![]() |
| Kepala Desa Tanjungjaya, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, Tintin Marlina, berfoto bersama jajaran staf pemerintah desa usai kegiatan pelayanan dan koordinasi pemerintahan desa. |
satuspirit.my.id - Pembangunan dan normalisasi irigasi yang dilakukan pemerintah di wilayah Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat (KBB), menuai keluhan dari warga Desa Tanjungjaya. Pasalnya, aliran irigasi tersebut tidak sampai ke wilayah desa mereka dan hanya berhenti di perbatasan, membuat petani setempat masih kesulitan mendapatkan pasokan air untuk sawah.
Kepala Desa Tanjungjaya, Tintin Marlina, mengungkapkan bahwa mayoritas warga desanya menggantungkan hidup dari sektor pertanian, khususnya padi sawah. Luas lahan persawahan di Tanjung Jaya terbilang cukup besar, namun hingga kini belum tersentuh normalisasi irigasi yang memadai.
“Waktu itu saya sempat menanyakan, pembangunan irigasi baru sampai Cihampelas. Padahal aliran irigasi itu seharusnya bisa sampai ke Desa Tanjungjaya. Warga kami sangat membutuhkan normalisasi irigasi,” ujar Tintin saat diwawancarai.
Akibat tidak adanya aliran irigasi yang berfungsi, petani terpaksa menyedot air dari Waduk Saguling untuk mengairi sawah mereka, terutama saat musim kemarau atau ketika curah hujan mulai berkurang. Biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit.
“Petani harus mengeluarkan biaya sekitar Rp20 ribu sampai Rp30 ribu per jam untuk menyedot air dari Saguling. Ini jelas menambah beban biaya produksi,” katanya.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada hasil pertanian. Jika irigasi berjalan normal, petani di Tanjung Jaya diperkirakan bisa melakukan panen hingga tiga kali dalam setahun. Namun saat ini, mereka hanya mampu panen dua kali karena keterbatasan air.
“Kalau ada irigasi yang mengalir, panen bisa tiga kali. Sekarang cuma dua kali karena kendala air,” tambah Tintin.
Ia juga menyebutkan bahwa saluran irigasi lama sebenarnya ada, namun hampir tidak berfungsi karena sudah lama tidak dialiri air. Bahkan sebagian saluran disebut nyaris hilang akibat tidak terawat.
Sebagai pemerintah desa, Tintin mengaku sudah berupaya menyuarakan aspirasi warga. Pihaknya telah mengajukan permohonan dan proposal normalisasi irigasi melalui musyawarah dan disampaikan kepada instansi terkait.
“Kami sudah berusaha mengajukan. Mudah-mudahan bisa ditindaklanjuti. Harapan kami sederhana, Tanjung Jaya juga bagian dari Bandung Barat. Warga kami ingin merasakan aliran irigasi seperti wilayah lain,” tegasnya.
Keluhan warga pun kerap disampaikan langsung kepada kepala desa. Banyak petani mempertanyakan mengapa irigasi di wilayah lain sudah direhabilitasi, sementara desa mereka belum tersentuh.
“Warga sering curhat, ‘Bu, kenapa irigasi ke desa kita enggak sampai?’ Sebagai kepala desa tentu rasanya sedih, karena ini menyangkut hajat hidup petani kecil,” ungkap Tintin.
Ia berharap pemerintah daerah dan pihak terkait dapat memberikan perhatian serius terhadap kondisi ini. Menurutnya, normalisasi irigasi bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga menyangkut peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Harapan saya, irigasi bisa dinormalisasi sampai ke Tanjungjaya. Kalau air lancar, hasil panen meningkat, penghasilan petani naik, dan kesejahteraan warga juga ikut membaik,” pungkasnya.
(*)


Social Media