Ringkasan Artikel
Bazar Ramadan di Perumahan Alam Sanggar Indah, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, menjadi pusat keramaian warga setiap sore selama bulan puasa. Awalnya sepi pada siang hari, area bazar mulai dipadati ribuan pengunjung menjelang waktu berbuka. Beragam makanan tradisional hingga kekinian tersedia, menjadikannya destinasi favorit untuk ngabuburit keluarga maupun anak muda. Para pedagang merasakan peningkatan omzet signifikan. Bazar ini tidak hanya menggerakkan ekonomi warga, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan masyarakat selama Ramadan.
Satuspirit - Pukul 15.12 WIB, suasana di area Bazar Ramadan Perumahan Alam Sanggar Indah masih terlihat renggang. Lapak-lapak berderet rapi di bawah tenda warna-warni, tetapi sebagian besar pedagang baru saja datang. Mereka sibuk menata meja, menggantung spanduk dagangan, menyiapkan kompor, hingga merapikan aneka makanan dan minuman yang nantinya akan jadi incaran pemburu takjil.
Bazar Ramadan yang berada di wilayah perbatasan dua desa—pDesa Citapen dan Desa Tanjungwangi, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat ini memang baru benar-benar “hidup” menjelang sore.
Beberapa pedagang terlihat masih membungkus bahan makanan. Ada yang mengiris kol, mencampur adonan, menuang saus, hingga menyiapkan gelas plastik untuk minuman segar. Aroma gorengan yang baru diangkat dari minyak panas mulai menyebar pelan di udara.
Di sisi lain, petugas parkir dan pengatur lalu lintas tampak santai. Sebagian duduk sambil berbincang dengan rekan-rekannya, sebagian lagi berdiri memantau area. Belum banyak kendaraan yang masuk. Suasana masih tenang, bahkan cenderung lengang.
Namun, ketenangan itu hanyalah “pemanasan”.
Jam 4 Sore: Gelombang Pengunjung Mulai Datang
Sekitar pukul 16.00 WIB, suasana berubah drastis.
Pengunjung mulai berdatangan dari berbagai arah. Tidak hanya warga sekitar Perum Alam Sanggar Indah dan Kecamatan Cihampelas, tetapi juga dari Batujajar, Cililin, Sindangkerta, Babakan, hingga Cimahi.
Mayoritas datang menggunakan sepeda motor. Area parkir yang luas membuat kendaraan tertata rapi, sementara petugas sigap mengarahkan arus keluar-masuk agar tetap lancar.
Jalanan yang sebelumnya sepi mendadak penuh. Suara klakson, obrolan, dan tawa bercampur dengan teriakan pedagang yang menawarkan dagangan.
“Takjil… takjil… masih hangat!”
“Es jeruk segar…!”
“Martabak telor siap!”
Diperkirakan, jumlah pengunjung setiap hari mencapai 3.000 hingga 4.000 orang, bahkan bisa tembus 5.000–6.000 orang pada hari ramai.
Surga Takjil: Tradisional hingga Kekinian
Salah satu daya tarik utama bazar ini adalah keberagaman menu. Hampir semua jenis makanan untuk berbuka tersedia.
Mulai dari yang tradisional seperti kolak, gorengan, cendol, lupis, hingga jajanan kekinian seperti sempol, pisang nugget, minuman boba, dan berbagai street food modern.
Aroma manis gula merah bercampur dengan gurihnya minyak goreng dan wangi santan menciptakan sensasi yang menggoda siapa saja yang lewat.
Tak heran, banyak pengunjung datang bukan hanya untuk membeli makanan, tetapi juga untuk sekadar “wisata kuliner Ramadan”.
Tempat Asik Ngabuburit Anak Muda
Bazar ini juga menjadi tempat favorit remaja untuk menghabiskan waktu menunggu adzan magrib.
Banyak ABG usia SMP hingga SMA terlihat berjalan kaki berkelompok. Ada yang datang bersama teman, ada yang berduaan dengan pasangan, ada juga yang sendirian alias “jomblo”.
Mereka tampak menikmati suasana—berfoto, tertawa, mencoba jajanan baru, atau sekadar keliling melihat-lihat.
Ngabuburit di sini bukan sekadar menunggu waktu berbuka, tapi sudah menjadi aktivitas sosial yang menyenangkan.
Ramah Keluarga: Anak-Anak Juga Punya Dunia Sendiri
Bagi orang tua yang membawa anak kecil, tak perlu khawatir.
Di sekitar area alun-alun bazar terdapat wahana permainan khusus anak. Mulai dari odong-odong hingga permainan sederhana lainnya yang cukup membuat anak betah.
Sementara orang tua berburu takjil, anak-anak bisa bermain dengan aman di area yang luas dan tertata.
Hal ini membuat bazar tidak hanya ramai oleh remaja, tetapi juga keluarga.
Pedagang Merasakan Berkah Ramadan
Bagi para pedagang, bazar ini menjadi ladang rezeki yang sangat berarti.
Deril, penjual sempol dan jeruk peras, mengaku omzetnya meningkat drastis dibanding hari biasa.
“Biasanya kalau jualan normal paling Rp200–300 ribu. Di bazar bisa di atas Rp1 juta. Kalau hujan paling Rp700–800 ribu,” ujarnya.
Ia berharap penjualannya terus meningkat selama Ramadan.
“Mudah-mudahan makin laris lagi setelah ikut bazar ini.
Ika, penjual pisang nugget seharga Rp6.000 per kotak, juga merasakan hal serupa.
Ia mengaku sangat bersyukur bisa berjualan di bazar.
“Alhamdulillah ada peningkatan penjualan dibanding biasa.”
Namun, ia juga mengungkapkan sisi lain yang tak kalah penting: cuaca.
Saat hujan turun, penjualan bisa merosot tajam.
“Kalau ramai bisa sampai 50 box. Tapi waktu hujan kemarin cuma laku 3 box,” katanya.
Meski begitu, ia tetap optimistis.
“Mudah-mudahan selama sebulan ini hujan tidak sering turun.”
Minggu Pertama yang Menjanjikan
Fauziah, pedagang martabak telur dan es pisang ijo, mengatakan penjualannya belum terlalu tinggi karena bazar masih memasuki minggu pertama.
“Alhamdulillah bisa ikut lagi. Lumayan, semoga makin banyak pembeli karena masih lama bazarnya.”
Bagi pedagang, konsistensi keramaian adalah kunci. Biasanya, jumlah pengunjung meningkat setelah pertengahan Ramadan.
Pengunjung: Tempatnya Asik dan Lengkap
Bukan hanya pedagang yang merasakan manfaat, pengunjung pun memberikan respons positif.
Emi Sintia, seorang ibu rumah tangga, mengaku sudah empat kali datang ke bazar ini.
“Menunya banyak, tinggal pilih. Baguslah ada bazar seperti ini.”
Ia juga menilai lokasi bazar nyaman dan luas.
“Tempatnya asik, banyak pilihan makanan.”
Baginya, bazar Ramadan bukan sekadar tempat membeli takjil, tetapi juga hiburan keluarga.
Kerja Keras Panitia di Balik Layar
Kesuksesan bazar ini tidak lepas dari peran pengurus Forum Alam Sanggar Indah dan petugas bazar.
Mereka sudah bersiap sejak pukul 15.00 WIB setiap hari mengatur area, memastikan keamanan, hingga menjaga ketertiban.
Tujuannya satu: membuat pengunjung dan pedagang sama-sama nyaman.
Ramadan yang Menghidupkan Ekonomi dan Kebersamaan
Bazar Ramadan bukan sekadar tempat jual beli. Ia menjadi ruang sosial yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat.
Pedagang kecil mendapat kesempatan meningkatkan penghasilan. Warga mendapatkan tempat berkumpul. Anak muda punya ruang berekspresi. Keluarga memiliki alternatif rekreasi murah meriah.
Semua berpadu dalam suasana khas Ramadan yang hangat dan penuh kebersamaan.
Saat adzan magrib berkumandang, sebagian pengunjung langsung berbuka di tempat, sebagian pulang membawa kantong penuh makanan untuk keluarga di rumah.
Dan keesokan harinya, siklus itu akan terulang lagi dari sepi, lalu ramai, kemudian kembali sunyi setelah malam tiba.
Begitulah denyut kehidupan di Bazar Ramadan Alam Sanggar Indah.
Tempat sederhana di perbatasan dua desa, tetapi mampu menjadi pusat keramaian, rezeki, dan kebahagiaan selama sebulan penuh.
(*)



Social Media