BLANTERORIONv101

Dari Mental Baja ke Mental Tempe: Refleksi Kekuatan dan Perubahan Karakter Pelajar Zaman Sekarang

18 Januari 2026

mental baja pelajar jadul
Pelajar dulu punya mental kuat, sekarang mental lembek

satuspirit.my.id - Generasi pelajar di masa kini memang sangat berbeda dengan generasi pelajar zaman dulu. Jika dahulu tolok ukur keberhasilan banyak ditentukan oleh ketekunan, kesabaran, dan daya juang, kini segalanya terasa lebih instan. Mental dan daya juang menjadi pembeda utama yang kerap diperdebatkan oleh orang tua, guru, hingga pemerhati pendidikan.

Pada era 1980–1990-an, pelajar SD hingga SMA hidup dalam keterbatasan fasilitas. Tidak ada internet, gawai, atau mesin pencari. Informasi didapat dari buku, koran, majalah, atau bertanya langsung kepada guru. Proses belajar menuntut usaha keras, niat kuat, dan kesungguhan. Dari keterbatasan itulah lahir generasi yang dikenal tangguh, sabar, dan tahan banting.

Sebaliknya, pelajar masa kini tumbuh di tengah kemudahan teknologi. Hampir semua informasi tersedia dalam hitungan detik. Tugas sekolah bisa dikerjakan dengan bantuan mesin pencari, video pembelajaran, bahkan kecerdasan buatan. Kemudahan ini tentu membawa manfaat besar, namun juga memunculkan tantangan baru: mentalitas instan, cepat menyerah, dan kurang siap menghadapi tekanan.

“Kalau dulu mau dapat informasi, harus baca buku atau tanya guru. Sekarang cukup buka ponsel,” ujar Hasan Maulana, guru pensiunan yang mengajar sejak era 1980-an.

Menurutnya, kemajuan teknologi memang tak terelakkan. Namun, tanpa pendampingan karakter, pelajar berisiko tumbuh menjadi pribadi yang bergantung dan rapuh secara mental.

Kisah pelajar era 80-an banyak menyimpan cerita tentang kedisiplinan yang keras namun membentuk karakter. Arya Gina, mantan pelajar SMA pada era tersebut, mengenang masa sekolahnya dengan senyum tipis.

“Kalau dulu terlambat masuk sekolah, itu sudah serem. Pintu gerbang ditutup, guru piket dan satpam sudah siap,” kenangnya.

Hukuman bagi pelajar terlambat beragam: push-up, jalan jongkok, jalan bebek, hingga berdiri di lapangan sebelum upacara. Bagi standar hari ini, hukuman itu terasa berat. Namun bagi pelajar saat itu, hukuman justru menjadi bagian dari pembelajaran.

“Dulu saya sering kena push-up. Dalam seminggu bisa dua kali. Tapi justru dari situ saya belajar tanggung jawab,” tandas Arya.

Ia juga bercerita tentang fenomena pelajar yang sengaja datang terlambat agar tidak mengikuti pelajaran pertama yang tidak disukai. Kadang satu kelas, bahkan lintas kelas, kompak terlambat bersama. Akhirnya mereka dihukum bersama, yang justru menumbuhkan solidaritas dan kebersamaan.

Kedisiplinan bukan hanya soal hukuman fisik, tetapi juga budaya sekolah: datang tepat waktu, berpakaian rapi, menghormati guru, dan bertanggung jawab atas tugas. Nilai-nilai ini perlahan membentuk mental baja yang berguna hingga dewasa.

Kondisi itu kontras dengan dunia pendidikan masa kini. Hukuman fisik hampir mustahil diterapkan. Guru dituntut berhati-hati karena kekhawatiran akan laporan orang tua, stigma kekerasan, hingga implikasi hukum.

Padahal, pada masanya, hukuman fisik ringan dimaksudkan bukan untuk menyakiti, melainkan melatih tanggung jawab dan keteguhan mental. Kini, pendekatan pendidikan lebih menekankan dialog, konseling, dan pendekatan psikologis.

Namun, perubahan pendekatan ini tidak selalu diimbangi dengan penguatan karakter di rumah dan lingkungan. Akibatnya, sebagian pelajar menjadi mudah tersinggung, cepat menyerah, dan kurang tahan tekanan.

“Pelajar sekarang mah rata-rata anak mama papa, manja. Sedikit yang punya mental kuat dan tahan banting,” imbuh Arya dengan nada prihatin.

Fenomena ini terlihat dari meningkatnya keluhan stres akademik, kecemasan sosial, hingga ketergantungan pada gawai. Tekanan media sosial—perbandingan prestasi, gaya hidup, dan ekspektasi—ikut memperberat kondisi mental pelajar.

Tantangan Zaman Digital

Tidak adil jika menyalahkan teknologi sepenuhnya. Teknologi adalah alat; manusialah yang menentukan dampaknya. Dunia digital menawarkan peluang besar: akses ilmu luas, kreativitas tanpa batas, dan kesempatan belajar mandiri.

Namun, tanpa ketekunan dan proses, teknologi justru bisa melemahkan karakter. Tantangan terbesar pendidikan hari ini adalah menyeimbangkan kemudahan digital dengan pembentukan karakter dan daya juang.

Banyak pakar pendidikan menekankan pentingnya growth mindset—keyakinan bahwa kemampuan dapat berkembang melalui usaha dan proses. Nilai ini sejalan dengan semangat pelajar zaman dulu yang terbiasa berjuang dalam keterbatasan.

Pembentukan mental pelajar tidak bisa dibebankan pada sekolah saja. Orang tua memegang peran kunci dalam menanamkan kemandirian, disiplin, dan tanggung jawab sejak dini. Memberi gawai tanpa batas tanpa pendampingan justru mempercepat ketergantungan.

Guru di sisi lain perlu menemukan cara kreatif menanamkan disiplin tanpa kekerasan: melalui keteladanan, konsistensi aturan, dan tantangan yang mendorong ketangguhan mental. Proyek kolaboratif, kegiatan luar ruang, dan pembelajaran berbasis masalah dapat melatih ketekunan dan daya juang.

Pesan Inspiratif

Kita memang tidak bisa memutar waktu. Namun, kita bisa belajar dari masa lalu. Kedisiplinan dan ketegasan zaman dulu terbukti membentuk karakter kuat. Sementara kemajuan teknologi masa kini adalah modal besar untuk melompat lebih jauh.

Harapannya, generasi pelajar ke depan mampu menggabungkan mental tangguh ala generasi lama dengan kecerdasan digital generasi modern. Dengan begitu, lahir pelajar yang bukan hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat secara mental dan moral.

“Justru dengan kemajuan ilmu pengetahuan, itu akan menjadi kelebihan jika disatukan dengan keuletan dan ketekunan. Dari situlah lahir mental baja,” tegas Arya.

Pada akhirnya, masa depan bangsa ditentukan oleh kualitas generasi mudanya. Teknologi boleh berubah, zaman boleh berganti, tetapi mental baja, daya juang, dan karakter harus tetap menjadi fondasi utama pendidikan Indonesia.

(*)

Komentar