Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Enam Tahun Jualan Ayam Geprek, dari Lima Belas Potong hingga Bisa Kuliahkan Anak, Ada Kisah Misterius di Baliknya

Senin, 07 September 2026 | 21:44 WIB Last Updated 2026-09-07T14:44:46Z


Dagangannya laku tapi setelah dihitung uangnya kerap kurang karena penasaran pedagang ayam geprek ini mendatang seorang ustaz.

Satuspirit – Tidak semua perjuangan mencari rezeki berjalan mulus sejak hari pertama.

Ada yang harus memulai dari sedikit. Ada pula yang harus menunggu pelanggan datang satu per satu, bahkan harus rela melihat dagangannya tersisa ketika malam mulai larut.

Kisah itu dialami Pak Iyang, seorang pedagang ayam geprek yang bersama istrinya telah menjalani usaha tersebut selama kurang lebih enam tahun.

Usahanya sederhana. Mereka berjualan di teras rumah sendiri yang berada di pinggir jalan. Sebuah gerobak menjadi bagian dari keseharian mereka. Dari tempat sederhana itulah, perlahan-lahan usaha keluarga tersebut tumbuh.

Pada awal berjualan, Pak Yang hanya menyiapkan sekitar 15 potong ayam geprek.

Namun jumlah sedikit itu pun tidak selalu habis.

“Awal-awal memang susah. Kadang lima belas ayam saja masih ada sisanya,” tutur Pak Yang kepada redaksi pada September 2026.

Tiga bulan pertama menjadi masa yang cukup berat. Dagangan yang tersisa kemudian ditawarkan melalui status WhatsApp maupun grup pertemanan.

“Kadang saya kasih tahu lewat status atau grup WA. Kalau ada yang mau ayam geprek, silakan datang. Masih ada,” katanya.

Tetapi dari kebiasaan sederhana itu justru muncul sesuatu yang kemudian mengubah perjalanan usahanya.

Informasi dari satu orang ke orang lain mulai menyebar.

Ada teman yang membeli, kemudian memberi tahu temannya. Ada saudara yang ikut membeli. Pelanggan mulai datang kembali.

Sedikit demi sedikit, usaha yang semula hanya mengandalkan belasan potong ayam mulai memiliki pelanggan tetap.

Bagi Pak Iyang, berjualan ayam geprek bukan sekadar aktivitas mencari penghasilan harian.

Ia dan istrinya menjalani usaha tersebut secara bergantian. Dari pagi hingga malam, teras rumah mereka berubah menjadi tempat mencari rezeki.

Perjalanan enam tahun itu akhirnya membuahkan hasil.

Dari usaha sederhana tersebut, mereka mampu membantu menyekolahkan tiga anak.

Dua anaknya bahkan sudah menyelesaikan pendidikan perguruan tinggi dan kini telah bekerja.

Sementara satu anak lainnya masih duduk di kelas tiga SMA.

Di titik itu, ayam geprek bukan lagi sekadar makanan yang dijual dari sebuah gerobak.

Ia menjadi bagian dari perjalanan sebuah keluarga mempertahankan kehidupan dan mengantarkan anak-anak menuju masa depan.

Namun di balik kisah perjuangan tersebut, Pak Iyang menyimpan satu cerita lain yang hingga kini masih menjadi tanda tanya.

Uang Dagangan Hilang, Berkali-kali

Seperti pedagang pada umumnya, Pak Yang selalu mencatat pemasukan dan jumlah dagangan yang terjual.

Setelah selesai berjualan, uang dihitung.

Namun beberapa kali ia menemukan sesuatu yang tidak sesuai dengan catatannya.

Pertama kali, ia menemukan selisih sekitar Rp100 ribu.

Ia masih menganggapnya biasa.

Mungkin salah menghitung. Mungkin ada pengeluaran yang lupa dicatat.

Namun kejadian serupa kembali terjadi.

Pada kejadian berikutnya, selisihnya bahkan mendekati Rp200 ribu.

“Saya hitung lagi, ternyata hilang juga. Heran,” kata Pak Yang.

Karena kejadian tersebut terulang, rasa penasaran mulai muncul.

Bukan hanya sekali, melainkan sampai beberapa kali.

Ia kemudian mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Hingga akhirnya, bersama istrinya, Pak Iyang meminta bantuan kepada seorang ustaz yang oleh orang-orang di sekitarnya dianggap memahami persoalan semacam itu.

Di sinilah cerita tersebut memasuki wilayah kepercayaan dan hal mistis.

Menurut penuturan Pak Yang, ustaz tersebut mengatakan bahwa uang yang hilang berkaitan dengan tuyul, makhluk yang dalam cerita rakyat Jawa kerap dikaitkan dengan pencurian uang.

Pak Yang sendiri mengaku tidak sepenuhnya percaya.

“Saya juga antara percaya dan tidak percaya,” ujarnya.

Ia kemudian mendapatkan sebuah doa atau tulisan doa untuk disimpan di tempat mereka berjualan atau menyimpan uang.

Setelah itu, menurut pengakuannya, kejadian uang hilang tersebut tidak lagi terjadi.

Hingga sekarang, ia mengaku uang dagangannya aman.

Pak Iyang pun memilih tidak menuduh atau mencari siapa yang dianggap mengambil uang tersebut.

Sebab, baginya, yang paling penting adalah usaha kembali berjalan dengan tenang.

Tuyul, Mitos yang Bertahan dalam Cerita Masyarakat

Lantas, sebenarnya seperti apa tuyul?

Dalam folklor dan kepercayaan masyarakat Jawa, tuyul dikenal sebagai makhluk gaib yang digambarkan memiliki tubuh kecil menyerupai anak manusia dan sering dikaitkan dengan pencurian uang. Sejumlah kajian budaya juga menggambarkan tuyul sebagai bagian dari kepercayaan atau cerita mistis masyarakat Jawa.

Gambaran fisiknya dalam cerita masyarakat memang sering berbeda-beda. Ada yang menggambarkannya seperti anak kecil berkepala botak, bertubuh mungil dan berpenampilan seperti bayi atau anak kecil.

Namun penting dicatat: gambaran tersebut merupakan bagian dari mitologi dan kepercayaan masyarakat, bukan fakta ilmiah mengenai keberadaan makhluk tersebut.

Sampai sekarang tidak ada bukti ilmiah yang dapat memastikan bahwa tuyul benar-benar merupakan makhluk yang mengambil uang seseorang.

Kepercayaan terhadap makhluk gaib sendiri bukan sesuatu yang asing dalam kebudayaan masyarakat Jawa. Penelitian mengenai budaya Jawa menunjukkan bahwa berbagai kepercayaan terhadap makhluk halus, leluhur dan kekuatan gaib menjadi bagian dari sistem kepercayaan masyarakat pada konteks tertentu. 

Kisah Pak Iyang akhirnya memperlihatkan dua sisi yang menarik.

Di satu sisi ada pengalaman yang menurutnya sulit dijelaskan: uang beberapa kali berkurang meski sudah dihitung dan dicatat.

Di sisi lain, ada kemungkinan-kemungkinan yang bersifat praktis yang tetap perlu dipertimbangkan, misalnya kesalahan pencatatan, salah menghitung uang, uang digunakan untuk keperluan lain, atau bahkan uang diambil seseorang.

Karena itu, ketika mengalami kejadian serupa, langkah paling aman tetap melakukan pemeriksaan sederhana: mencatat setiap transaksi, memisahkan uang modal dan keuntungan, menghitung uang secara berkala, serta menyimpan uang di tempat yang aman.

Sementara bagi masyarakat yang memiliki keyakinan keagamaan tertentu, doa dan ibadah dapat menjadi bagian dari ikhtiar batin.

Yang penting, jangan sampai cerita tentang tuyul membuat seseorang menuduh orang lain tanpa bukti.

Sebab pada akhirnya, rezeki bukan hanya soal berapa banyak uang yang terkumpul dalam satu malam.

Kisah Pak Iyang menunjukkan bahwa rezeki juga lahir dari kesabaran, ketekunan dan kemampuan bertahan ketika dagangan belum laku.

(*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update