![]() |
Ringkasan Artikel
Ngabuburit menjadi salah satu tradisi paling dinanti saat bulan Ramadan. Aktivitas menunggu waktu berbuka ini dilakukan berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Banyak keluarga memanfaatkan momen ngabuburit dengan berjalan-jalan ke bazar Ramadan atau berburu kuliner murah meriah.
Seperti yang dilakukan Andi Gustiawan, seorang papa muda yang rutin mengajak istri dan anaknya ngabuburit setelah pulang kerja. Meski dengan anggaran sederhana, ia merasa bahagia dapat memberikan kebersamaan bagi keluarganya. Hal serupa juga dirasakan Rudy Hastan yang tetap menikmati ngabuburit bersama cucu-cucunya. Di tengah berbagai tantangan ekonomi, ngabuburit menjadi cara sederhana untuk merasakan kebahagiaan dan mempererat hubungan keluarga selama Ramadan.
Satuspirit — Kalau ditanya momen paling seru di bulan suci Ramadan, banyak orang pasti menjawab: ngabuburit. Tradisi menunggu waktu berbuka ini sudah seperti “ritual wajib” yang selalu dinanti setiap tahun.
Ngabuburit bukan sekadar menunggu adzan magrib. Di Indonesia, ngabuburit sudah menjadi budaya sosial yang penuh warna. Ada yang jalan-jalan ke bazar Ramadan, ada yang berburu kuliner murah meriah, ada juga yang sekadar duduk santai di taman sambil menikmati suasana sore.
Yang paling menarik, tentu saja ngabuburit bersama keluarga.
Bagi sebagian orang, momen ini terasa lebih spesial. Apalagi bagi para orang tua yang ingin menghadirkan kebahagiaan kecil untuk anak-anaknya setelah seharian berpuasa.
Hal itu juga dirasakan oleh Andi Gustiawan, seorang karyawan swasta sekaligus papa muda yang memiliki seorang anak yang masih duduk di kelas 2 SD.
Bagi Andi, Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan haus. Lebih dari itu, bulan puasa menjadi waktu yang tepat untuk menciptakan kenangan kecil bersama keluarga.
Setiap hari kerja di bulan Ramadan, Andi biasanya pulang lebih awal. Sekitar pukul tiga sore ia sudah selesai bekerja dan tiba di rumah menjelang waktu asar.
Setelah mandi dan menunaikan salat, Andi biasanya sudah punya rencana sederhana.
“Habis pulang kerja saya langsung ajak anak dan istri keliling cari jajanan. Ramadan itu rasanya beda, lebih seru,” katanya kepada redaksi.
Tidak setiap hari, tapi sampai pertengahan Ramadan tahun ini ia sudah enam kali mengajak keluarga ngabuburit.
Tujuannya tidak selalu jauh. Kadang ke bazar Ramadan, kadang ke tempat kuliner pinggir jalan yang menjual makanan sederhana.
Sebagai karyawan swasta dengan gaji yang menurutnya “pas-pasan”, Andi tidak pernah memaksakan diri untuk membeli makanan mahal.
Yang penting, menurutnya, keluarga bisa menikmati kebersamaan.
“Saya sesuaikan saja dengan budget. Biasanya beli gorengan, es-es yang murah, lima ribuan atau sepuluh ribuan,” ujarnya sambil tersenyum.
Yang mereka ingat adalah jalan-jalan sore bersama ayah dan ibu.
Dan bagi Andi, itulah inti dari Ramadan.
Andi juga tidak menampik bahwa Ramadan tahun ini terasa berbeda. Harga bahan pokok yang naik dan kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil membuat banyak keluarga harus lebih bijak mengatur pengeluaran.
Namun ia memilih melihat Ramadan dari sisi yang lebih positif.
“Memang kondisi ekonomi lagi susah. Tapi Ramadan harus tetap disyukuri,” katanya.
Baginya, kebahagiaan tidak selalu datang dari hal besar. Kadang cukup dengan berjalan bersama keluarga, membeli makanan kecil, lalu berbuka bersama di rumah.
Selain itu, Andi juga berusaha menjaga rutinitas ibadahnya. Ia mengaku hampir tidak pernah melewatkan salat tarawih selama Ramadan.
Ia berharap Ramadan tahun ini membawa perubahan baik bagi dirinya dan keluarganya.
“Mudah-mudahan iman saya makin bertambah dan kehidupan ke depan juga bisa lebih baik,” harapnya.
Ngabuburit Tak Kenal Usia
Bukan hanya keluarga muda yang menikmati ngabuburit. Tradisi ini juga tetap hidup di kalangan orang tua bahkan kakek nenek.
Seperti yang dilakukan Rudy Hastan, pria berusia 55 tahun yang kini sudah memiliki cucu.
Bagi Rudy, Ramadan justru terasa lebih ramai sejak kehadiran cucu-cucunya.
Setiap sore, ia sering mengajak mereka keluar rumah untuk menikmati suasana menjelang berbuka.
“Walaupun saya sudah berumur, tetap senang ngajak cucu-cucu ngabuburit,” katanya.
Biasanya mereka berjalan santai, membeli jajanan kecil, atau sekadar melihat keramaian bazar Ramadan.
Bagi anak-anak, pengalaman kecil seperti itu bisa menjadi kenangan yang melekat sampai dewasa.
Ngabuburit memang selalu punya cerita. Dari yang sederhana sampai yang penuh makna.
Ada yang berburu takjil bersama teman, ada yang nongkrong di taman kota, ada juga yang menghabiskan waktu bersama keluarga.
Yang pasti, suasana sore di bulan Ramadan selalu terasa berbeda.
Jalanan lebih ramai, aroma gorengan menyeruak dari berbagai sudut, dan senyum orang-orang terlihat lebih hangat.
Di tengah berbagai persoalan hidupmulai dari ekonomi, pekerjaan, hingga tekanan sosial Ramadan seperti memberikan ruang jeda bagi banyak orang.
Momen ngabuburit menjadi waktu untuk bernapas sejenak, menikmati kebersamaan, dan mensyukuri hal-hal kecil.
Bagi Andi, kebahagiaan itu terlihat dari senyum anaknya ketika memegang segelas es atau sepotong gorengan.
Bagi Rudy, kebahagiaan itu hadir ketika melihat cucunya berlari-lari kecil menjelang waktu berbuka.
Hal-hal sederhana itulah yang membuat Ramadan terasa istimewa.
Seperti banyak orang lainnya, Andi dan Rudy juga memiliki harapan yang sama.
Mereka berharap Ramadan membawa perubahan yang lebih baik, baik dalam kehidupan pribadi maupun kondisi masyarakat secara umum.
“Mudah-mudahan ekonomi ke depan lebih baik dan kehidupan masyarakat juga semakin sejahtera,” ujar Rudy.
Ramadan memang tidak selalu menghadirkan kemewahan. Namun bulan suci ini selalu membawa sesuatu yang lebih berharga: kebersamaan, kesabaran, dan harapan.
Dan selama masih ada waktu ngabuburit bersama keluarga, Ramadan akan selalu terasa hangat.
(*)


Social Media