BLANTERORIONv101

K3S Cililin Hidupkan Kaulinan Barudak, Siapkan Atlet Olahraga Tradisional

28 Juli 2026

 

Kebersamaan Ketua K3S Kecamatan Cililin, Aziz Ismail, M.Pd., bersama para guru usai pelaksanaan Festival Olahraga Tradisional (Oltrad) di Alun-alun Cililin, Selasa (28/7/2026). Semangat para pendidik menjadi motor penggerak pelestarian kaulinan barudak di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan gawai.

Satuspirit  – Riuh tawa anak-anak memenuhi Alun-alun Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (27 Juli 2026). Mereka berlari di atas egrang, berjalan dengan tarumpah panjang, hingga memainkan berbagai kaulinan barudak yang dulu akrab mengisi masa kecil generasi sebelumnya. Di tengah derasnya arus digital dan dominasi gim daring, pemandangan itu menjadi sesuatu yang mulai langka.

Melalui Festival Olahraga Tradisional (Oltrad) tingkat Kecamatan Cililin, para guru pendidikan jasmani berupaya menghidupkan kembali permainan tradisional sebagai bagian dari pelestarian budaya sekaligus pembinaan olahraga sejak usia dini.

Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Cililin, Aziz Ismail, M.Pd., mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar ajang bermain, tetapi juga menjadi langkah mengenalkan kembali olahraga tradisional kepada generasi muda.

"Tujuan kegiatan ini adalah mengembangkan olahraga tradisional agar anak-anak mengenal kaulinan barudak yang merupakan warisan budaya kita. Selain melestarikan budaya, kegiatan ini juga menjadi pembinaan prestasi olahraga tradisional," ujarnya, usai kegiatan.

Menurut Aziz, setiap tahun Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bandung Barat menggelar kejuaraan olahraga tradisional. Karena itu, sekolah memiliki peran penting menyiapkan bibit-bibit atlet sejak dini melalui guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK).

Ia menilai, perkembangan teknologi membuat anak-anak kini lebih akrab dengan telepon pintar dibandingkan permainan tradisional.

"Anak-anak sekarang lebih banyak mengenal gadget dan game online. Padahal kita punya olahraga tradisional seperti dogongan, tarumpah panjang, egrang, dan kaulinan barudak lainnya yang sangat baik untuk perkembangan fisik maupun karakter," katanya.

Aziz berharap olahraga tradisional tidak hanya dipandang sebagai permainan masa lalu, melainkan menjadi bagian dari pembelajaran di sekolah.

Selain menyehatkan tubuh, permainan tradisional juga mengajarkan kerja sama, sportivitas, keseimbangan, keberanian, hingga kecintaan terhadap budaya bangsa.

"Mudah-mudahan dari kegiatan ini lahir atlet-atlet olahraga tradisional yang mampu berprestasi di tingkat Kabupaten Bandung Barat. Yang lebih penting lagi, anak-anak semakin mencintai budaya dan olahraga warisan leluhur kita," tuturnya.

Bagi Aziz, melestarikan olahraga tradisional sama artinya dengan menjaga identitas bangsa. Jika tidak dikenalkan sejak dini, bukan tidak mungkin permainan yang pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sunda akan hilang ditelan zaman.

Melalui kegiatan seperti ini, sekolah tidak hanya mencetak siswa yang sehat secara jasmani, tetapi juga menanamkan kebanggaan terhadap budaya daerah di tengah derasnya pengaruh modernisasi.

(*)

Komentar