![]() |
satuspirit.my.id - H-1 Ramadhan.
Timeline media sosial mulai ramai. Promo sirup, diskon kurma, bazar takjil, paket buka puasa. Semua terasa meriah.
Tapi tidak semua hati sedang ringan.
Di antara gemerlap itu, ada orang-orang yang menyambut Ramadhan dengan dompet yang tipis. Dengan usaha yang sedang sepi. Dengan penghasilan yang tak menentu. Dengan pikiran yang masih penuh hitung-hitungan.
Ramadhan selalu datang tepat waktu.
Tapi kesiapan kita? Itu cerita lain.
Tapi tidak semua hati sedang ringan. Ramadhan selalu datang tepat waktu.
Redaksi mencoba berbincang dengan Arman (38). Bukan ustazd. Bukan tokoh agama. Bukan publik figur. Hanya kepala keluarga biasa. Punya dua anak. Usahanya sedang turun. Kadang ada pemasukan, kadang nihil.
“Secara iman saya semangat. Secara dompet… ya realistis saja” ucapnya dengan nada berat.
Sore itu Arman duduk di teras rumahnya. Di tangannya ada daftar kebutuhan Ramadhan yang belum tentu semuanya terbeli.
Redaksi:
“H-1 begini, apa yang paling terasa?”
Arman:
“Campur aduk. Senang iya. Tapi jujur, ada deg-degan juga. Tahun ini usaha lagi sepi. Biasanya saya sudah stok ini-itu buat anak-anak. Sekarang ya harus lebih selektif.” lanjutnya sambil menatap.
Ia tersenyum kecil.
“Ramadhan kan bukan soal makanan mewah. Tapi tetap saja, namanya kepala keluarga pengen nyenengin anak.” imbuh Arman.
Arman mengaku salah satu ujian terberatnya justru saat ngabuburit.
“Kalau lewat bazar Ramadhan itu, aduh… pengen ini, pengen itu. Es buah, kebab, ayam bakar, kolak macam-macam. Anak-anak lihat aja sudah berbinar.” ujarnya.
Lalu ia tertawa kecil.
“Tapi dompet langsung mengingatkan. Kadang cuma cukup buat gorengan sama teh manis. Itu pun harus mikir buat besoknya.” jelas pria berkacamata ini.
Fenomena yang dialami Arman bukan kasus tunggal. Secara umum, setiap Ramadhan memang terjadi peningkatan aktivitas konsumsi termasuk secara digital.
Beberapa tren yang sering muncul menjelang Ramadhan:
Pencarian kata kunci “takjil”, “bazar Ramadhan”, dan “resep buka puasa” meningkat signifikan.
Transaksi e-commerce biasanya melonjak menjelang dan selama Ramadhan.
Konten religi dan motivasi di media sosial juga naik engagement-nya. UMKM musiman bermunculan, terutama makanan dan minuman.
Artinya, atmosfer Ramadhan memang identik dengan pergerakan ekonomi. Tapi di sisi lain, tidak semua orang berada dalam posisi finansial yang stabil untuk mengikuti euforia tersebut. Dan di sinilah ujian personal itu terasa.
“Saya Belajar Membedakan Lapar Fisik dan Lapar Nafsu”
Redaksi:
“Pernah merasa minder?”
Arman:
“Pernah. Apalagi kalau lihat teman update buka puasa di restoran. Tapi lama-lama saya sadar, Ramadhan itu justru latihan mengendalikan diri. Bukan cuma lapar fisik, tapi lapar nafsu belanja.” jawabnya datar.
Kalimat itu terasa sederhana, tapi dalam.
“Kalau ekonomi lagi seret, mungkin Allah lagi ngajarin saya puasa yang lebih utuh. Bukan cuma menahan makan, tapi menahan keinginan.” terang Arman.
Arman tidak punya target muluk-muluk.
“Target saya sederhana. Shalat lebih rapi. Ngaji lebih rutin. Jangan sampai Ramadhan lewat tanpa perubahan.”
Ia mengakui, kondisi ekonomi yang pas-pasan justru membuatnya lebih reflektif.
“Kalau uang banyak, mungkin saya sibuk mikirin menu buka. Sekarang saya lebih banyak mikirin amalan.”
Spirit Catatan H-1
Ramadhan memang identik dengan kebahagiaan. Tapi kebahagiaan itu tidak selalu berwujud meja penuh makanan.
Ada orang yang menyambutnya dengan tabungan tebal. Ada juga yang menyambutnya dengan doa yang lebih tebal. Dan mungkin, justru yang kedua itu yang lebih bernilai.
Bagi yang ekonominya sedang tidak stabil, Anda tidak sendirian. Banyak “Arman-Arman” lain di luar sana.
Ramadhan tidak menunggu kita kaya. Ramadhan datang untuk memperkaya hati.
H-1 ini mungkin terasa berat. Tapi Ramadhan selalu datang tepat waktu untuk memperbaiki, bukan menghakimi.
Redaksi lalu bertanya di akhir wawancara:
“Kalau kondisi belum ideal, apa yang membuat Anda tetap semangat menyambut Ramadhan?”
Ia tersenyum pelan.
“Karena Ramadhan bukan datang untuk orang yang sudah siap. Ramadhan datang supaya kita jadi siap.”
Ia melanjutkan,
“Kalau saya menunggu ekonomi stabil dulu baru mau khusyuk, bisa jadi saya tidak pernah benar-benar mulai. Justru di saat seret begini, saya merasa paling butuh Ramadhan.” tandas Arman penuh keyakinan.
Hening sejenak.
Bazar boleh ramai. Dompet boleh terbatas. Bisnis boleh turun. Tapi niat tidak pernah dibatasi saldo. Ramadhan tidak mengukur kita dari menu berbuka,
melainkan dari kesungguhan memperbaiki diri.
Dan mungkin, justru mereka yang datang dengan keadaan paling sederhana, yang pulang dengan kemenangan paling besar.
(*)

Social Media