Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Dulu Anak Baik, Rudi Harlan Terbawa Pergaulan: “Saya Ingin Diterima”

Selasa, 22 September 2026 | 11:00 WIB

 

Lingkungan pergaulan bisa merubah karakter seseorang dari baik menjadi sebaliknya.

Satuspirit – Tidak semua orang yang pernah salah langkah berawal dari keinginan menjadi nakal. Ada yang bermula dari keinginan sederhana: ingin diterima oleh teman.

Itulah yang pernah dialami Rudi Harlan saat duduk di bangku SMA sekitar 1988–1989.

Saat SMP, Rudi dikenal sebagai anak baik, cerdas dan tidak banyak tingkah. Ia mudah bergaul dengan siapa saja, tetapi tetap mampu menjaga jarak dengan teman-teman yang dianggap nakal.

Ia mengenal beberapa anak yang tergabung dalam geng, sering membolos hingga mengonsumsi minuman keras. Namun, Rudi tidak ikut-ikutan.

Batas itu masih mampu ia jaga.

Sampai akhirnya memasuki masa SMA, terutama menjelang kelas tiga, Rudi mulai sering diajak nongkrong oleh teman SMP-nya.

Tempatnya sederhana. Sebuah gang di pinggir jalan besar menjadi tempat anak-anak muda berkumpul. Saat itu belum ada internet dan telepon genggam. Mereka menghabiskan waktu dengan bermain gitar, bercanda dan menikmati suasana bersama.

Sepulang sekolah, Rudi mulai mampir ke gang tersebut.

Awalnya ia canggung. Namun, karena terus bergaul, rasa asing perlahan berubah menjadi kebiasaan.

“Saya awalnya canggung. Lama-lama penasaran. Setiap pulang sekolah saya mampir ke sana,” kenangnya kepada redaksi.

Dari sekadar nongkrong, Rudi kemudian berhadapan dengan kebiasaan yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan.

Minuman keras.

Awalnya ia menolak ketika ditawari. Ia hanya melihat teman-temannya minum.

Namun, semakin sering berkumpul, muncul perasaan tidak enak ketika dirinya menjadi satu-satunya yang tidak ikut.

“Saya ingin diterima dengan teman-teman. Awalnya saya menolak diajak minum, hanya melihat. Tapi karena ingin diterima, akhirnya saya menyesuaikan juga, sedikit demi sedikit minum,” tuturnya.

Bagi Rudi, persoalannya bukan karena teman-temannya selalu memaksa.

Justru beberapa teman yang mengetahui dirinya sebenarnya anak baik sempat mengingatkan agar tidak terlalu jauh. Mereka menyarankan Rudi tetap bergaul, bermain dan nongkrong, tetapi tidak perlu ikut minum.

Namun saat itu, keinginan untuk menjadi bagian dari kelompok terasa lebih kuat.

“Karena saya merasa ingin diterima, jadi saya memaksakan diri,” katanya.

Pengalaman Rudi menunjukkan bahwa pengaruh pergaulan tidak selalu datang dalam bentuk paksaan. Seseorang bisa berubah karena terbiasa melihat perilaku kelompok, ingin mendapatkan penerimaan, atau merasa harus menyesuaikan diri agar tidak berbeda.

Penelitian tentang pengaruh teman sebaya pada remaja juga menunjukkan adanya pengaruh terhadap perilaku, meski tidak berarti karakter seseorang ditentukan sepenuhnya oleh pergaulan.

Karena itu, anggapan bahwa 80 persen karakter seseorang ditentukan oleh pergaulan tidak tepat jika disebut sebagai fakta ilmiah.

Pergaulan memang berpengaruh, tetapi bukan satu-satunya faktor. Keluarga, sekolah, lingkungan, pengalaman dan keputusan pribadi juga ikut membentuk seseorang.

Rudi sendiri beruntung tidak terus berada dalam kebiasaan tersebut.

Setelah lulus SMA, ia akhirnya bisa berhenti. Teman-temannya pun memahami keputusannya dan tidak memaksanya untuk terus mengikuti kebiasaan tersebut.

Bahkan, sebagian dari mereka sejak awal sudah mengingatkan Rudi agar tidak terlalu jauh.

Kini, pengalaman itu menjadi pelajaran berharga baginya.

Ia menyadari bahwa keinginan untuk diterima bisa membuat seseorang melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak sesuai dengan dirinya.

Dari kisah Rudi, ada satu pelajaran sederhana: memilih teman bukan hanya soal siapa yang membuat kita nyaman, tetapi juga siapa yang membantu kita tetap menjadi diri sendiri.

Teman yang baik bukanlah mereka yang memaksa kita mengikuti semua kebiasaannya.

Teman yang baik adalah mereka yang tetap menghargai kita ketika kita berani mengatakan “tidak”.

Dan jika seseorang sudah terlanjur terbawa arus, Rudi menunjukkan bahwa berhenti dan kembali ke jalan sendiri selalu mungkin.

Penulis:Muhammad Rafa

Editor: Restu Nugraha

(*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update