BLANTERORIONv101

Santri Pilar Peradaban Bangsa yang Mulai Dilupakan, dan Klarifikasi atas Tuduhan Feodalisme Pesantren

19 Januari 2026

esantren Suryalaya Tasikmalaya
Pesantren Suryalaya banyak lahirkan santri dan tokoh

satuspirit.my.id - Santri bukan sekadar pelajar agama. Santri adalah penjaga moral, penggerak perjuangan, dan penjaga nurani bangsa Indonesia. Sejak jauh sebelum republik ini berdiri, pesantren telah menjadi pusat pembentukan karakter, spiritualitas, dan keberanian melawan ketidakadilan. Dari bilik-bilik sederhana pesantren, lahir ulama, pejuang, dan pemimpin bangsa yang tak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara akhlak.

Sejarah mencatat, pada masa perjuangan kemerdekaan, santri ikut mengangkat senjata melawan penjajah dengan perlengkapan seadanya. Resolusi Jihad 1945 yang digelorakan para ulama menjadi bukti nyata bahwa pesantren bukan menara gading yang terpisah dari realitas sosial, melainkan denyut nadi perjuangan bangsa. Santri bergerak bukan demi kekuasaan, melainkan demi kemerdekaan, iman, dan martabat.

Namun zaman berubah. Modernisasi, digitalisasi, dan derasnya arus informasi membuat wajah pesantren kerap dipandang secara sepihak. Dalam beberapa tahun terakhir, muncul narasi yang menyudutkan pesantren. Sebagian opini publik dan tayangan media bahkan menuding pesantren sebagai institusi feodal, tertutup, hingga sarang praktik penindasan terselubung.

Ketika Pesantren Dituding Feodal

Polemik mencuat ketika sebuah tayangan televisi swasta dan sejumlah konten viral di media sosial menuding sistem pendidikan pesantren sebagai feodalisme gaya baru. Relasi kiai–santri digambarkan tidak setara. Tradisi menghormati guru dianggap sebagai bentuk penindasan. Praktik khidmah santri dinilai eksploitasi. Bahkan, pesantren dituduh menjual agama demi keuntungan ekonomi.

Penghormatan santri seperti mencium tangan kiai, duduk lebih rendah, atau berjalan menunduk disebut sebagai simbol perbudakan mental. Tradisi pemberian amplop atau hadiah kepada kiai disalahartikan sebagai praktik transaksional. Tidak sedikit pula yang mengaitkan pesantren dengan isu bullying, pelecehan, hingga penyimpangan perilaku, seolah-olah semua pesantren memiliki wajah yang sama.

Narasi semacam ini cepat menyebar, terlebih di era potongan video pendek dan opini instan. Sayangnya, konteks sejarah, budaya, dan spiritual pesantren kerap diabaikan.

Tokoh-tokoh pesantren, akademisi, dan pengamat pendidikan Islam menegaskan bahwa tudingan tersebut merupakan framing keliru. Relasi antara kiai dan santri bukanlah hubungan tuan dan budak, melainkan hubungan guru dan murid yang dilandasi adab, cinta ilmu, dan spiritualitas.

Dalam tradisi pesantren, adab ditempatkan lebih tinggi daripada ilmu. Menghormati guru bukan berarti mematikan nalar kritis, tetapi menjaga keberkahan ilmu. Kiai bukan figur absolut yang kebal kritik, melainkan teladan moral dan spiritual yang dihormati karena keilmuannya, keikhlasannya, dan pengabdiannya kepada umat.

Khidmah santri membantu di dapur, kebun, atau aktivitas pondok bukan kerja paksa. Ia adalah bagian dari pendidikan karakter: melatih tanggung jawab, keikhlasan, kemandirian, dan empati sosial. Banyak santri justru mengaku nilai-nilai ini menjadi bekal utama ketika terjun ke masyarakat.

Begitu pula tradisi tabarruk, termasuk memberikan hadiah kepada guru. Itu bukan kewajiban, apalagi pemaksaan. Ia lahir dari kesadaran spiritual santri yang ingin menghormati dan mendoakan guru sebagai perantara ilmu.

Kisah Dodi Rahman: Dari Kenakalan Menuju Ketenangan

Kisah Dodi Rahman menjadi potret nyata bagaimana pesantren bekerja membentuk manusia. Pria kelahiran 1974 ini adalah mantan santri Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya, pada awal 1990-an.

“Saya dikirim ke pesantren karena kenakalan masa remaja. Sering bikin masalah di sekolah,” kenangnya.

Di Pesantren Suryalaya, Dodi menemukan ketenangan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Sosok almarhum KH Shohibul Wafa Tajul Arifin atau Abah Anom menjadi figur sentral dalam perjalanannya.

“Saya sering ke masjid bukan hanya untuk salat, tapi berharap bisa melihat Abah Anom. Pernah saya menyalami beliau, mencium tangannya. Tangannya lembut sekali. Rasanya bahagia dan tenang,” tutur Dodi.

Bagi Dodi, rasa hormat kepada kiai bukan lahir dari rasa takut, melainkan cinta dan kekaguman pada akhlak dan keteladanan. Bahkan, ia mengaku tak berani menatap wajah Abah Anom karena begitu kharismatik.

Kini, puluhan tahun berlalu, nilai-nilai pesantren masih melekat kuat dalam hidupnya. Ia melihat banyak alumni Pesantren Suryalaya yang sukses di berbagai bidang, namun tetap rendah hati dan tidak melupakan pesantren.

“Sangat wajar jika santri menghormati kiai. Karena dari beliaulah kami belajar makna hidup dan kebenaran,” tegasnya.

Pesan Inspiratif 

Kritik terhadap pesantren tentu tidak boleh ditutup rapat. Pesantren juga harus berani berbenah, terbuka terhadap evaluasi, dan tegas menindak jika terjadi penyimpangan. Tidak semua yang berlabel pesantren otomatis suci dari masalah. Namun, menyamaratakan pesantren sebagai institusi feodal adalah ketidakadilan besar.

Pesantren hari ini justru banyak yang adaptif. Kurikulum terus diperbarui, santri dibekali literasi digital, kewirausahaan, dan wawasan kebangsaan. Pesantren modern dan tradisional berjalan berdampingan, saling melengkapi, bukan saling meniadakan.

Di tengah krisis moral, individualisme, dan degradasi adab di masyarakat, pesantren tetap menjadi benteng terakhir pembentukan karakter. Santri diajarkan hidup sederhana, disiplin, hormat kepada guru, dan peduli terhadap sesama.

Santri bukan simbol masa lalu. Mereka adalah penjaga nilai-nilai luhur bangsa di masa kini dan masa depan. Dalam setiap doa santri, terselip cinta kepada guru dan bangsa. Dalam setiap langkah menuju masjid, ada semangat perjuangan yang diwariskan lintas generasi.

Menjaga kehormatan pesantren bukan berarti membenarkan praktik yang salah, melainkan meluruskan narasi agar tidak mematikan nilai-nilai baik yang telah terbukti membangun peradaban.

Kritik boleh dilakukan, bahkan perlu. Namun kritik harus lahir dari pemahaman yang utuh, bukan dari potongan video viral atau opini sepihak. Pesantren tidak boleh runtuh oleh framing negatif, justru harus semakin kuat menjaga moral, akhlak, dan keilmuan.

“Pesantren tak boleh hilang hanya karena berita dan opini sepihak. Justru harus makin kuat untuk menjaga peradaban moral dan akhlak bangsa,” pungkas Dodi.

Santri bukan sekadar pelajar agama. Santri adalah penjaga nurani Indonesia

(*)



Komentar