![]() |
| Seorang perempuan berhijab memandang hujan dari balik jendela, seolah tenggelam dalam perasaan rindu, dilema, dan harapan di tengah kisah cinta yang beda agama. |
Satuspirit - Cinta memang sering disebut buta. Ia datang tanpa permisi, tanpa melihat status sosial, latar belakang, bahkan keyakinan. Ketika hati sudah bicara, logika sering kali hanya menjadi penonton.
Begitulah yang dialami Ayu Ningtias.
Gadis berhijab kelahiran tahun 2002 ini tak pernah membayangkan bahwa ia akan jatuh cinta pada seseorang yang berbeda keyakinan. Ayu adalah seorang Muslimah, sementara pria yang kini mengisi hatinya beragama Kristen Katolik.
Dan Ramadhan 2026 ini menjadi momen yang tak biasa bagi keduanya: Ramadhan pertama dalam hubungan lintas iman.
Kisah mereka tidak dimulai dari tempat romantis atau skenario dramatis. Justru sebaliknya sederhana, bahkan biasa.
Ayu, lulusan SMA yang kini bekerja di sebuah perusahaan jasa keuangan, bertemu pria itu saat sama-sama beristirahat di sebuah kedai dalam perjalanan.
Obrolan ringan berubah menjadi percakapan panjang. Nomor WhatsApp bertukar. Pertemuan demi pertemuan pun terjadi.
“Awalnya biasa saja, cuma ngobrol. Tapi lama-lama kok nyaman,” tutur Ayu.
Intensitas komunikasi yang rutin bahkan hampir setiap hari membuat keduanya semakin dekat. Mereka juga bertemu setidaknya seminggu sekali.
Perasaan itu tumbuh perlahan… sampai akhirnya cinta benar-benar hadir.
Yang mengejutkan, Ayu baru mengetahui perbedaan agama setelah perasaan sudah telanjur dalam.
Ia sempat terpukul. Namun saat itu juga ia menyadari satu hal: melupakan orang yang sudah masuk ke hati tidak semudah memutuskan hubungan di kepala.
“Sudah terlanjur sayang,” katanya pelan.
Logika tahu ada tembok besar di depan. Tapi hati terus melangkah.
Hubungan mereka tidak selalu mudah. Banyak momen yang membuat Ayu harus berhadapan dengan realita perbedaan iman.
Salah satunya ketika ia beberapa kali mengantar sang kekasih ke gereja.
Ia tidak masuk. Hanya menunggu di luar.
“Saya pernah diajak masuk, tapi saya di luar saja,” ujarnya.
Sebuah sikap sederhana, tapi penuh makna: menghormati tanpa mengorbankan keyakinan.
Masalah terbesar justru datang dari rumah.
Ketika orang tua Ayu mengetahui hubungan tersebut, mereka langsung menolak keras.
“Kan kamu Muslim, berjilbab, sering ikut pengajian. Masa pacaran sama Kristen? Masih banyak laki-laki Islam,” kata Ayu menirukan ucapan ibunya.
Ayu mencoba menjauh. Berusaha mengurangi perasaan. Bahkan mencoba melupakan.
Tapi lagi-lagi, hati tidak mudah diatur.
“Saya berusaha melupakan, tapi tidak bisa semudah itu.” imbuh gadis pecinta bola voli ini.
Meski berbeda keyakinan, keduanya berusaha saling menghormati.
Sang kekasih pernah mengantar Ayu ke pengajian. Mereka saling mendukung aktivitas keagamaan masing-masing tanpa memaksakan.
Hubungan mereka pun sempat mendapat angin segar ketika keluarga si pria mengundang Ayu datang ke rumah.
Ayu diterima dengan hangat. Ia berbincang akrab dengan orang tua, kakak, dan adik sang kekasih.
Namun justru di situlah ujian terbesar muncul.
Ajakan Menikah… dengan Syarat
Setelah pertemuan keluarga tersebut, sang pria mengungkapkan keinginan untuk menikah.
Tapi ada satu syarat: Ayu harus pindah agama.
“Dia mengajak saya masuk Kristen. Katanya juga saran dari orang tuanya,” ungkap Ayu.
Situasi itu membuat Ayu berada di persimpangan paling sulit dalam hidupnya.
Di satu sisi, ia mencintai pria itu.
Di sisi lain, ia tidak ingin kehilangan imannya.
Dengan suara lembut, ia menolak.
Ramadhan yang Penuh Makna
Meski begitu, hubungan mereka belum berakhir.
Ramadhan 2026 menjadi momen yang unik sekaligus emosional.
Sang kekasih tetap menunjukkan perhatian: mengingatkan sahur, mengirim makanan berbuka, bahkan mengajak buka puasa bersama.
Sebuah bentuk cinta yang hangat… tapi sekaligus rumit.
Ayu Tak Mau Memaksa Tapi Juga Tak Mau Dipaksa
Ayu memiliki prinsip yang jelas.
Ia tidak ingin memaksa sang kekasih masuk Islam demi menikah. Baginya, keyakinan harus lahir dari hati, bukan dari tekanan atau romantisme.
“Saya ingin kalau dia masuk Islam, karena kesadaran sendiri.” tandas anak pertama dari dua bersaudara ini.
Ayu pun sering berdiskusi tentang agama, tentang Islam, bahkan tentang posisi Nabi Isa dalam ajaran Islam.
Dan perlahan, ia melihat perubahan kecil.
Tanda-Tanda Ketertarikan
Sebelum Ramadhan, sang pria mulai banyak bertanya.
Tentang sholat.
Tentang makna ibadah.
Tentang Islam secara umum.
Bahkan setelah beberapa waktu tidak bertemu, ketika mereka kembali berkomunikasi, pertanyaan-pertanyaan itu semakin sering muncul.
“Seperti ada ketertarikan,” kata Ayu.
Bagi Ayu, itu bukan kemenangan tapi harapan.
Siap Mengakhiri Jika Tak Sejalan
Meski masih bertahan, Ayu sudah menyiapkan kemungkinan terburuk.
Jika perbedaan keyakinan tetap tidak menemukan titik temu, ia memilih mengakhiri hubungan — meski harus menanggung luka besar.
“Kalau memang tidak bisa satu keyakinan, saya akan mundur.”
Bukan karena tidak cinta.
Justru karena cintanya terlalu besar untuk dipaksakan melawan iman.
Ketika Cinta dan Iman Berjalan Beriringan
Kisah Ayu adalah potret nyata dilema banyak anak muda masa kini.
Cinta lintas agama bukan sekadar soal perasaan dua orang tapi juga tentang keluarga, keyakinan, masa depan, dan identitas diri.
Ramadhan bagi Ayu bukan hanya bulan puasa.
Ia menjadi ruang perenungan: tentang cinta, tentang pilihan hidup, dan tentang keberanian menjaga iman.
Karena pada akhirnya, cinta sejati bukan yang memaksa berubah melainkan yang menghormati, memahami, dan memberi ruang bagi keyakinan masing-masing.
Dan mungkin… di situlah ujian sebenarnya dari cinta.
(*)


Social Media