![]() |
| Ilustrasi, seorang wanita berdiri menghadap gedung-gedung mewah realita hidup kemewahan dibanding dengan hidup sederhana (Foto satuspirit) |
Ringkasan Artikel
Di tengah gempuran budaya pamer dan gaya hidup glamor di era digital, hidup sederhana justru menjadi pilihan yang menenangkan dan relevan. Artikel ini mengulas bagaimana gaya hidup bukan soal mahal atau murah, melainkan tentang kesadaran diri, kejujuran pada kemampuan, dan ketenangan batin. Melalui kisah Nita Herlina, pekerja swasta yang bergaul dengan kalangan atas namun tetap hidup sesuai kemampuannya, pembaca diajak melihat bahwa bergaya tanpa memaksa adalah bentuk kedewasaan dan kemewahan baru di zaman sekarang.
satuspirit.my.id - Di era media sosial dan digitalisasi hari ini, gaya hidup tak lagi sekadar soal kebutuhan. Ia telah menjelma menjadi simbol status, identitas, bahkan ajang pembuktian diri. Apa yang dikenakan, apa yang dimakan, ke mana pergi, hingga dengan siapa bergaul—semuanya seolah harus terlihat “layak tayang”.
Tak sedikit orang akhirnya terjebak dalam perlombaan gaya hidup yang tak seimbang dengan kemampuan. Padahal, hidup bukan soal siapa yang paling mahal tampilannya, melainkan siapa yang paling jujur pada dirinya sendiri.
Di tengah arus globalisasi, konsumerisme, dan budaya pamer (flexing) yang kian kuat, muncul satu pertanyaan penting: bagaimana caranya tetap punya gaya, tetap relevan dengan zaman, tanpa harus memaksakan diri dan mengorbankan masa depan?
Gaya Hidup Bukan Soal Banyaknya Uang
Tak bisa dimungkiri, bagi mereka yang berkantong tebal, memilih pakaian mahal, makanan premium, atau gaya hidup glamor bukan perkara sulit. Namun realitas mayoritas masyarakat Indonesia berbeda. Banyak yang hidup dengan penghasilan terbatas, pas-pasan, bahkan harus berhitung cermat agar kebutuhan pokok terpenuhi.
Masalah muncul ketika standar hidup yang dipaksakan berasal dari luar kemampuan. Media sosial kerap menjadi pemicu: melihat teman sebaya memakai barang bermerek, nongkrong di kafe mahal, atau liburan ke luar negeri, membuat sebagian orang merasa “tertinggal”.
Padahal, gaya hidup seharusnya menyesuaikan hidup, bukan sebaliknya.
Fenomena utang demi gaya hidup bukan lagi hal asing. Kredit konsumtif, cicilan barang fesyen, hingga paylater sering dijadikan jalan pintas agar tetap “setara” dalam pergaulan. Tanpa sadar, banyak orang hidup dalam tekanan menipu diri sendiri demi terlihat baik-baik saja.
Di sinilah pentingnya kesadaran: bahwa mengikuti zaman tidak harus meniru semuanya. Ada jarak yang sehat antara ingin dan perlu. Ada kebijaksanaan dalam berkata, “belum sekarang”.
Nita Herlina: Elegan dengan Kesadaran Diri
Salah satu contoh nyata datang dari Nita Herlina, perempuan muda pekerja swasta dengan penghasilan sekitar lima hingga enam juta rupiah per bulan. Pergaulannya luas. Lingkungan kerjanya mempertemukannya dengan para eksekutif muda, profesional mapan, dan orang-orang dari kalangan ekonomi atas.
Dalam banyak pertemuan, Nita kerap menjadi satu-satunya perempuan dengan gaya yang jauh lebih sederhana. Tasnya bukan keluaran rumah mode ternama. Pakaiannya rapi, bersih, dan pantas namun harganya jauh di bawah milik rekan-rekannya.
“Sebagai perempuan, wajar kalau ada keinginan. Saya juga suka lihat baju bagus, sepatu mahal,” kata Nita kepada redaksi.
“Tapi saya belajar berdamai dengan diri sendiri. Tidak semua yang kita inginkan harus kita miliki sekarang.” imbuhnya seraya tersenyum.
Baginya, gaya bukan tentang label, melainkan tentang sikap. Ia memilih berpakaian sesuai kemampuan, menabung untuk masa depan, dan menjaga agar gaya hidupnya tidak menjadi beban psikologis.
Menariknya, Nita tidak merasa minder. Ia tetap percaya diri, supel, dan disukai banyak orang. Kepercayaan dirinya tidak dibangun dari merek pakaian, melainkan dari cara membawa diri, etika berbicara, dan konsistensi dalam bekerja.
“Yang bikin kita kelihatan berkelas itu bukan harga baju, tapi cara kita menghargai diri sendiri,” ujar wanita berkacamata ini.
Sikap inilah yang sering terlupakan di tengah budaya visual hari ini. Banyak orang lupa bahwa keanggunan sejati datang dari ketenangan, bukan dari pameran.
Gaya hidup sederhana bukan berarti anti-kemajuan atau anti-fashion. Justru sebaliknya, ia menuntut kecerdasan lebih. Memilih potongan yang tepat, warna netral, bahan yang tahan lama, dan fungsi yang sesuai kebutuhan adalah bentuk kecerdasan gaya hidup modern.
Dalam konteks ini, hidup sederhana bukan simbol kekurangan, tapi tanda kedewasaan.
Tekanan Sosial dan Keberanian untuk Berkata Cukup
Banyak orang terjebak bukan karena tidak mampu, tetapi karena takut dianggap tidak mampu. Padahal, keberanian untuk berkata “cukup” adalah kemewahan tersendiri di zaman sekarang.
Nita mengaku, ada masa ia merasa goyah. Namun ia kembali pada prinsip awal: hidup selaras dengan kemampuan, bukan dengan ekspektasi orang lain.
“Kalau hidup kita tenang, tidur nyenyak, dan tidak dikejar tagihan, itu sudah kemewahan,” katanya sambil membetulkan hijabnya.
Di tengah dunia yang gemar memamerkan pencapaian, mungkin sudah saatnya kita mempopulerkan gaya hidup yang lebih jujur. Gaya hidup yang tidak memaksa, tidak semu, dan tidak menjebak.
Hidup sederhana bukan berarti menolak mimpi. Justru sebaliknya—ia memberi ruang agar mimpi tumbuh tanpa dibebani kepalsuan.
Pesan Inspiratif
Hidup bukan tentang terlihat paling mampu, melainkan tentang sejauh mana kita jujur pada diri sendiri. Di tengah dunia yang gemar pamer, keberanian untuk hidup sederhana adalah bentuk kemewahan baru tenang, utuh, dan bermakna.
(*)


Social Media