BLANTERORIONv101

Ketika Cinta Berubah Arah: Kisah Cinta yang Kandas dan Fenomena LGBT di Kalangan Remaja

14 Januari 2026

lgbt fenomea menghawatirkan
Ilustrasi : seorang pria memandangi photo ceweknya dengan penuh kesedihan
yang ternyata kekasihnya seorang LGBT

Ringkasan Artikel

Kisah Farid Bika menggambarkan pahitnya kenyataan hidup ketika hubungan cinta yang telah terjalin lama harus berakhir secara tak terduga. Perubahan lingkungan dan pergaulan membuat Jahra, perempuan yang dicintainya, memilih jalan berbeda dengan menjalin hubungan sesama jenis.

Hal ini mengguncang mental Farid sekaligus menjadi pelajaran berharga baginya.

Dari sudut pandang psikologi, kondisi tersebut bisa dipengaruhi lingkungan, faktor emosional, dan pencarian jati diri. Kisah ini menegaskan pentingnya peran keluarga, pendidikan karakter, serta kehati-hatian dalam pergaulan. 

Farid pun berpesan agar generasi muda lebih bijak menjaga diri dan lingkungan pertemanan di tengah dinamika zaman.

satuspirit.my.id - Di masa SMA, nama Farid Bika nyaris selalu disebut dengan nada kagum. Ia bukan hanya dikenal sebagai siswa cerdas dengan prestasi akademik yang stabil, tetapi juga aktif dalam organisasi OSIS dan menjadi salah satu atlet bola voli andalan sekolah. Posturnya atletis, pembawaannya ramah, dan tutur katanya santun. Tak heran, banyak mata diam-diam memperhatikannya. Namun, dari sekian banyak kekaguman itu, hati Farid hanya tertambat pada satu nama: Jahra.

Jahra adalah gambaran perempuan sederhana dengan senyum lembut. Ia bukan tipe yang mencolok, tetapi kehadirannya selalu menenangkan. Hubungan mereka dimulai sejak kelas XI SMA. Awalnya seperti kisah remaja pada umumnya—belajar bersama, saling menyemangati saat ujian, hingga duduk berdampingan di tribun saat Farid bertanding voli.

“Waktu itu rasanya dunia baik-baik saja,” kenang Farid suatu ketika kepada redaksi. “Saya punya tujuan, punya semangat, dan punya seseorang yang saya cintai.”

Hubungan mereka bertahan hingga lulus SMA. Namun, fase kehidupan mulai membawa mereka ke arah yang berbeda. Farid diterima di sebuah perguruan tinggi di luar kota. Sementara Jahra memilih langsung bekerja di perusahaan swasta di kota asalnya. Awalnya, jarak bukan masalah. Komunikasi masih terjaga, saling bertukar cerita, dan sesekali merencanakan pertemuan.

Namun, seiring waktu, sesuatu mulai berubah.

Farid merasakan perubahan kecil yang lama-lama menjadi tanda tanya besar. Jahra mulai jarang mengabari. Balasan pesan tak lagi secepat dulu. Nada bicaranya terasa dingin, singkat, dan sering menghindar saat Farid ingin menelepon.

Yang membuat Farid semakin resah, Jahra kerap terlihat bersama seorang teman perempuannya. Bukan sekadar rekan kerja atau teman biasa, melainkan terlihat sangat intens. Beberapa unggahan media sosial menunjukkan kebersamaan yang tak lazim menurut Farid. Namun ia memilih menepis prasangka, berusaha berpikir positif.

“Saya pikir mungkin dia lagi capek kerja, atau lagi banyak tekanan,” ujarnya.

Hingga suatu hari, Farid memutuskan pulang tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Ia ingin memberi kejutan sekaligus memastikan bahwa hubungannya masih baik-baik saja. Ia datang ke kos Jahra dengan perasaan campur aduk antara rindu dan harap.

Namun, yang ia temukan justru menjadi titik balik hidupnya.

Di kos itulah, Farid menyaksikan sesuatu yang tak pernah terlintas dalam benaknya. Jahra ternyata menjalin hubungan emosional dengan sesama perempuan. Bukan sekadar teman dekat, melainkan sebuah relasi yang melampaui batas persahabatan.

“Saya seperti kehilangan pijakan,” ujar Farid lirih. “Saya tidak tahu harus marah, sedih, atau bertanya.”

Dalam penuturannya kepada redaksi, Farid mengaku butuh waktu lama untuk mencerna kenyataan tersebut.

“Saya tidak menyangka, perempuan yang saya cintai selama ini berubah seperti itu. Padahal dulu dia perempuan yang lembut, perhatian, dan penuh cinta,” katanya.

Bagi Farid, luka terbesar bukan hanya karena kehilangan kekasih, tetapi karena runtuhnya gambaran masa depan yang selama ini ia bangun dalam pikirannya.

Setelah peristiwa itu, Jahra akhirnya berbicara jujur. Ia mengaku bahwa perasaan tersebut sebenarnya sudah ia rasakan sejak masa SMA, meski saat itu masih samar dan terpendam. Kedekatannya dengan teman perempuannya di tempat kerja membuat perasaan itu semakin kuat.

“Ada dorongan batin yang sulit saya jelaskan,” ujar Jahra kepada Farid saat itu, sebagaimana dituturkan kembali oleh Farid kepada redaksi.

Ia tidak menyalahkan Farid, juga tidak meminta dimengerti. Jahra hanya ingin jujur pada dirinya sendiri, meski kejujuran itu melukai orang lain.

Perspektif Psikologi

Dalam dunia psikologi, ketertarikan terhadap sesama jenis bukanlah fenomena tunggal dengan satu penyebab. Banyak ahli menyebut bahwa kecenderungan tersebut bisa muncul melalui kombinasi berbagai faktor.

Beberapa faktor yang kerap disebut antara lain:

Lingkungan pergaulan, terutama ketika seseorang berinteraksi intens dengan kelompok yang menormalisasi atau memiliki kecenderungan serupa.

Faktor emosional dan trauma, seperti kurangnya perhatian orang tua, konflik keluarga, atau pengalaman pahit di masa lalu.

Kebingungan identitas diri, khususnya pada fase transisi remaja ke dewasa, ketika seseorang masih mencari jati diri.

Faktor sugesti dan pembiasaan, di mana sesuatu yang awalnya dianggap asing, lama-lama terasa biasa karena sering terpapar.

Namun demikian, para psikolog juga menekankan bahwa setiap individu memiliki latar belakang unik. Tidak semua kasus bisa disamaratakan.

Bagi Farid, pengalaman ini meninggalkan luka yang dalam. Ia sempat menarik diri dari pergaulan, fokus pada kuliah, dan memilih diam. Namun seiring waktu, ia belajar berdamai dengan kenyataan.

“Saya sadar, saya tidak bisa memaksa seseorang untuk tetap seperti yang saya harapkan,” katanya.

Farid memilih menjadikan pengalaman pahit itu sebagai pelajaran hidup. Ia mulai lebih berhati-hati dalam membangun hubungan, lebih mengenal karakter seseorang, dan tidak lagi menaruh seluruh harapan pada satu titik.

Ia juga belajar bahwa cinta tidak selalu berakhir dengan kebersamaan, tetapi bisa menjadi proses pendewasaan.

Fenomena seperti yang dialami Farid dan Jahra memunculkan diskusi panjang di masyarakat. Di satu sisi, ada aspek psikologis dan kemanusiaan yang perlu dipahami dengan empati. Di sisi lain, ada nilai moral, sosial, dan budaya yang juga dijunjung tinggi oleh masyarakat Indonesia.

Banyak kasus menunjukkan bahwa individu dengan kecenderungan seperti Jahra pada akhirnya berusaha kembali pada fitrah awalnya. Sebagian berhasil, terutama ketika mendapatkan pendampingan psikologis, dukungan keluarga, serta penguatan spiritual yang tepat.

Pendekatan yang keras dan menghakimi justru sering memperburuk keadaan. Sebaliknya, pendekatan yang manusiawi namun tegas dalam nilai dinilai lebih efektif.

Pentingnya Peran Keluarga dan Lingkungan

Kisah ini menjadi pengingat bahwa pendidikan karakter tidak hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga keluarga dan lingkungan sosial. Perhatian orang tua, komunikasi yang terbuka, serta lingkungan pergaulan yang sehat menjadi fondasi penting dalam pembentukan identitas remaja.

Remaja yang merasa didengar dan dipahami cenderung lebih kuat dalam menghadapi kebingungan jati diri. Sebaliknya, mereka yang merasa sendiri sering mencari pelarian emosional di tempat yang salah.

Pesan Inspiratif

Di akhir perbincangan, Farid menyampaikan pesan sederhana namun sarat makna.

“Pesan saya, bergaul zaman sekarang harus benar-benar selektif. Jangankan teman yang sudah lama dikenal, kadang kita tidak tahu karakter aslinya. Apalagi yang baru kenal. Jaga pergaulan, itu intinya.”

Kini, Farid melangkah ke depan dengan versi dirinya yang lebih dewasa. Ia tak lagi menyimpan amarah, hanya menyisakan pelajaran hidup. Baginya, masa lalu bukan untuk disesali, tetapi untuk dipahami.

Karena pada akhirnya, setiap luka seberat apa pun selalu membawa hikmah bagi mereka yang mau belajar.

(*)

Komentar