BLANTERORIONv101

Profil Kepemimpinan Elang Alamsyah: Menata Desa Selacau dari Akar Permasalahan

4 Februari 2026

 

Batujajar kades selacau
Kepala Desa Selacau (berkacamata) bersama Sekertaris Desa.
(Foto satuspirit)

satuspirit.my.id - Memimpin sebuah desa bukan sekadar soal jabatan, apalagi kekuasaan. Di Desa Selacau, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, kepemimpinan justru lebih sering diuji oleh hal-hal yang tidak tertulis di atas kertas: keluhan warga, perbedaan pemahaman, hingga tuntutan yang kerap kali melampaui kewenangan desa. Di tengah dinamika itu, Elang Alamsyah memilih satu sikap tetap berdiri di tengah, mendengar, dan menjelaskan.

Sejak dilantik pada 2020, Elang menyadari bahwa Desa Selacau bukan desa tanpa persoalan. Infrastruktur jalan desa, penertiban pertanahan, hingga persoalan data kependudukan menjadi pekerjaan rumah yang tak pernah benar-benar selesai. Belum lagi soal bantuan sosial yang kerap menimbulkan salah paham di tengah masyarakat. Namun bagi Elang, inilah realitas kepemimpinan desa yang harus dijalani dengan kepala dingin.

“Kadang masyarakat melihat semua persoalan itu kewenangan desa. Padahal ada yang memang bukan ranah desa, seperti jalan besar yang menjadi kewenangan kabupaten,” tuturnya saat ditemui redaksi.

Desa Selacau sendiri memiliki wilayah yang cukup luas dengan jumlah penduduk yang terus bertambah. Letaknya yang strategis di kawasan Batujajar membuat desa ini memiliki potensi untuk terus berkembang, baik dari sisi ekonomi warga, pertanian, maupun usaha kecil yang tumbuh di tengah masyarakat. Namun potensi itu, menurut Elang, hanya bisa bergerak jika dibarengi dengan pemahaman dan kesadaran bersama.

Salah satu tantangan terberat yang ia hadapi adalah soal bantuan sosial. Tidak semua bantuan tepat sasaran, dan tidak semua masyarakat memahami mekanisme penyalurannya. Di sinilah peran komunikasi menjadi sangat penting.

“Kami terus sampaikan lewat RT, RW, kader, BPD, dan lembaga desa lainnya. Bahwa bansos itu bukan hak semua orang, tapi untuk yang benar-benar membutuhkan,” jelasnya.

Elang mengakui, dalam praktiknya, tidak semua warga bisa langsung menerima penjelasan tersebut. Ada masyarakat yang secara ekonomi tergolong mampu, namun tetap menuntut bantuan. Ada pula yang merasa tidak adil karena tidak terdata. Situasi semacam ini, menurutnya, bukan hal yang unik di Selacau.

“Jangankan di desa, di tingkat nasional juga sama. Setiap orang punya sudut pandang berbeda. Itu hal yang wajar,” ujarnya.

Alih-alih bersikap reaktif, Elang memilih pendekatan persuasif. Ia menyadari bahwa membangun desa tidak cukup hanya dengan pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan manusia. Edukasi menjadi kunci utama agar masyarakat memahami batas kewenangan, hak, dan kewajiban masing-masing.

Di sektor infrastruktur, Elang menyebut bahwa sejak awal masa kepemimpinannya, persoalan jalan desa menjadi salah satu aspirasi utama warga. Beberapa ruas jalan yang menjadi akses penting memang bukan kewenangan desa, melainkan kabupaten. Namun itu tidak membuat pemerintah desa tinggal diam.

“Kami usulkan terus, kami komunikasikan dengan pemerintah kabupaten. Alhamdulillah, jalan desa yang panjangnya tujuh kilo meter tinggal dua kilo meter lagi belum digarap dan mudah-mudahan bisa segera ditindaklanjuti di tahun 2026 ini,” katanya optimistis.

Selain infrastruktur, potensi ekonomi desa juga menjadi perhatian. Program bantuan dari pemerintah pusat maupun daerah, khususnya untuk kelompok tani dan kelompok usaha, sudah mulai dirasakan manfaatnya. Meski demikian, Elang mengakui bahwa hasilnya belum sepenuhnya maksimal.

“Kadang bantuan itu ada, tapi pengembangannya belum berjalan baik. Ini soal pendampingan dan pemahaman. Ke depan, ini yang terus kami dorong,” ujarnya.

Baginya, kepemimpinan desa bukan tentang bekerja sendiri, melainkan membangun kolaborasi antara pemerintah desa dan masyarakat. Ia berharap warga tidak hanya menjadi penerima kebijakan, tetapi juga bagian dari proses pembangunan itu sendiri.

“Pemerintah dan masyarakat harus jalan bareng. Pembangunan manusia, pembangunan fisik, dan nonfisik harus seimbang,” tegasnya.

Enam tahun memimpin Desa Selacau memberikan banyak pelajaran bagi Elang Alamsyah. Ia belajar bahwa memimpin desa berarti siap menghadapi perbedaan, kritik, bahkan kekecewaan warga. Namun dari situlah, menurutnya, proses membangun kepercayaan perlahan tumbuh.

“Kalau kita konsisten, terbuka, dan mau menjelaskan, lama-lama masyarakat akan paham,” katanya.

Ke depan, Elang berharap Desa Selacau bisa bergerak lebih maju dengan memaksimalkan potensi yang ada. Letaknya yang strategis, sumber daya manusia yang terus berkembang, serta semangat gotong royong warga menjadi modal penting untuk melangkah ke tahap berikutnya. Apalagi sejak kepemimpinannya, sarana olahraga sudah ada.

Ia menutup perbincangan dengan ajakan sederhana namun bermakna, “Mari kita dukung pembangunan desa. Tidak hanya menuntut, tapi juga ikut memahami dan menjaga.”

Di tengah segala keterbatasan dan dinamika, kepemimpinan Elang Alamsyah di elacau menjadi cermin bahwa memimpin desa adalah tentang kesabaran, komunikasi, dan keberanian untuk tetap berdiri di tengah masyarakat bahkan ketika tidak semua suara sepakat.

(*)










 yang mana 👌

Komentar