BLANTERORIONv101

Ketika Pacaran Masih Diantar Teman: Romantika Era 80–90an yang Kini Tinggal Kenangan

19 Januari 2026

Pacaran ala jadul
Redaksi berbincang santai di sebuah lokasi terbuka. Wajah narasumber tampak samar dari samping, menghadirkan suasana eksotik saat mengenang kisah pacaran era 80–90-an, ketika etika, kebersamaan, dan nilai kesederhanaan masih sangat melekat.

Ringkasan Artikel

Artikel ini mengangkat nostalgia pacaran era 80–90-an melalui kisah Didot Haryana, seorang pria yang mengenang masa mudanya saat pacaran masih dijalani dengan etika, norma, dan kebersamaan. Tanpa internet dan gadget, pacaran kala itu dilakukan dengan cara apel rame-rame ke rumah pacar, ditemani teman-teman, berbincang bersama keluarga, serta diwarnai suasana akrab dan sederhana.

Bagi Didot, memiliki pacar terlebih gadis idola di lingkungannya menjadi simbol harga diri dan kepercayaan diri, meski ia berasal dari keluarga sederhana tanpa motor atau harta berlebih. Kisah ini menjadi cermin perbedaan mencolok dengan pacaran masa kini yang cenderung individual, instan, dan kerap mengabaikan nilai moral. 

Lewat kenangan tersebut, artikel ini mengajak pembaca merefleksikan kembali pentingnya etika dan tanggung jawab dalam menjalin hubungan, di tengah derasnya arus modernisasi dan media sosial.

satuspirit.my.id - Di era sekarang, pacaran bisa dimulai hanya dengan satu geser layar. Pesan singkat, video call, lalu pertemuan diam-diam di kafe atau sudut kota. Namun empat dekade lalu, ketika internet belum dikenal, gadget belum ada, dan televisi hanya hitam putih, pacaran justru terasa lebih menantang, lebih bermakna, dan penuh etika.

Tahun 80–90an, pacaran bukan sekadar urusan dua orang. Ia adalah peristiwa sosial. Setiap kali seorang lelaki hendak “apel” ke rumah pacarnya, ia hampir pasti tidak datang sendirian. Ada teman-teman yang ikut mengantar—bukan sekadar pengawal, tetapi saksi, penguat mental, sekaligus bagian dari tradisi.

Didot Haryana, kini berusia sekitar 55 tahun, masih mengingat betul masa-masa itu. Saat SMA akhir 80-an hingga awal 90-an, ia menjalin kisah cinta dengan seorang gadis yang kala itu dikenal sebagai “bunga desa” di kawasan Buah Batu, Batununggal, Kota Bandung.

“Saya apel pertama kali ke rumah pacar, ngajak lima orang teman,” kenang Didot sambil tersenyum.

Dan anehnya, teman-teman itu justru senang diajak apel.

Bagi generasi sekarang, mungkin terdengar lucu. Tapi dulu, teman-teman yang ikut apel bukan merasa jadi ban serep. Justru sebaliknya. Rumah pacar identik dengan suasana akrab: ada kopi panas, rengginang, gorengan, kue seadanya semua dinikmati bersama.

“Bukan cuma ngobrol sama pacar, tapi ngobrol bareng-bareng. Kadang sama orang tuanya juga,” ujar Didot.

Apel menjadi ruang perkenalan keluarga, ruang belajar sopan santun, sekaligus latihan mental bagi seorang lelaki. Datang ke rumah perempuan bukan perkara sepele. Ada rasa tegang, grogi, tapi juga bangga.



Malam hiburan kala itu pun sederhana. Televisi hanya TVRI, radio menjadi teman setia. Tidak ada distraksi. Yang ada hanyalah percakapan dan kehadiran nyata.

Di era 80–90an, punya pacar, terlebih jika pacarnya cantik dan dikenal banyak orang adalah identitas sosial. Status seorang lelaki seolah naik derajat. Ia dianggap “laku”, “berani”, dan “hebat”.

Didot mengaku dirinya bukan berasal dari keluarga berada. Ke sekolah ia naik bemo, bukan motor. Padahal saat itu, motor adalah simbol kemapanan. Lelaki bermotor dianggap kaya dan mapan.

“Yang naksir dia banyak, dari cowok-cowok orang berada. Tapi entah kenapa dia milih saya,” kata Didot.

Ia tak minder. Modalnya bukan harta, melainkan keberanian, sikap supel, dan keaktifan di karang taruna. Dari situ ia sering bertemu sang pujaan hati.

“Banyak yang iri. Ada yang tadinya ramah jadi jutek,” ujarnya tertawa.

Namun justru dari situlah tumbuh kepercayaan diri. Pacaran bukan hanya soal cinta, tapi pembentukan jati diri sebagai lelaki.

Yang paling membedakan pacaran dulu dan sekarang adalah batas etika. Di era 80–90an, pacaran berdua justru terasa tidak nyaman.

“Pacaran berdua itu rasanya enggak enak, takut, sungkan,” ujar Didot.

Jika pun bertemu, pasti bertiga atau berkelompok. Tempatnya terang, terbuka. Tidak ada istilah “gelap-gelapan”.

Norma sosial, agama, dan rasa malu masih sangat kuat. Bukan karena takut kamera atau viral, tapi karena kesadaran moral.

“Waktu itu enggak kepikiran hal-hal aneh. Jaga diri, jaga nama baik,” tandasnya.

Pacaran Era Milineal: Bebas Tapi Kehilangan Arah

Bandingkan dengan kondisi hari ini. Pacaran menjadi urusan privat yang sering lepas dari kontrol sosial. Media sosial dan globalisasi mengaburkan batas.

Fenomena hamil di luar nikah, nikah dini karena “kecolongan”, hingga budaya “coba dulu” menjadi cerita yang semakin sering terdengar. Data BKKBN menunjukkan angka pernikahan dini dan kehamilan remaja masih menjadi persoalan serius di Indonesia.

Pacaran kini sering kehilangan nilai tanggung jawab dan kesakralan. Relasi dibangun cepat, berakhir cepat. Yang tersisa bukan kenangan hangat, tapi luka emosional.

Kemudahan teknologi menghadirkan kedekatan semu, tapi menjauhkan kedewasaan.

Pesan Inspiratif

Feature ini bukan untuk menghakimi generasi sekarang, apalagi mengidealkan masa lalu secara berlebihan. Setiap zaman punya tantangannya sendiri.

Namun satu hal yang patut direnungkan: pacaran dulu lebih dijaga oleh lingkungan, adat, dan nilai bersama. Ada rasa tanggung jawab bukan hanya pada pasangan, tapi pada keluarga dan masyarakat.

Pacaran bukan hanya soal rasa, tapi proses menuju kedewasaan.

“Kalau dipikir-pikir, justru karena banyak aturan, pacaran dulu terasa lebih berharga,” kata Didot pelan.

Kini, mungkin yang dibutuhkan bukan kembali ke masa lalu, tapi mengambil nilai baiknya: etika, batasan, rasa malu, dan tanggung jawab.

Karena cinta, sejatinya, bukan soal seberapa bebas kita melangkah, tapi seberapa bijak kita menjaga diri dan orang yang kita sayangi.




(*)

Komentar