BLANTERORIONv101

Pergulatan Jiwa: Kisah Lina dan Fenomena LGBT di Tengah Perubahan Zaman

15 Januari 2026




LGBT bisa karena pergaulan

Ilustrasi seorang perempuan yang duduk merenung di tengah suasana batin yang kompleks, menggambarkan perjuangan melawan kecenderungan LGBT dan harapan untuk kembali normal

Ringkasan Artikel

Artikel ini mengangkat kisah Lina, seorang perempuan berusia 37 tahun yang mengalami pergulatan batin terkait orientasi seksual sejak remaja. Berawal dari rasa kagum pada sesama perempuan saat SMA, Lina menjalani perjalanan panjang penuh kebingungan, penolakan diri, dan pencarian penerimaan. 

Lingkungan pergaulan memberinya kenyamanan, namun juga menimbulkan konflik batin antara keinginan untuk diterima dan dorongan untuk berubah. Artikel ini menyoroti bahwa fenomena LGBT tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi faktor keluarga, lingkungan sosial, pengalaman traumatis, serta aspek spiritual. 

Melalui pendekatan doa, perbaikan hubungan keluarga, dan refleksi diri, Lina perlahan menemukan ketenangan dan arah hidup yang lebih sesuai dengan nilai yang ia yakini. Kisah ini menegaskan pentingnya empati, ruang dialog, dan bimbingan moral dalam memahami perjalanan hidup setiap individu tanpa menghakimi.

satuspirit.my.id - Fenomena LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) kembali mengemuka dalam perbincangan publik. Media sosial, film, serial, hingga ruang-ruang kampus dan sekolah kerap menampilkan isu ini sebagai bagian dari gaya hidup modern yang dianggap lumrah. Narasi tentang kebebasan berekspresi dan penerimaan diri terus digaungkan. Namun, di balik sorotan itu, ada sisi lain yang jarang dibicarakan secara jujur: pergulatan batin, pencarian jati diri, dan konflik emosional yang sunyi.

Tidak semua orang yang berada dalam pusaran isu ini merasa baik-baik saja. Sebagian justru memikul pertanyaan besar dalam hidupnya—tentang siapa dirinya, ke mana harus melangkah, dan nilai apa yang ingin ia pegang. Di sinilah kisah Lina bermula.

Lina (bukan nama sebenarnya), perempuan berusia 37 tahun, untuk pertama kalinya merasakan keganjilan dalam dirinya saat duduk di bangku SMA. Ia masih ingat betul masa itu—kelas satu SMA, usia remaja yang seharusnya penuh keceriaan.

“Waktu itu rasanya aneh. Saya lebih nyaman dan kagum pada teman perempuan daripada laki-laki,” ujar Lina saat berbincang dengan redaksi.

Awalnya, ia menganggap perasaan itu sekadar kekaguman biasa. Lina mencoba mengabaikannya. Namun, waktu berjalan, dan rasa itu justru tumbuh semakin kuat. Ia mulai merasa gelisah, bertanya-tanya, bahkan takut pada dirinya sendiri.

“Saya juga bingung. Saya nggak mau begini. Saya berusaha melawan, berdoa, menyangkal. Tapi perasaan itu malah seperti mengakar,” katanya lirih.

Pergulatan itu tak pernah ia ceritakan kepada siapa pun. Lina memilih diam, menyimpan semuanya rapat-rapat. Di luar, ia tampak seperti remaja pada umumnya. Di dalam, ia bertarung dengan rasa bersalah, kebingungan, dan ketakutan akan penolakan.

Usai lulus SMA, Lina melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Di sanalah ia bertemu dengan lebih banyak orang, lebih banyak perspektif, dan lebih banyak ruang untuk mengekspresikan diri. Ia mulai bergaul dengan teman-teman yang memiliki perasaan serupa.

Untuk pertama kalinya, Lina merasa diterima tanpa banyak tanya.

“Di lingkungan itu, saya merasa dimengerti. Nggak perlu menjelaskan panjang lebar. Rasanya aman,” tuturnya.

Namun kenyamanan itu menyimpan paradoks. Di satu sisi, ia merasa memiliki tempat. Di sisi lain, konflik batin justru kian dalam. Ada suara kecil dalam dirinya yang terus bertanya: Apakah ini benar-benar saya? Apakah saya akan baik-baik saja dengan jalan ini?

Lina berada di persimpangan antara keinginan untuk diterima dan dorongan untuk berubah.

Pengalaman Lina bukanlah kasus tunggal. Banyak kajian psikologi dan sosial kontemporer menunjukkan bahwa orientasi dan perilaku seksual manusia merupakan hasil dari interaksi kompleks berbagai faktor, bukan sesuatu yang berdiri sendiri atau sesederhana pilihan sesaat.

Beberapa faktor yang kerap disebut antara lain:

Pertama, kondisi keluarga. Anak yang tumbuh dalam keluarga tidak harmonis, minim komunikasi, atau kurang kasih sayang emosional, kerap mencari kehangatan di luar rumah. Kedekatan emosional yang intens bisa berkembang menjadi ketergantungan perasaan.

Kedua, pergaulan dan lingkungan sosial. Manusia cenderung mencari ruang di mana ia merasa aman dan diterima. Lingkungan yang memberi validasi tanpa syarat dapat membentuk identitas baru, termasuk dalam hal orientasi dan ekspresi diri.

Ketiga, pengalaman traumatis. Kekerasan verbal atau fisik, kehilangan figur ayah atau ibu, perundungan, hingga penolakan sosial di masa kecil dapat meninggalkan luka batin. Luka ini, jika tak tertangani, mendorong pencarian kasih sayang dalam bentuk lain.

Keempat, faktor spiritual dan moral. Masa remaja adalah fase krusial pembentukan nilai. Ketika seseorang merasa “berbeda” namun tak mendapatkan bimbingan spiritual dan moral yang hangat, ia bisa kehilangan pegangan dalam memahami dirinya.


Dalam konteks ini, isu LGBT tidak bisa dipersempit menjadi sekadar persoalan moral hitam-putih. Ia adalah fenomena psikososial yang membutuhkan pendekatan empati, bukan caci maki atau stigma.

Titik Balik: Mendengar Suara Hati

Memasuki usia 30-an, Lina mulai merasakan kejenuhan batin. Ada kehampaan yang tak bisa dijelaskan. Ia merasa lelah secara emosional. Hubungan yang dijalaninya tak sepenuhnya memberi ketenangan.

“Saya capek. Bukan karena lingkungannya, tapi karena hati saya sendiri,” katanya.

Perlahan, Lina mulai kembali mendekat pada keluarganya. Ia memperbaiki komunikasi, membuka ruang dialog, dan mengizinkan dirinya untuk pulang—bukan hanya secara fisik, tapi juga batin.

Ia pun mulai menata ulang hubungannya dengan Tuhan. Doa yang dulu terasa berat, kini menjadi tempat bersandar.

“Saya mulai rajin salat, berdoa. Minta diberi jalan. Bukan dipaksa, tapi dituntun,” ujarnya.

Perubahan itu tidak instan. Tidak dramatis. Tapi nyata.

“Sekarang pelan-pelan terasa. Saya mulai bisa tertarik pada laki-laki lagi. Bukan dibuat-buat,” ucap Lina sambil tersenyum kecil.

Perjalanan yang Tidak Mudah, Tapi Bermakna

Lina tidak menafikan masa lalunya. Ia tidak membencinya. Baginya, semua itu adalah bagian dari perjalanan hidup yang membentuk kedewasaan.

“Saya tidak mau menolak siapa pun. Saya juga tidak mau menghakimi diri saya yang dulu,” katanya tegas.

Yang ia inginkan sederhana: menjadi versi dirinya yang tenang, utuh, dan selaras dengan nilai yang ia yakini.

“Saya ingin normal menurut pandangan saya sendiri,” ujarnya.

Kepada mereka yang sedang berjuang, Lina berpesan dengan suara lembut namun penuh keyakinan.

“Kuncinya niat dan tekad. Jangan menyerah. Ikhtiar dengan doa,” katanya.

Antara Cinta, Lingkungan, dan Doa

Kisah Lina mengajarkan satu hal penting: setiap manusia punya perjalanan hidup yang unik. Di tengah arus zaman yang serba bebas, manusia tetap membutuhkan fondasi—cinta yang sehat, lingkungan yang baik, dan pegangan spiritual.

Fenomena LGBT tidak bisa dipahami dari satu sudut pandang saja. Ada lapisan sosial, psikologis, dan spiritual yang saling berkelindan. Yang dibutuhkan masyarakat bukan penghakiman, melainkan ruang dialog, empati, dan bimbingan moral yang membangun.

Perubahan, jika pun terjadi, lahir dari kesadaran, bukan paksaan. Dari cinta, bukan kebencian.

Seperti Lina, mungkin banyak di luar sana yang sedang mencari jalan pulang. Dan setiap langkah kecil menuju kebaikan, sekecil apa pun, adalah kemenangan besar dalam hidup seseorang.

(*)


Komentar