tahu kapan cukup, tahu batas, dan tahu arah.
Di tengah arus glamorisasi yang kuat, gaya hidup seperti ini justru menjadi bentuk perlawanan yang paling elegan tanpa teriak, tanpa menghakimi, tapi memberi contoh.
Kisah keluarga Niban Hasta menjadi pengingat bahwa:
Tidak ikut pamer bukan berarti tertinggal
Mampu menahan diri adalah bentuk kedewasaan
Di era digitalisasi, mungkin tantangan terbesar bukan mencari uang, melainkan menjaga kewarasan dan nilai hidup.
Dan kadang, keputusan paling berani bukanlah hidup paling mewah melainkan hidup paling jujur dengan diri sendiri.
Pesan Inspiratif
Di tengah arus digital yang terus memamerkan kemewahan dan kesuksesan semu, pilihan hidup sederhana seperti yang dijalani keluarga Niban Hasta menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari apa yang terlihat, melainkan dari apa yang dirasakan. Hidup yang selaras dengan kemampuan, lingkungan, dan nilai diri justru melahirkan ketenangan yang sulit dibeli dengan materi. Ketika seseorang mampu menahan diri di saat ia mampu berlebihan, di situlah kematangan hidup diuji. Sebab pada akhirnya, hidup bukan soal siapa yang paling mencolok di mata orang lain, tetapi siapa yang paling jujur dan damai saat pulang ke rumahnya sendiri.
(*)

Social Media