BLANTERORIONv101

Coklat Kita Silatusantren Tadabbur Alam, Ratusan Santri Pesantren Se-Jawa Barat Bersatu Menjaga Alam di Gunung Puntang

16 Januari 2026

Gunung puntang Silatusantren coklat kita
Ratusan santri perwakilan dari 131 pondok pesantren se-Jawa Barat berfoto bersama di atas panggung utama usai mengikuti puncak acara Coklat Kita Silaturahmi Santren Tadabbur Alam di Bumi Perkemahan Malabar, Gunung Puntang, Kabupaten Bandung, Kamis malam (16 Januari 2026). Kegiatan ini menjadi momentum kebersamaan, edukasi lingkungan, serta penguatan nilai keimanan melalui tadabbur alam.

Ringkasan Artikel

Coklat Kita Silatusantren Tadabbur Alam yang digelar di Bumi Perkemahan Malabar, Gunung Puntang, Kabupaten Bandung, pada 15–16 Januari 2026, menjadi puncak kegiatan edukatif lingkungan yang melibatkan 131 pondok pesantren dengan 262 santri se-Jawa Barat. Acara ini memadukan nilai religius, edukasi lingkungan, dan kebersamaan melalui rangkaian kegiatan seperti penyembelihan hewan kurban, salat berjamaah, sholawat bersama Ai Hodijah & Friends, serta talkshow bertema kepedulian alam bersama para narasumber nasional. Selain menambah wawasan tentang pengelolaan sampah dan kebersihan lingkungan, kegiatan ini juga menjadi ruang silaturahmi antarsantri untuk saling bertukar pengalaman kehidupan pesantren, memperkuat jejaring, serta menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa menjaga alam adalah bagian dari tanggung jawab moral dan keimanan.

satuspirit.my.id - Suasana alam Bumi Perkemahan Malabar, Gunung Puntang, Kabupaten Bandung, pada 15–16 Januari 2026 tampak berbeda dari hari-hari biasanya. Di hamparan lapangan yang luas, sebuah tenda besar berdiri megah, diapit deretan tenda penunjang dan ratusan tenda kemah terhampar, menandai sebuah hajatan besar yang akan berlangsung selama dua hari penuh kebersamaan.

Di dalam tenda utama, suasana tampak tertata rapi. Peralatan sound system, lighting, videografer, hingga fotografer telah siap, berpadu dengan karpet yang terhampar dan panggung sederhana namun berkesan elegan. Ya, pada dua hari itu, Coklat Kita menggelar event puncak bertajuk Coklat Kita Silatusantren Tadabbur Alam, sebuah pertemuan besar yang menyatukan keindahan alam, keimanan, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Bumi Perkemahan Malabar dipilih bukan tanpa alasan. Lokasinya yang menyatu dengan alam menjadi ruang refleksi yang tepat bagi tema tadabur alam, mengajak peserta untuk lebih dekat dengan ciptaan Tuhan sekaligus meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tak hanya bernuansa spiritual, kegiatan ini juga sarat edukasi. Sebanyak 131 pesantren dengan 262 santri se-Jawa Barat hadir dan mendapatkan pembelajaran tentang kepedulian lingkungan, khususnya pengelolaan sampah agar kembali bermanfaat bagi kehidupan.

Kegiatan ini merupakan puncak rangkaian program Coklat Kita yang telah berjalan selama satu tahun di berbagai pesantren. Pada hari pertama, acara dibuka dengan suasana hangat dan penuh kebersamaan. Udara dingin khas Gunung Puntang seolah tak terasa ketika para santri larut dalam rangkaian kegiatan yang disajikan.

Selepas salat Maghrib berjamaah, tawasul, dan doa bersama, suasana semakin semarak dengan kehadiran grup sholawat AKAF (Ai KHodijah And Friends). Lantunan sholawat menggema, mengajak para santri bersholawat bersama dengan penuh semangat. Beberapa lagu dibawakan, salah satunya “Aisyah”, yang disambut antusias para santri tanpa menghiraukan rasa lelah dan dingin.

Kemeriahan berlanjut ke sesi talkshow inspiratif yang tetap selaras dengan tema alam dan keimanan. Dipandu oleh MC Prima, talkshow menghadirkan narasumber kompeten seperti DR. Zastrouw mantan staf di era Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid, Budi Dalton, serta King Salman. Dengan gaya santai dan penuh guyonan, para narasumber menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya hubungan harmonis antara manusia dan alam sebagai sesama ciptaan Tuhan.

Sebelum rangkaian malam puncak berlangsung, pada siang harinya juga dilaksanakan penyembelihan hewan kurban sebagai bentuk rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan puncak Coklat Kita Silatusantren Tadabbur Alam. Momentum ini semakin menegaskan nilai kebersamaan dan kepedulian sosial yang diusung dalam acara tersebut.

Dari para santri, pesan yang muncul pun senada. Mereka mengaku mendapatkan banyak pelajaran, terutama soal kesadaran menjaga kebersihan lingkungan dan pengelolaan sampah. Edukasi yang diberikan membuat para santri kini lebih peduli terhadap lingkungan sekitar, baik di pesantren maupun di masyarakat tempat mereka tinggal.

Yudi Wate Angin,selaku perwakilan dari Coklat Kita, menjelaskan Tadabbur Alam ini memberikan pencerahan bagaimana menjaga lingkungan agar bersih bebas dari sampah.

“Tujuan utama kegiatan ini adalah memberikan edukasi kepada santri bahwa kebersihan lingkungan itu sangat penting, khususnya di pesantren. Mulai dari mengenal jenis sampah, cara memilah, mengelola, hingga memanfaatkannya. Ini menjadi bekal kehidupan santri, baik di pondok maupun di masyarakat,” tutur Yudi.

Gunung Puntang dipilih sebagai lokasi kegiatan karena mengusung tema Tadabbur Alam, yakni mensyukuri nikmat Allah SWT secara kolektif melalui perenungan di alam terbuka.

“Tema besar acara ini adalah tadabbur alam. Kami ingin mensyukuri nikmat Allah secara kolektif di alam terbuka, sekaligus menanamkan cinta lingkungan. Harapannya, momen ini menjadi kenangan dan pengalaman berharga bagi para santri,”jelasnya.

Ia menambahkan momentum ini menjadi sangat berkesan karena mempertemukan ratusan pesantren dari Jawa Barat dalam satu kegiatan silaturahmi.

“Insya Allah, Silatusantren akan kembali digelar pada tahun 2026 dengan tema Bukti, Bakti, Cinta: Pondokku, Lingkunganku, Kebanggaanku,” ungkap Yudi.

Sementara itu, pendiri sekaligus pimpinan Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’in, Bojong, Purwakarta, KH. Haji Agus Aliyudin, menilai kegiatan ini sangat memberikan manfaat nyata bagi pesantren.

“Manfaat paling utama bagi kami adalah bertambahnya literasi. Terus terang, di pesantren belum ada kurikulum khusus tentang pengelolaan sampah. Kegiatan ini menjadi catatan penting dan sangat membantu,” tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa kehadirannya dalam kegiatan ini merupakan undangan khusus karena pesantrennya termasuk perintis kemitraan pesantren bersama komunitas di Purwakarta sejak 2016.

Dari Purwakarta sendiri, terdapat lima pesantren yang diundang secara khusus dan diwakili langsung oleh para pimpinan pesantren.

Menurutnya, rangkaian kegiatan kebersihan lingkungan sebelumnya juga telah dilaksanakan di pesantren-pesantren, melibatkan santri dan masyarakat sekitar.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap terbentuk pola pikir baru santri tentang kebersihan dan kepedulian lingkungan. Pesantren bukan hanya tempat pendidikan agama, tetapi juga pusat pembelajaran nilai-nilai kehidupan,” jelasnya.

Ia menambahkan, kegiatan Tadabbur Alam menjadi sangat relevan di tengah kondisi lingkungan yang semakin memprihatinkan.

“Kami ingin menanamkan cinta terhadap alam sebagai sumber kehidupan, sesuai dengan prinsip rahmatan lil ‘alamin,” katanya.

Antusiasme juga datang dari para santri. Perwakilan santri dari Pondok Pesantren Al-Bukhori, Kabupaten Majalengka, Amrin Hakim menyampaikan apresiasinya terhadap program Coklat Kita.

“Sebagai santri, kami sangat mengapresiasi program ini. Selain belajar ilmu agama, kami juga mendapatkan wawasan tentang cinta lingkungan melalui program Coklat Kita Silatusantren,” ujarnya.

Ia menuturkan bahwa para santri dibekali ilmu pengelolaan sampah, baik organik maupun anorganik, yang dinilai sangat bermanfaat sebagai bekal setelah lulus dari pesantren.

“Santri sangat semangat. Ilmu ini penting ketika kami nanti terjun ke masyarakat, sehingga tidak hanya membawa ilmu agama, tetapi juga kepedulian terhadap lingkungan,” jelas Amrin.

Amrin sendiri telah mondok selama 10 tahun di Pesantren Al-Bukhori dan menjadi salah satu perwakilan dari tujuh pesantren yang terlibat dalam program ini.

“Program ini sangat berdampak positif. Kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut dan memberikan manfaat nyata bagi pesantren dan lingkungan sekitar,” tandasnya.

Pesan Inspiratif

Melalui Coklat Kita Silaturahmi Santren Tadabbur Alam, para santri tidak hanya disatukan oleh tenda dan panggung, tetapi oleh kesadaran bersama bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari iman dan tanggung jawab masa depan. Di Gunung Puntang, mereka belajar bahwa sampah bisa dikelola, alam harus dijaga, dan perbedaan pesantren justru menjadi kekuatan untuk saling menguatkan. Dari obrolan sederhana hingga pertukaran gagasan, tumbuh harapan bahwa santri hari ini bukan hanya pewaris ilmu agama, tetapi juga pelopor kepedulian sosial dan penjaga bumi yang sesungguhnya.

(*)


Komentar