Satuspirit - Nggak ada yang pernah tahu kapan bencana datang. Tapi satu hal yang pasti, kesiapsiagaan itu bisa dipersiapkan.
Hal itulah yang jadi semangat dalam kegiatan pelatihan peningkatan kapasitas relawan yang digelar di wilayah Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Kecamatan Cisarua dipilih sebagai titik awal. Wilayah ini baru saja mengalami kejadian yang cukup menggetarkan, khususnya di Desa Pasirlangu. Dari situ, pemerintah daerah ingin memastikan bahwa masyarakat tidak lagi hanya jadi korban, tapi juga siap menjadi garda terdepan saat bencana terjadi.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD KBB, Dedi Supriadi, SS.MM, menegaskan bahwa pelatihan ini bukan sekadar kegiatan seremonial. Ke depan, program serupa akan digelar di seluruh kecamatan di Bandung Barat.
“Rencananya kegiatan ini akan menyasar 16 kecamatan. Untuk pekan ini kita fokus di wilayah Cisarua, karena kemarin terjadi kejadian yang cukup luar biasa di Desa Pasir Langu,” ujarnya, di Hotel Narima, Lembang, Rabu, 8 April 2026.
Menurut Dedi, pelatihan ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari aparat desa, relawan, hingga forum desa tangguh bencana (Destana). Keterlibatan tersebut dinilai penting untuk membangun sinergi dalam penanggulangan bencana.
“Kita mengundang aparat desa karena perlu ada kolaborasi antara pemerintah dengan masyarakat. Penanggulangan bencana tidak bisa dilakukan sendiri,” katanya.
Ia menegaskan, pendekatan yang digunakan mengedepankan kolaborasi pentahelix, yakni melibatkan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, media, dan akademisi.
“Kalau semua unsur ini berjalan bersama, insyaallah penanganan bencana akan lebih optimal,” ucapnya.
Dalam pelatihan tersebut, para peserta dibekali berbagai keterampilan dasar kebencanaan, seperti pertolongan pertama, teknik evakuasi korban, hingga pengelolaan dapur umum.
“Kita latih mulai dari bagaimana melakukan pertolongan pertama, cara mengevakuasi korban, sampai pengelolaan dapur umum. Itu semua penting saat terjadi bencana,” jelas Dedi.
Ia mengingatkan pentingnya peningkatan kapasitas relawan agar tidak terjadi risiko saat terjun ke lapangan.
“Jangan sampai relawan yang seharusnya menolong justru ikut jadi korban. Kalau tidak dibekali ilmu dan keterampilan, itu sangat berbahaya,” tegasnya.
Selain itu, BPBD KBB juga menggandeng akademisi (UPI) untuk memberikan pemahaman terkait pengurangan risiko bencana.
“Kita juga menghadirkan tim dari akademisi untuk berkolaborasi dalam pengurangan risiko bencana. Karena ini bukan hanya soal respons, tapi juga pencegahan,” katanya.
Dedi menambahkan, bencana merupakan hal yang tidak dapat diprediksi, sehingga kesiapsiagaan menjadi hal yang mutlak diperlukan.
“Kapan dan di mana bencana terjadi, tidak ada yang tahu. Yang tahu hanya Allah. Maka yang bisa kita lakukan adalah meningkatkan kesiapsiagaan,” ujarnya.
Ia juga mengajak para relawan untuk tidak bersikap apatis, serta siap membantu di mana pun bencana terjadi.
“Kita harapkan relawan jangan apatis. Kalau ada bencana di wilayah lain, kita juga harus siap membantu. Kita harus saling mendukung,” katanya.
Menurutnya, pengalaman dalam penanganan bencana sebelumnya menunjukkan pentingnya solidaritas antarrelawan.
“Seperti kejadian di Pasirlangu, relawan bukan hanya dari KBB, tapi dari berbagai daerah ikut membantu. Itu bukti bahwa kolaborasi itu sangat penting,” ucapnya.
Di akhir, Dedi berharap pelatihan ini dapat melahirkan relawan-relawan yang siap, tanggap, dan mampu berkolaborasi dalam penanggulangan bencana.
“Kita ingin relawan di tingkat kecamatan benar-benar siap. Karena tanpa kolaborasi, penanganan bencana tidak akan optimal,” pungkasnya.
(*)


Social Media