![]() |
| Dunia kerja baik pemerintah maupun swasta alangkah hebatnya jika skil di nomor satukan dari pada jaringan. |
Satuspirit - Ada kalanya seseorang sudah belajar bertahun-tahun, mengumpulkan pengalaman, mengasah kemampuan, bahkan memiliki rekam jejak yang baik.
Namun ketika kesempatan datang, ia justru melihat orang lain melangkah lebih dulu.
Bukan karena orang itu selalu lebih mampu.
Bisa jadi karena ia lebih dikenal, lebih dekat, atau memiliki jaringan yang lebih luas.
Di situlah muncul pertanyaan yang sering terdengar di tengah masyarakat:
Dalam dunia kerja dan kepemimpinan, mana yang sebenarnya lebih menentukan—skill atau networking?
Pertanyaan ini penting karena networking memang nyata dalam kehidupan profesional. Hubungan yang baik bisa mempertemukan seseorang dengan informasi, kesempatan, mentor, pekerjaan hingga kerja sama.
Tetapi networking menjadi persoalan ketika hubungan pribadi mulai menggantikan kompetensi.
Punya Kemampuan, Tapi Tidak Punya “Orang Dalam”
Kita mungkin pernah mendengar cerita tentang seseorang yang sebenarnya memiliki kemampuan, tetapi berkali-kali gagal mendapatkan kesempatan.
Di sisi lain, ada orang yang dianggap biasa saja tetapi justru lebih cepat mendapatkan akses.
Cerita semacam ini tidak otomatis membuktikan adanya nepotisme dalam setiap kasus. Namun pengalaman tersebut cukup untuk menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana kesempatan sebenarnya diberikan.
Sebab dalam keadaan ideal, seseorang mendapatkan tanggung jawab karena mampu menjalankannya.
Bukan semata-mata karena ia mengenal siapa.
Dalam sektor pemerintahan, prinsip ini bahkan sudah diterjemahkan melalui sistem merit. Kementerian PANRB menyebut kualifikasi, kompetensi, kinerja, integritas dan aspek lainnya sebagai bagian penting dalam pengelolaan karier ASN.
Artinya, kedekatan personal seharusnya tidak menggantikan kemampuan.
Networking Bukan Musuh Skill
Namun ada satu hal yang sering salah dipahami.
Menganggap networking sebagai sesuatu yang buruk juga tidak tepat.
Seorang profesional membutuhkan jaringan.
Seorang pengusaha membutuhkan relasi.
Seorang pencari kerja membutuhkan informasi.
Bahkan orang yang sangat pintar sekalipun tetap membutuhkan orang lain.
Bayangkan ada seseorang yang memiliki kemampuan luar biasa, tetapi tidak pernah memperkenalkan dirinya, tidak membangun komunikasi, tidak mau bekerja sama dan tidak memiliki jaringan profesional.
Kemampuannya mungkin tetap ada.
Tetapi kesempatan untuk menunjukkannya bisa lebih sedikit.
Sebaliknya, seseorang yang memiliki jaringan luas bisa mendapatkan lebih banyak pintu masuk.
Masalahnya bukan pada pintu yang terbuka karena networking.
Masalahnya adalah siapa yang kemudian dipercaya melewati pintu tersebut dan atas dasar apa.
Ketika “Siapa yang Kamu Kenal?” Mengalahkan “Apa yang Bisa Kamu Kerjakan?”
Inilah pertanyaan yang lebih penting.
Kalau seseorang direkrut karena dikenal, tetapi setelah bekerja ternyata memiliki kemampuan yang sesuai, networking mungkin hanya menjadi jalan perkenalan.
Tidak ada masalah.
Tetapi jika seseorang mendapatkan posisi karena kedekatan sementara kompetensinya tidak memenuhi kebutuhan posisi tersebut, persoalannya menjadi jauh lebih serius.
Sebab sebuah jabatan bukan hadiah.
Ada tanggung jawab yang mengikuti.
Ada keputusan yang harus dibuat.
Ada orang lain yang harus dipimpin.
Dan ada pekerjaan yang harus diselesaikan.
Jika kompetensi tidak menjadi pertimbangan utama, maka yang dipertaruhkan bukan hanya karier seseorang.
Kinerja organisasi ikut dipertaruhkan.
Dampaknya Bisa Merembet ke Banyak Orang
Bayangkan sebuah organisasi memiliki posisi penting.
Orang yang menduduki posisi tersebut tidak cukup memahami pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya.
Kesalahan keputusan bisa terjadi.
Pekerjaan bisa tersendat.
Orang-orang di bawahnya bisa kehilangan arah.
Dan dalam pelayanan publik, dampaknya bahkan bisa dirasakan masyarakat.
Karena itu, memilih orang untuk sebuah posisi seharusnya bukan sekadar mencari orang yang dekat, tetapi mencari orang yang tepat.
Dekat boleh.
Kenal boleh.
Berteman boleh.
Tetapi ketika menyangkut tanggung jawab, kemampuan harus tetap diperhitungkan.
Jangan Ajarkan Generasi Muda Bahwa “Orang Dalam” Lebih Penting daripada Belajar
Ada dampak yang lebih berbahaya jika fenomena ini terus dianggap sebagai sesuatu yang normal.
Anak muda bisa kehilangan kepercayaan terhadap proses.
Mereka bisa berpikir:
“Untuk apa saya belajar keras kalau akhirnya yang penting punya koneksi?”
Kalimat seperti itu jauh lebih berbahaya daripada sekadar persoalan mendapatkan pekerjaan.
Sebab jika keyakinan tersebut tumbuh luas, orang bisa mulai menganggap pendidikan, keterampilan dan prestasi sebagai sesuatu yang tidak terlalu penting.
Padahal negara membutuhkan generasi yang mau belajar dan meningkatkan kemampuan.
Bukan generasi yang hanya sibuk mencari siapa yang bisa membuka jalan.
Skill Tanpa Networking Bisa Tidak Terlihat
Tetapi kita juga harus jujur pada sisi lainnya.
Jangan sampai artikel ini membuat seseorang berpikir bahwa cukup memiliki skill lalu kesempatan akan datang sendiri.
Tidak selalu begitu.
Skill perlu diperlihatkan.
Karya perlu dibuktikan.
Kemampuan perlu dikomunikasikan.
Dan networking perlu dibangun.
Seorang fotografer perlu menunjukkan hasil fotonya.
Penulis perlu menunjukkan tulisannya.
Pengusaha perlu memperkenalkan produknya.
Seorang pekerja perlu menunjukkan hasil pekerjaannya.
Karena itu, persoalannya bukan:
Networking atau skill?
Melainkan:
Bagaimana networking digunakan untuk mempertemukan skill dengan kesempatan.
Networking membuka pintu.
Skill membuat seseorang layak berada di dalamnya.
Integritas membuat orang percaya.
Dan kinerja menentukan apakah kepercayaan itu bisa dipertahankan.
Jangan Sampai Koneksi Menjadi Pengganti Kompetensi
Pada akhirnya, kita tidak perlu memusuhi orang yang memiliki jaringan luas.
Justru bangunlah jaringan.
Kenal lebih banyak orang.
Belajar berkomunikasi.
Bangun reputasi.
Tetapi bersamaan dengan itu, terus tingkatkan kemampuan.
Sebab koneksi mungkin bisa mengantarkan seseorang kepada sebuah kesempatan.
Tetapi ketika kesempatan itu berubah menjadi tanggung jawab, tidak ada networking yang bisa menggantikan kemampuan untuk bekerja.
Dan mungkin inilah pertanyaan yang layak kita renungkan:
Kalau suatu hari kita diberi sebuah posisi, apakah orang percaya kepada kita karena siapa yang kita kenal atau karena mereka tahu apa yang mampu kita lakukan?
Karena pada akhirnya, jabatan boleh diperoleh melalui sebuah kesempatan, tetapi kepercayaan harus dipertahankan melalui kompetensi dan integritas.
Penulis: Muhammad Rafa
Editor: Restu Nugraha
(*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar