BLANTERORIONv101

Belajar dari Evaluasi, Dapur Mekarmukti 1 Jalankan MBG dengan SOP Lebih Ketat

14 Januari 2026

Andriawan kades mekarmukti
Kepala Desa Mekarmukti, Andriawan Burhanudin, berpose di Kantor Desa Mekarmukti usai menerima kunjungan redaksi satuspirit.my.id, sekaligus menyampaikan komitmen pemerintah desa dalam mendukung operasional Dapur SPPG Mekarmukti 1 sebagai bagian dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak dan memberdayakan warga lokal.

Ringkasan Artikel

Dapur SPPG Mekarmukti 1 di Desa Mekarmukti, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, kembali beroperasi setelah menjalani evaluasi dan perbaikan menyeluruh pasca kendala teknis pada awal pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dapur ini merupakan dapur pertama yang berdiri dan beroperasi di wilayah Desa Mekarmukti.

Melalui pendampingan lintas sektor dan penerapan SOP baru yang lebih ketat, pengelolaan dapur kini dinilai lebih siap dan profesional. Peresmian kembali operasional dapur dilaksanakan pada Senin, 12 Januari 2026, dan dihadiri unsur pemerintah, aparat keamanan, tenaga kesehatan, relawan, serta warga sekitar.

Dapur SPPG Mekarmukti 1 melayani sekitar 3.000 penerima manfaat dari jenjang TK hingga SMA, sekaligus memberikan dampak ekonomi positif dengan melibatkan tenaga kerja lokal. Kepala Desa Mekarmukti, Andriawan Burhanudin, berharap dapur MBG ini berjalan berkelanjutan demi peningkatan gizi anak dan kesejahteraan masyarakat.


satuspirit.my.id - Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu ikhtiar besar untuk menyiapkan generasi emas Indonesia. Namun, di balik cita-cita mulia itu, perjalanan di lapangan tidak selalu berjalan mulus. Hal inilah yang sempat dialami oleh Dapur Mekarmukti 1, dapur SPPG pertama yang berdiri dan beroperasi di wilayah Desa Mekarmukti, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat.

Sebagai dapur perdana yang menjalankan program MBG di desa tersebut, Dapur Mekarmukti 1 menjadi tumpuan harapan ribuan Keluarga Penerima Manfaat (KPM), mulai dari anak usia TK hingga SMA. Namun dalam perjalanannya, dapur ini sempat menghadapi kendala teknis, yang kemudian dikenal publik sebagai kejadian luar biasa pada saat pelaksanaan MBG.

Kepala Desa Mekarmukti, Andriawan Burhanudin, tidak menampik hal tersebut. Menurutnya, peristiwa itu menjadi pelajaran penting bagi semua pihak.

“Kami menyadari bahwa Dapur Mekarmukti 1 ini adalah dapur pertama yang beroperasi sejak program MBG dijalankan. Dalam perjalanannya memang ada kendala teknis yang kemudian menjadi perhatian bersama,” ujarnya.

Pasca kejadian tersebut, berbagai pihak langsung turun tangan. Pendampingan dan evaluasi dilakukan secara menyeluruh oleh Satgas MBG, baik dari tingkat pusat maupun provinsi. Sejumlah instansi terkait ikut terlibat, mulai dari Dinas Kesehatan, unsur TNI-Polri, hingga lembaga-lembaga lain yang memiliki kewenangan sesuai bidangnya.

Proses evaluasi ini tidak sekadar formalitas. Berbagai rekomendasi perbaikan disusun, mulai dari aspek teknis, infrastruktur, hingga penerapan standar operasional prosedur (SOP) yang lebih ketat dan profesional.

“Alhamdulillah, dari hasil pendampingan dan evaluasi itu, keluar sejumlah rekomendasi yang harus dipenuhi apabila dapur ingin kembali beroperasi,” kata Andriawan.

Pihak desa pun terus memantau perkembangan tersebut. Setiap tahapan perbaikan dijalankan secara bertahap, menyesuaikan dengan rekomendasi dari instansi berwenang.

Upaya perbaikan yang dilakukan Dapur Mekarmukti 1 akhirnya membuahkan hasil. Setelah melalui proses evaluasi dan revisi SOP, dapur tersebut kembali mendapat undangan untuk dibuka dan di-launching ulang, menandai kesiapan beroperasi kembali dalam program MBG.

Pada acara launching yang digelar pada Senin, 12 Januari 2026, pukul 10.00 hingga 13.30 WIB, bertempat di Jl. Irigasi Kampung Pasar RT 03 RW 02, Desa Mekarmukti.

Hadir unsur Pemerintah Kecamatan Cihampelas, Pemerintah Desa Mekarmukti, Danramil, Kapolsek, Ketua RW 02, para Ketua RT, tokoh agama, tokoh masyarakat, pihak Puskesmas, Yayasan Desa Wisata Quran, relawan Dapur SPPG Mekarmukti 1, perwakilan sekolah penerima manfaat, serta warga masyarakat sekitar.

“Kami melihat ada perbaikan yang signifikan, baik dari sisi infrastruktur, teknis pelaksanaan, maupun kesiapan sumber daya manusianya,” ujar Andriawan.

Dari hasil peninjauan langsung ke lapangan, pemerintah desa menilai kondisi dapur kini jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Kembalinya operasional Dapur Mekarmukti 1 bukan sekadar melanjutkan program MBG, tetapi juga menjadi momentum pembelajaran penting. Dalam arahannya, pihak terkait menekankan agar kejadian sebelumnya dijadikan pelajaran agar ke depan pelaksanaan program bisa berjalan lebih optimal.

“Arahan yang disampaikan saat launching itu jelas, menitikberatkan pada proses pembelajaran dari kejadian yang sudah ada. Ke depan harus dijalankan dengan lebih baik lagi,” tutur Andriawan.

Hal ini mencakup kedisiplinan tenaga kerja, kepatuhan terhadap SOP, hingga pengawasan berkelanjutan.

Memberdayakan Warga Lokal

Menariknya, Dapur Mekarmukti 1 juga membawa dampak langsung bagi masyarakat sekitar. Mayoritas tenaga kerja di dapur tersebut merupakan warga Desa Mekarmukti sendiri.

“Untuk tenaga kerja, hampir semuanya warga lokal. Kurang lebih ada 40 sampai 46 orang, berasal dari RW 2 dan RW 12, karena dapur ini memang berdomisili di RW 2,” jelas Andriawan.

Hanya untuk tenaga dengan keahlian khusus, seperti ahli gizi, pihak dapur merekrut dari luar wilayah karena keterbatasan SDM lokal yang sesuai dengan standar SOP.

Kehadiran dapur MBG ini pun dinilai sejalan dengan cita-cita pemerintah pusat, tidak hanya dalam meningkatkan asupan gizi anak-anak, tetapi juga mendorong ekonomi lokal dan UMKM desa.

Saat ini, berdasarkan data yang terkonfirmasi ke pemerintah desa, baru dua dapur MBG yang resmi berjalan di wilayah Desa Mekarmukti. Meski demikian, ada informasi bahwa beberapa dapur lain sedang dalam tahap persiapan.

“Untuk yang baru, masih on progress. Secara perizinan belum menghadap ke kami, tapi informasinya sudah mulai dipersiapkan,” kata Andriawan.

Pemerintah desa berharap keberadaan dapur-dapur MBG ke depan bisa memberikan nilai manfaat yang lebih luas, baik dari sisi kesehatan, ekonomi, maupun kesejahteraan masyarakat.

“Mudah-mudahan dampak positifnya bisa dirasakan masyarakat, sebagaimana cita-cita mulia Presiden untuk meningkatkan gizi anak didik dan menggerakkan ekonomi lokal,” pungkasnya.

Informasi seputar olahraga nasional, Jawa Barat dan Persib, kunjungi :https://sportsjabar.com/

(*)

Komentar