BLANTERORIONv101

Raih Juara 1 SVF 2.0 2026, Gisna Rahayu Tetap Merasa Masih Banyak Kekurangan

9 Agustus 2026

 

Gisna Rahayu berpose sambil membawa trofi Juara 1 Loka Swara Siliwangi Fest (SVF) 2.0 2026. Prestasi tersebut diraih dalam ajang yang digelar di IKIP Siliwangi, Minggu, 26 Juli 2026. Capaian ini menjadi bagian dari perjalanan Gisna dalam mengasah bakat vokalnya sejak sekolah dasar.

Satuspirit – Sebuah prestasi sering kali terlihat indah ketika sudah berada di panggung. Nama dipanggil sebagai juara, piala diserahkan, tepuk tangan bergema. Namun, di balik itu biasanya ada cerita panjang yang tidak terlihat: latihan, rasa gugup, kesalahan, dukungan keluarga, hingga keberanian untuk mengakui bahwa masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki.

Cerita itulah yang sedang dijalani Gisna Rahayu, gadis muda asal Bandung Barat yang terus mengasah bakat vokalnya sejak duduk di bangku sekolah dasar.

Terbaru, kerja keras tersebut kembali membuahkan hasil. Gisna berhasil meraih Juara 1 dalam Siliwangi Choir Loka Swara Siliwangi Fest (SVF 2.0) 2026, yang digelar Minggu, 26 Juli 2026, di Aula Graha Panca Bhakti IKIP Siliwangi.

Prestasi tersebut tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Namun bagi Gisna, kemenangan bukanlah alasan untuk berhenti belajar.

Justru sebaliknya.

Ia merasa perjalanan sebagai penyanyi masih panjang dan kemampuan vokalnya masih harus terus diasah.

“Alhamdulillah, benar-benar bersyukur. Terima kasih banyak terutama kepada mama dan bapak yang selalu mendukung Gisna dari awal sampai bisa mencapai titik ini,” ujar Gisna saat ditemui di Saung Nata Saigel, Jumat (7 Jumat 2026).

Bakat yang Mulai Terlihat Sejak SD

Kecintaan Gisna terhadap dunia tarik suara sebenarnya tidak muncul secara tiba-tiba.

Sejak kecil, ia sudah memiliki ketertarikan terhadap musik. Namun bakat tersebut mulai semakin terlihat ketika dirinya duduk di sekolah dasar.

Saat itu, seorang guru mulai memberikan kesempatan kepadanya untuk mencoba bernyanyi. Dari sekadar mencoba, Gisna kemudian mulai sering dipercaya tampil dalam berbagai kegiatan sekolah.

Dari sanalah rasa percaya dirinya tumbuh.

Ia mulai menyadari bahwa dunia seni suara adalah bidang yang cukup dekat dengan dirinya.

Bukan hanya lagu populer, Gisna juga memiliki ketertarikan terhadap lagu Sunda. Kecintaan terhadap seni dan budaya Sunda tersebut kemudian semakin berkembang setelah dirinya mendapat kesempatan berlatih dan tampil bersama lingkungan seni Sunda Nata Saigel, binaan Abah Ono.

Di lingkungan tersebut, kemampuan Gisna terus diasah.

Ia tidak hanya belajar bernyanyi, tetapi juga belajar bagaimana tampil di depan orang banyak, mengontrol suara, memahami karakter lagu, hingga membangun kepercayaan diri di atas panggung.

Perjalanan Gisna kemudian semakin berkembang ketika ia mulai mengikuti berbagai perlombaan.

Salah satu pengalaman yang cukup berkesan terjadi ketika dirinya mengikuti lomba yang digelar komunitas senam Cihampelas pimpinan Dedi Kosipa atau yang akrab disapa Dekos.

Dari berbagai pengalaman tersebut, Gisna semakin sering mendapatkan kesempatan tampil.

Undangan bernyanyi pun datang dari berbagai kegiatan, mulai dari acara sekolah, instansi hingga acara keluarga dan pernikahan.

Namun, perjalanan tersebut tidak selalu mulus.

Gisna justru memiliki satu prinsip yang menarik: setiap kemenangan tidak boleh membuat seseorang merasa sudah hebat.

Ia masih merasa ada banyak hal yang harus diperbaiki.

Mulai dari interpretasi lagu, frase, pernapasan hingga pengendalian emosi ketika tampil.

“Kalau melihat hasilnya, sebenarnya Gisna masih merasa kurang. Masih banyak yang harus dievaluasi dan diperbaiki,” katanya.

Menurutnya, kemampuan bernyanyi saat latihan terkadang terasa berbeda ketika sudah berada di atas panggung.

Tekanan, suasana penonton dan rasa gugup bisa memengaruhi penampilan.

Karena itu, kontrol emosi dan pernapasan menjadi salah satu pekerjaan rumah yang terus ia benahi.

Dalam salah satu perlombaan, Gisna membawakan lagu “Bimbang” karya Melly Goeslaw sebagai lagu wajib.

Menurutnya, lagu tersebut terdengar mudah ketika pertama kali didengarkan.

Namun setelah dipelajari lebih dalam, ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan.

Tantangan terbesar justru berada pada pengaturan napas.

Setiap kalimat lagu membutuhkan pengaturan pernapasan yang tepat agar suara tetap stabil dan pesan lagu dapat tersampaikan dengan baik.

Sementara untuk lagu pilihan, Gisna membawakan “Cinta Sejati” yang dipopulerkan Bunga Citra Lestari.

Lagu tersebut bukan lagu yang asing baginya.

Sebelumnya, ia pernah membawakan lagu yang sama dalam ajang Festival Bulan Bahasa SMAN 1 Cililin dan berhasil meraih Juara 1 tingkat Jawa Barat.

Pengalaman tersebut menjadi modal penting bagi Gisna ketika kembali membawakan lagu tersebut di panggung berikutnya.

Juara Bukan Akhir Perjalanan

Kemenangan di SVF 2.0 2026 menjadi catatan baru dalam perjalanan Gisna.

Namun, ada sesuatu yang lebih menarik dari prestasi tersebut.

Gisna tidak ingin larut dalam kebanggaan.

Ia justru menyadari masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki.

Sikap tersebut menjadi salah satu modal penting bagi seorang talenta muda. Sebab, dunia seni bukan hanya membutuhkan suara yang bagus, tetapi juga mental untuk terus belajar.

“Kadang ketika latihan kelihatannya sudah bagus. Tetapi ketika tampil bisa berbeda. Kontrol emosinya masih harus ditingkatkan,” tuturnya.

Ia juga mengakui masih sesekali mengalami persoalan nada dan kestabilan suara.

Bagi Gisna, mengakui kekurangan bukan berarti minder.

Justru dari situlah ia mengetahui bagian mana yang harus diperbaiki.

Dukungan Orang Tua Jadi Kekuatan

Di balik perjalanan Gisna, ada keluarga yang selalu memberikan dukungan.

Mama dan bapaknya menjadi orang yang terus menemani perjalanan tersebut.

Bukan hanya memberikan dukungan ketika menang, tetapi juga ketika Gisna harus mengikuti proses latihan dan perlombaan.

Karena itu, setelah berhasil meraih Juara 1 SVF 2.0, orang pertama yang ingin ia ucapkan terima kasih adalah kedua orang tuanya.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Abah, keluarga besar, guru-guru sejak PAUD, SD, SMP hingga SMA, serta teman-teman yang selama ini memberikan dukungan.

Bagi Gisna, prestasi tidak pernah benar-benar lahir dari perjuangan seorang diri.

Ada banyak tangan yang ikut mendorong seseorang sampai berada di titik tersebut.

Menurutnya, sekolah juga memiliki peran penting dalam memberikan ruang kepada siswa yang memiliki potensi.

Ia berharap penilaian terhadap siswa yang mengikuti perlombaan tidak semata-mata berdasarkan tingkat kelas.

Jika seorang siswa kelas bawah memiliki kemampuan yang lebih baik, menurutnya, kesempatan tersebut seharusnya tetap diberikan.

Bukan soal siapa yang lebih senior, tetapi siapa yang memiliki potensi dan kesiapan untuk membawa nama sekolah.

“Kalau misalnya adik kelas lebih bagus potensinya daripada kakak kelas, seharusnya yang punya potensi lebih besar tetap diberi kesempatan,” ujarnya.

Menurut Gisna, pemberian ruang seperti itu penting agar siswa merasa dihargai sekaligus termotivasi untuk terus berkembang.

Menariknya, perjalanan Gisna tidak hanya berhenti pada musik populer.

Kecintaannya terhadap lagu Sunda juga menjadi bagian dari perjalanan keseniannya.

Ia berharap generasi muda tidak malu untuk mengenal dan mencintai seni tradisi sendiri.

Bagi Gisna, menyanyi bukan sekadar mengejar piala.

Ada pengalaman, pertemanan, kebanggaan terhadap budaya dan proses belajar yang jauh lebih berharga.

Prestasi hanyalah salah satu hasil dari proses tersebut.

Kini, setelah meraih Juara 1 SVF 2.0, Gisna masih memiliki mimpi yang lebih panjang.

Ia ingin terus belajar, memperbaiki teknik vokal, meningkatkan mental tampil, dan suatu hari nanti mampu tampil di panggung yang lebih besar.

Namun satu hal yang tidak berubah: ia ingin tetap menjadi Gisna yang mau belajar.

Sebab baginya, piala boleh bertambah, tetapi kemampuan tidak boleh berhenti diasah.

Dan mungkin, di situlah letak spirit sebenarnya dari sebuah prestasi.

Bukan ketika seseorang berdiri sebagai juara, melainkan ketika setelah menjadi juara ia masih berani berkata:

“Saya masih banyak kurangnya dan masih harus belajar." 

(*)

Komentar