satuspirit.my.id - Lapangan Desa Pataruman, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu malam (14 Februari 2026), berubah menjadi lautan cahaya obor dan lautan harap. Lebih dari seribu warga tumpah ruah menghadiri Ngagebur 5, tradisi tahunan menyambut Bulan Suci Ramadan 1447 Hijriyah.
Sejak selepas salat Magrib, warga mulai berdatangan. Anak-anak berlarian membawa obor, remaja sibuk mengatur barisan, sementara ibu-ibu duduk berkelompok sambil bercengkerama. Udara malam yang dingin tak menyurutkan semangat mereka.
Acara yang dipelopori Karang Taruna Sahate itu bukan sekadar pawai obor dan doa bersama. Tahun ini terasa lebih istimewa. Deretan doorprize mewah tersusun rapi di dekat panggung sederhana: kulkas, televisi, blender, beras, sepeda, hingga motor listrik.
Kupon undian dijual seharga Rp2.000 per lembar. Banyak warga membeli lebih dari satu. Harapan mereka sederhana yakni membawa pulang rezeki menjelang Ramadan.
Ketika Ketua MUI desa, Ustaz Soleh, membuka acara dengan sholawat dan doa bersama, ribuan tangan terangkat serentak. Suasana khidmat menyelimuti lapangan. Ramadan bukan hanya soal menahan lapar, tetapi tentang memperkuat kebersamaan.
Kepala Desa Pataruman, Dadan Ramdani, yang hadir bersama jajaran perangkat desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, para ketua RW yang berjumlah 13 RW, guru ngaji, dan tokoh masyarakat, menyebut kegiatan ini telah menjadi tradisi yang mengakar.
“Alhamdulillah, ini sudah rutin dan menjadi tradisi warga Pataruman setiap menyambut Ramadan. Pawai obor ini simbol suka cita kita menyambut bulan suci,” ujar Dadan Ramdani.
Menurutnya, Ngagebur 5 tahun ini terasa berbeda karena antusiasme masyarakat yang begitu tinggi.
“Tahun ini luar biasa. Panitia dari Karang Taruna bekerja maksimal. Alhamdulillah rezekinya lebih, sehingga doorprize yang disediakan juga lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya,” lanjutnya.
Ia menegaskan keberhasilan acara tak lepas dari kolaborasi seluruh unsur desa dan para donatur.
“Semua unsur bergerak. Pemerintah desa, Karang Taruna, tokoh masyarakat, hingga para donatur bersinergi. Ini bukti kalau kita kompak, acara sebesar apa pun bisa berjalan lancar.” terang sang Kepala desa.
Suasana semakin tegang saat MC mulai membacakan empat digit nomor terakhir. Warga mendadak hening, menunduk memeriksa kupon masing-masing. Deg-degan.
Begitu nomor cocok, sorak bahagia pecah. Pemenang bergegas ke panggung dengan senyum sumringah. Grup gambus desa menambah kemeriahan malam, membuat kebersamaan terasa semakin hangat.
Bagi Dadan, makna Ngagebur 5 bukan terletak pada kemewahan hadiahnya, melainkan pada rasa syukur dan kebersamaan yang terbangun.
“Ini wujud syukuran dan silaturahmi. Tradisi ini tidak akan hilang. Ke depan justru akan terus kita tingkatkan. Harapan kami, masyarakat semakin antusias setiap menyambut Ramadan dan Karang Taruna tetap menjadi motor kegiatan positif,” pungkasnya.
Sementara, Tini, emak-emak yang membeli kupon sebanyak 5 lembar, mengaku semangat dan tentu saja berharap salah satu nomor kuponnya mendapat keberuntungan bisa menggondol pulang doorprize.
"Mudah-mudahan dapat blender buat masak, atau sepeda… apalagi kalau motor listrik,” ujarnya sambil tertawa bersama ibu-ibu lainnya.
Ramai, Namun Tetap Kondusif
Meski lapangan penuh sesak, acara berlangsung tertib dan aman hingga selesai. Warga saling menjaga, panitia sigap mengatur kerumunan, dan aparat desa turut memastikan situasi tetap kondusif.
Ngagebur 5 bukan sekadar pesta hadiah. Ia menjadi simbol kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur menyambut Ramadan.
Di bawah langit Pataruman malam itu, cahaya obor, doa-doa yang terangkat, dan senyum warga menjadi tanda: Ramadan disambut bukan hanya dengan persiapan, tetapi dengan kebersamaan.
(*)



Social Media