satuspirit.my.id - Di fase tertentu dalam hidup, banyak laki-laki tampil penuh percaya diri. Uang ada. Usaha berjalan. Pekerjaan mapan. Lingkar pertemanan luas. Media sosial ramai. Nama disebut-sebut. Undangan datang silih berganti. Dalam kondisi seperti itu, seorang laki-laki seolah berdiri di atas panggung kehidupan—terlihat, didengar, dan diakui.
Titan Hardani pernah berada tepat di titik itu.
Ia dikenal sebagai sosok yang ramah, mudah menyapa siapa pun, dan tak segan mentraktir teman-temannya. Dalam setiap pertemuan, Titan adalah figur sentral. Selalu ada cerita, selalu ada tawa, dan selalu ada rasa “aman” berada di dekatnya. Kesuksesan membuat Titan percaya bahwa hidupnya sedang baik-baik saja—bahkan lebih dari itu, ia merasa telah memenangkan pertarungan hidup.
“Waktu itu, saya merasa semuanya ada di genggaman,” kenang Titan.
Namun hidup, seperti roda, tidak pernah diam di satu titik.
Tak ada yang benar-benar siap ketika kehidupan berbalik arah. Bisnis yang dulu berjalan mulai goyah. Uang yang dahulu mengalir kini tersendat. Aset perlahan terjual. Relasi yang tadinya tampak kokoh mulai rapuh. Hingga akhirnya, Titan sampai di titik nol—titik yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Dari luar, perubahan itu tampak sederhana. Tapi dari dalam, perubahan itu menghantam mental dan harga diri seorang laki-laki.
“Yang paling berat bukan kehilangan uang,” kata Titan pelan, “tapi kehilangan rasa percaya diri.”
Di titik itulah Titan mulai menghilang. Media sosial yang dulu aktif kini sunyi. WhatsApp jarang dibuka. Ajakan bertemu dihindari. Titan memilih diam, bukan karena tidak ingin bertemu siapa pun, tetapi karena ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan keadaannya.
Bagi banyak laki-laki, kesuksesan sering kali menjadi identitas. Ketika sukses, ia merasa pantas dilihat. Ketika gagal, ia merasa tidak layak muncul.
Titan merasakan itu.
“Saya malu pada diri saya sendiri,” ujarnya jujur.
“Malu karena merasa gagal. Malu karena tidak bisa mempertahankan apa yang dulu saya banggakan.”
Rasa malu itu perlahan berubah menjadi tembok. Titan menutup diri, bukan karena sombong, melainkan karena takut. Takut ditanya. Takut dibandingkan. Takut dikasihani. Takut diledek.
Dan ketakutan itu ternyata bukan tanpa alasan.
Ketika kabar keterpurukan Titan mulai terdengar, perubahan sikap orang-orang di sekitarnya terasa nyata. Pesan yang dulu datang hampir setiap hari mulai jarang. Ajakan ngopi menghilang. Telepon tak lagi berdering.
![]() |
| Gambar ilustrasi |
“Beberapa teman yang dulu dekat, sekarang susah dihubungi,” katanya. “Pelan-pelan mereka hilang.”
Titan tidak menyalahkan siapa pun. Ia memahami bahwa dalam kehidupan sosial, relasi sering kali dibangun di atas kepentingan. Ketika ia berada di atas, banyak yang ingin dekat. Ketika ia jatuh, sedikit yang bertahan.
Di sinilah Titan mulai belajar satu hal penting: tidak semua yang datang saat kita sukses adalah teman sejati.
Mengapa Banyak Laki-laki Menghilang Saat Terpuruk?
Fenomena yang dialami Titan bukan kasus tunggal. Banyak laki-laki mengalami hal serupa. Ada beberapa alasan mengapa laki-laki cenderung menghilang saat terpuruk:
Tekanan Maskulinitas
Sejak lama, laki-laki diajarkan untuk kuat, mandiri, dan tidak menunjukkan kelemahan. Ketika gagal, mereka merasa melanggar “aturan tak tertulis” itu.
Harga Diri yang Terikat pada Status
Bagi sebagian laki-laki, nilai diri diukur dari pencapaian materi. Ketika pencapaian runtuh, identitas pun ikut runtuh.
Takut Penilaian Sosial
Pertanyaan sederhana seperti “sekarang kerja apa?” bisa menjadi beban mental luar biasa.
Kesepian yang Dipilih
Menghilang dianggap lebih aman daripada harus menjelaskan keadaan yang menyakitkan.
Titan mengakui semua itu ada dalam dirinya.
“Saya memilih menghilang karena saya tidak siap dilihat dalam kondisi lemah,” ujarnya.
Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri
Waktu berjalan. Dalam kesunyian, Titan mulai berdialog dengan dirinya sendiri. Ia menyadari bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya. Bahwa kehilangan bukan berarti tidak bernilai. Bahwa hidup tidak berhenti hanya karena satu fase buruk.
Pelan-pelan, Titan mulai bangkit. Bukan dengan gemerlap, bukan dengan pengumuman besar-besaran, tetapi dengan langkah kecil. Menerima keadaan. Mengakui kegagalan. Dan yang paling penting, memaafkan diri sendiri.
“Saya belajar bahwa menjadi laki-laki bukan tentang selalu menang,” katanya. “Tapi tentang berani jatuh dan bangkit lagi.”
Hari ini, Titan belum sepenuhnya kembali seperti dulu. Tapi ia tidak lagi mengejar validasi. Ia tidak lagi sibuk membuktikan apa pun kepada siapa pun. Baginya, kesuksesan kini memiliki makna yang berbeda.
Kesuksesan adalah tetap bertahan.
Kesuksesan adalah tidak menyerah pada rasa malu.
Kesuksesan adalah berani jujur pada diri sendiri.
Dan dari perjalanan hidupnya, Titan ingin menyampaikan satu pesan sederhana:
“Jika suatu hari kamu terpuruk dan merasa ingin menghilang, ketahuilah kamu tidak sendiri. Kegagalan tidak membuatmu lebih kecil sebagai manusia.”
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling lama berdiri di puncak, tetapi siapa yang berani bangkit setelah jatuh.
(*)


Social Media