Ringkasan Artikel
Karlina Rismayanti, gadis asal desa terpencil di Kabupaten Bandung Barat, membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih mimpi. Terlahir dari keluarga petani, Lin menjalani masa SMA dengan hidup sederhana di kosan hanya bermodal Rp100 ribu per minggu. Meski serba terbatas, ia tetap bertahan dan bersyukur.
Perjuangannya berlanjut saat ingin melanjutkan kuliah. Dengan tekad kuat dan dukungan orang tua, Lin menempuh berbagai ujian, bahkan rela berangkat tes sejak dini hari dengan ongkos besar. Kini, ia tercatat sebagai mahasiswi PGSD di sebuah perguruan tinggi ternama di Cimahi. Demi meringankan beban keluarga, Lin memilih kuliah sambil bekerja.
Terinspirasi oleh guru-gurunya, Lin bercita-cita menjadi pendidik yang bermanfaat bagi lingkungan, khususnya di daerah asalnya yang masih minim kesadaran pendidikan. Ia berharap kisahnya bisa memotivasi generasi muda agar tidak minder, terus berjuang, dan percaya bahwa dengan usaha dan doa, masa depan yang lebih baik bisa diraih.
satuspirit.my.id - Di sebuah desa terpencil di Kabupaten Bandung Barat, hidup seorang gadis sederhana bernama Karlina Rismayanti. Ia lahir dan besar dari keluarga petani, keluarga yang hidupnya lekat dengan lumpur sawah, panas matahari, dan hasil panen yang tak selalu menjanjikan.
Namun dari keterbatasan itulah, mimpi besar tumbuh dan terus diperjuangkan.
Bagi sebagian orang, terlahir dari keluarga petani mungkin dianggap sebagai keterbatasan. Tapi bagi Karlina, kondisi itu justru menjadi sumber kekuatan.
Sejak kecil, ia sudah terbiasa melihat kedua orang tuanya bekerja keras demi mencukupi kebutuhan keluarga. Dari sanalah ia belajar tentang arti ketekunan, kesabaran, dan rasa syukur.
“Orang tua saya petani. Dari kecil saya sudah tahu bagaimana capeknya bertani. Itu yang membuat saya ingin sekolah tinggi,” ujar Karlina, atau akrab disapa Lin, saat ditemui redaksi.
Perjuangan Lin semakin terasa ketika ia menginjak bangku SMA. Demi mengejar pendidikan yang lebih baik, ia harus tinggal di kosan jauh dari orang tua. Setiap minggu, orang tuanya hanya mampu membekali Rp100 ribu untuk kebutuhan hidup.
Jumlah yang bagi banyak orang mungkin terasa sangat kecil. Tapi bagi Lin, uang itu adalah hasil keringat dan pengorbanan orang tuanya.
“Kadang cukup, kadang enggak. Kalau kurang, ya saya tahan. Yang penting bisa makan dan tetap sekolah,” kenangnya.
Hari-harinya dijalani dengan penuh kesederhanaan. Makan seadanya, jarang jajan, dan lebih sering menghabiskan waktu belajar di kosan. Saat teman-temannya menikmati masa remaja dengan berbagai kesenangan, Lin memilih fokus bertahan dan melangkah pelan tapi pasti. Ia tak pernah mengeluh. Sebaliknya, rasa syukur selalu menjadi pegangan.
“Saya percaya, selama kita sabar dan ikhlas, Allah pasti kasih jalan,” katanya lirih.
Lulus SMA bukan berarti perjuangan selesai. Justru, tantangan baru dimulai. Keinginan Lin untuk melanjutkan ke perguruan tinggi sempat terasa seperti mimpi yang terlalu tinggi. Keterbatasan biaya menjadi tembok besar yang harus dihadapi.
Namun, ia tak menyerah.
Lin mengikuti berbagai seleksi masuk perguruan tinggi. Salah satu momen paling ia ingat adalah ketika harus berangkat jam tiga subuh demi mengikuti tes masuk kampus.
“Saya naik ojek, ongkosnya sampai Rp200 ribu. Waktu itu saya sempat mikir, kalau enggak lolos, uang segitu hilang sia-sia,” tuturnya.
Tapi dorongan dari sang ibu menjadi kekuatan terbesar. Kalimat sederhana namun penuh makna itu terus terngiang di kepalanya.
“Mamah saya selalu bilang, jangan sampai hidup saya seperti mamah dan bapak yang hanya bertani. Bukan karena malu, tapi karena beliau tidak ingin anaknya merasakan capek seperti mereka,” ucap Lin, matanya berkaca-kaca.
Kuliah Sambil Bekerja
Akhirnya, doa dan usaha Lin terjawab. Ia diterima sebagai mahasiswi jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di salah satu perguruan tinggi ternama di Kota Cimahi. Kebahagiaan itu bercampur dengan kekhawatiran, karena biaya kuliah bukan perkara ringan. Tak jarang, orang tuanya harus meminjam uang ke sana-sini demi membayar kebutuhan kuliah Lin. Hal itu membuat hatinya sering terasa perih.
“Saya sering enggak tega. Orang tua harus pinjam uang demi saya kuliah,” ujarnya jujur.
Untuk meringankan beban keluarga, Lin mengambil keputusan besar: kuliah sambil bekerja. Ia memilih kelas karyawan agar tetap bisa mencari penghasilan.
“Saya kuliah sambil kerja. Capek, tapi saya ikhlas. Ini bentuk tanggung jawab saya ke orang tua,” katanya.
Hari-harinya kini diisi dengan jadwal padat. Pagi hingga sore bekerja, malam kuliah, dan dini hari digunakan untuk belajar. Lelah tentu ada, tapi semangatnya tak pernah padam.
Terinspirasi Menjadi Guru
Di balik segala perjuangan itu, Lin menyimpan mimpi sederhana namun mulia: menjadi seorang guru. Pilihan jurusan PGSD bukan tanpa alasan. Ia terinspirasi oleh guru-gurunya semasa sekolah yang tak hanya mengajar, tapi juga mendidik dengan hati.
“Saya lihat guru itu bisa mengurus keluarga, tapi juga berbagi ilmu. Itu pekerjaan yang mulia,” tuturnya.
Sebagai anak desa, Lin menyadari betul kondisi pendidikan di lingkungannya. Banyak anak yang putus sekolah, bahkan sebagian besar memilih menikah setelah lulus SMP.
“Masih banyak yang kurang peduli pendidikan. Banyak yang setelah SMP langsung nikah,” katanya prihatin.
Ia ingin menjadi bagian dari perubahan itu. Bagi Lin, pendidikan adalah kunci untuk membuka masa depan yang lebih baik, terutama bagi anak-anak di desa.
Mimpi untuk Kembali dan Mengabdi
Meski kini menempuh pendidikan di kota, Lin tak pernah melupakan asal-usulnya. Ia bermimpi suatu hari nanti bisa kembali ke daerah asalnya dan mengabdi sebagai guru.
“Saya ingin bermanfaat bagi lingkungan. Saya ingin anak-anak desa punya mimpi setinggi-tingginya,” ucapnya penuh harap.
Gadis yang menyukai warna biru dan hobi membaca ini percaya bahwa pendidikan bukan hanya soal gelar, tapi soal kebermanfaatan. Baginya, kesuksesan sejati adalah ketika bisa membahagiakan orang tua dan memberi dampak positif bagi sekitar.
Pesan Inspiratif
Di akhir perbincangan, Lin menyampaikan pesan sederhana namun kuat, terutama bagi mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu.
“Jangan minder. Selama ada kemauan, pasti ada jalan,” ujarnya tegas.
Ia mengajak generasi muda untuk percaya pada diri sendiri, berani bermimpi, dan tidak menyerah pada keadaan.
“Kita harus bersyukur dan terus berjuang. Kalau kita berusaha dan berdoa, insyaallah bisa sukses dan membahagiakan orang tua,” pungkasnya.
Kisah Karlina Rismayanti adalah bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk bermimpi. Dari desa terpencil, dengan bekal tekad dan doa, ia melangkah menembus batas, membuktikan bahwa harapan selalu punya jalan bagi mereka yang mau berjuang.
(*)

Social Media