BLANTERORIONv101

Antara Gemas dan Disenyumin: Saat Nonis Ikut War Takjil Ramadan

22 Februari 2026

 

War takjil nonis
Suasana bazar Ramadan Perum Alam Sanggar Indah yang dipadati berburu takjil dan aneka kuliner menjelang waktu berbuka puasa.

satuspirit.my.id — Ramadan selalu punya cerita. Bukan cuma soal ibadah dan suasana religius, tapi juga fenomena sosial yang kadang bikin kaget, gemas, sekaligus haru: war takjil lintas iman.

Ya, berburu makanan berbuka ternyata bukan hanya “arena” umat Muslim. Banyak warga non-Muslim (nonis) ikut meramaikan bahkan tak jarang memborong. Ada yang sampai ratusan ribu rupiah, ada juga yang viral karena belanja setengah juta hanya untuk dibagi-bagikan.

Fenomena ini tiap tahun muncul, bikin timeline medsos panas, tapi juga memperlihatkan wajah toleransi khas Indonesia.

“Saya Nonis, tapi Ramadan Itu Ditunggu”

Salah satu warga non-Muslim, Nena Saragih, mengaku Ramadan justru jadi momen kuliner yang paling ia nantikan.

“Saya nonis, tapi bulan Ramadan ini saya tunggu-tunggu. Takjilnya itu loh… enak-enak dan banyak pilihan,” ujarnya sambil tersenyum.

Ia bahkan punya “langganan” pedagang takjil.

“Jam tiga saya sudah standby. Paling sedikit belanja dua ratus ribu. Dibawa pulang buat keluarga.”

Menurutnya, rasa makanan Ramadan berbeda dengan hari biasa lebih segar, hangat, dan variatif.

Cerita lain datang dari Tira Rompis. Ia bersama suaminya sempat memborong takjil hingga sekitar Rp500 ribu. Tapi bukan untuk pesta keluarga.

“Bukan buat saya doang. Saya bagikan ke ojol, orang di jalan, yang mau buka puasa,” katanya.

Mereka bahkan masuk ke gang-gang untuk membagikan makanan kepada warga yang masih di perjalanan menjelang magrib.

Aksi seperti ini sering menuai pujian di media sosial karena dianggap sebagai solidaritas lintas agama yang tulus.

Kenapa Nonis Ikut War Takjil?

Alasannya ternyata sederhana:

Menu Ramadan itu unik dan musiman

Banyak makanan tradisional yang jarang ada di hari biasa

Harga relatif terjangkau

Bisa sekalian berbagi

Suasana bazar yang ramai dan seru

Dari kolak, gorengan, cendol, es buah, sampai jajanan kekinian semuanya seolah “tumpah ruah” hanya di bulan puasa.

Pedagang: “Yang Penting Laku!”

Bagi penjual, siapa pembelinya bukan soal.

“Alhamdulillah dagangan cepat habis,” begitu kira-kira prinsipnya.

Ramadan memang jadi musim panen bagi UMKM kuliner. Bahkan banyak pedagang berharap pembeli datang lebih banyak siapa pun mereka.

Kenapa Kadang Bikin Umat Muslim Kesal?

Meski banyak sisi positif, tetap ada yang merasa “tersaingi”.

Datang mepet magrib, eh takjil sudah habis

Antrean panjang sejak sore

Ada yang borong dalam jumlah besar

Sudah diserbu sejak pukul 15.00

Padahal bagi yang berpuasa, takjil adalah kebutuhan utama saat berbuka.

Namun sebagian warganet menilai ini lebih ke masalah stok dan manajemen penjualan, bukan soal agama.

Intrik yang Justru Menghangatkan

Alih-alih memicu konflik, fenomena ini justru sering berujung pada cerita manis:

Non-Muslim ikut menghormati Ramadan

Terjadi interaksi sosial yang cair

Banyak aksi berbagi makanan

Potret toleransi nyata, bukan teori

Ramadan akhirnya bukan hanya milik umat Muslim, tetapi menjadi ruang kebersamaan masyarakat Indonesia.

Ramadan: Bukan Sekadar Menahan Lapar

War takjil lintas iman mungkin terlihat heboh, bahkan absurd. Tapi di balik itu, ada pesan sederhana:

Bahwa makanan bisa menyatukan, empati bisa melampaui perbedaan, dan kebaikan tidak mengenal label agama.

Dan mungkin… justru di antrean gorengan itulah Indonesia terasa paling akrab.

(*)


Komentar