satuspirit.my.id -Kemajuan pariwisata Jawa Barat terus menunjukkan geliat positif. Hal itu tercermin dalam penyelenggaraan Travel Mart Jabar Istimewa 2026 yang diikuti 58 seller unggulan dari Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Daerah Istimewa Yogyakarta, serta menghadirkan 102 buyer potensial dari agen perjalanan wisata dan mitra bisnis pariwisata. Melalui skema business to business (B2B), kegiatan ini diharapkan mampu mendorong transaksi pariwisata sekaligus memperkuat pergerakan industri wisata Jawa Barat.
Namun di tengah optimisme tersebut, Ketua Umum Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (Parwindo) Jawa Barat, Benny Iskandar, menegaskan bahwa potensi besar Jawa Barat harus diimbangi dengan kolaborasi lintas sektor agar tetap eksis di tengah persaingan destinasi nasional.
“Potensi pariwisata Jawa Barat besar, tapi kita harus sama-sama meningkatkan. Pemerintah, pelaku usaha, dan asosiasi harus berjalan bersama supaya Jawa Barat tetap eksis,” ujar Benny saat Travel Mart Jabar Istimewa 2026 dan Launching Parwindo di Hotel Horizon, Kota Bandung, Selasa (10 Februari 2026).
Menurut Benny, kompetisi pariwisata saat ini tidak hanya terjadi antarwilayah di Jawa Barat, melainkan juga dengan destinasi besar seperti Bali dan Yogyakarta yang konsisten menghadirkan produk dan atraksi baru.
“Bali dan Jogja setiap tahun bahkan setiap bulan selalu punya produk baru. Kalau kita tidak berinovasi, kita bisa tertinggal,” katanya.
Sebagai Ketua Parwindo, Benny mengajak seluruh seller dan buyer pariwisata untuk bersama-sama mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Barat melalui inovasi dan kerja sama berkelanjutan.
“Parwindo siap mendukung pelaku usaha. Kalau ada ide dan produk baru, kami siap membantu mempromosikan agar Jawa Barat lebih dikenal dan dikunjungi, baik oleh wisatawan lokal maupun internasional,” tegasnya.
Lebih jauh, Benny menekankan pentingnya budaya sebagai karakter utama pariwisata Jawa Barat. Menurutnya, kekuatan Jawa Barat tidak hanya terletak pada kuliner dan alam, tetapi juga pada warisan budaya yang kini mulai terpinggirkan.
“Bandung dikenal sebagai Ibu Kota Parahyangan dan Ibu Kota Asia Afrika. Itu magnet besar. Tapi sekarang yang menonjol justru kuliner, sementara budaya mulai hilang. Padahal budaya adalah karakter sebuah provinsi,” ujarnya.
Ia menilai berkurangnya kunjungan wisatawan mancanegara salah satunya disebabkan oleh memudarnya ciri khas budaya yang ingin mereka lihat secara langsung.
“Kalau orang ingin melihat Jaipong, ya harus ke Jawa Barat. Sama seperti Kecak di Bali. Wisatawan datang karena ingin tahu ciri khas daerahnya,” kata Benny.
Karena itu, Parwindo Jawa Barat berkomitmen mendorong penguatan seni, tradisi, dan kampung adat agar kembali menjadi bagian penting dalam paket wisata daerah.
“Tradisi jangan sampai hilang. Kalau hilang, kita kehilangan identitas. Parwindo akan fokus mengangkat budaya agar Jawa Barat kembali punya karakter kuat,” pungkasnya .
Acara tersebut turut dihadiri Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat, Kepala Disparbud Kota Bandung, anggota DPRD Jawa Barat Komisi IX, Fathi, serta unsur pelaku usaha dan pemangku kepentingan pariwisata dari berbagai daerah.
(*)


Social Media