BLANTERORIONv101

Godaan Laki-Laki di Bulan Ramadhan: Antara Pandangan, Nafsu, dan Latihan Mengendalikan Diri

18 Februari 2026

 

Cowok dan godaan puasa
Ilustrasi: Di bulan suci, bukan cuma perut yang ditahan. Mata, pikiran, dan gejolak jiwa juga ikut diuji.

satuspirit.my.id -  Ramadhan selalu membawa suasana yang berbeda. Masjid mulai ramai. Timeline penuh ucapan “Marhaban ya Ramadhan”. Bazar takjil bermunculan. Orang-orang bersiap menyambut bulan suci dengan niat yang lebih baik dari tahun lalu.

Tapi ada satu hal yang jarang dibicarakan secara jujur: godaan mata dan gejolak hawa nafsu, terutama bagi laki-laki.

Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Itu semua orang sudah tahu. Yang jauh lebih sulit justru menahan diri dari hal-hal yang tidak membatalkan puasa, tapi bisa menggerus pahala dan mengganggu kekhusyukan.

Dan salah satu ujian terbesar bagi sebagian laki-laki adalah penglihatan.

Puasa Itu Latihan Total, Bukan Sekadar Tidak Makan

Secara fikih, memang benar: yang membatalkan puasa adalah makan, minum, dan hubungan suami istri di siang hari. Ada juga hal lain seperti muntah disengaja dan sebagainya.

Tapi Ramadhan bukan hanya soal “sah atau batal”.

Ramadhan adalah bulan latihan total.  Latihan menahan diri. Latihan mengelola emosi. Latihan mengendalikan pandangan.

Dalam kehidupan sehari-hari, godaan visual begitu mudah ditemui. Nongkrong di jalan, duduk di kafe, jalan sore, bahkan sekadar scrolling media sosial. Perempuan dengan pakaian ketat, outfit terbuka, atau pose-pose menggoda bukan lagi hal langka.

Di bulan biasa, mungkin sebagian laki-laki menganggap itu hal lumrah. Dinikmati sekilas, lalu berlalu. Tapi ketika masuk Ramadhan, suasananya berbeda. Ada rasa bersalah yang lebih kuat. Ada pertanyaan dalam diri: “Ini mengganggu puasa nggak, ya?”

Indra, 24 Tahun: “Justru di Ramadhan Godaannya Terasa Lebih Kuat”

Indra (24), sudah menikah setahun. Usianya masih muda. Gejolak darahnya masih tinggi. Ia tidak menutup-nutupi hal itu.

“Kalau jujur, justru di bulan puasa kadang godaan itu terasa lebih kuat,” katanya sambil tersenyum kecut.

Ia mengaku, di luar Ramadhan, ia mungkin tidak terlalu memikirkan ketika melihat perempuan berpakaian seksi lewat di jalan atau muncul di media sosial. Tapi di bulan puasa, kesadaran spiritualnya meningkat. Hatinya lebih sensitif.

“Karena kita lagi nahan. Lagi latihan. Jadi setiap stimulus itu terasa lebih besar.” tambahnya.

Indra menyadari, sebagai laki-laki yang sudah menikah, ia masih memiliki ruang yang halal untuk menyalurkan kebutuhan biologisnya yakni di malam hari bersama istrinya. Itu pun tetap dalam koridor yang dibolehkan.

“Tapi yang bujangan? Lebih berat lagi. Mereka nggak punya penyaluran yang halal. Jadi godaan visual itu bisa jadi ujian yang lebih besar.” terang calon ayah muda ini.

Indra tidak menyalahkan perempuan. Ia menegaskan bahwa kendali tetap ada di diri laki-laki.

“Kalau saya tergoda, itu bukan salah orang lain. Itu soal saya bisa jaga pandangan atau nggak.” tandas pria berkacamata tersebut.

Media Sosial dan Godaan yang Tak Pernah Libur

Dulu, godaan mungkin terbatas pada ruang fisik. Sekarang, media sosial membuat semuanya lebih dekat dan lebih intens.

Konten dengan pakaian minim, pose sensual, atau video yang dirancang untuk menarik perhatian laki-laki bisa muncul kapan saja. Bahkan di bulan Ramadhan, tren ini tidak menurun. Justru kadang muncul dengan narasi menantang.

“Bulan puasa nih, kuat nggak?”

Bagi sebagian laki-laki, ini terasa seperti ujian berlapis. Di satu sisi ingin menjaga pahala. Di sisi lain, algoritma media sosial terus menyajikan konten yang memancing perhatian.

Menurut berbagai laporan perilaku digital global, konsumsi media sosial tetap tinggi selama Ramadhan, bahkan di beberapa wilayah meningkat pada malam hari. Artinya, akses terhadap konten visual yang menggoda juga tetap terbuka lebar.

Di sinilah latihan pengendalian diri benar-benar diuji.

Menahan Pandangan Itu Latihan Mental

Puasa bukan sekadar menahan perut. Ia melatih sistem kontrol dalam diri manusia.

Penglihatan adalah pintu masuk. Dari mata turun ke pikiran. Dari pikiran turun ke imajinasi. Dari imajinasi bisa berujung pada tindakan.

Tidak semua godaan harus dilawan dengan drama. Kadang cukup dengan satu tindakan sederhana: mengalihkan pandangan.

Indra mengaku, ia sering memilih untuk langsung menggeser layar atau menundukkan pandangan ketika ada sesuatu yang berpotensi memancing hasrat.

“Awalnya berat. Tapi kalau dibiasakan, lama-lama refleks.”

Ia juga memilih untuk mengurangi waktu scrolling selama Ramadhan. Bukan karena anti media sosial, tapi karena sadar dengan pola dirinya sendiri.

“Kalau tahu diri gampang kepancing, ya jangan sengaja cari bensin.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi dalam.

Untuk yang Bujangan: Salurkan Energi ke Hal Produktif

Bagi laki-laki yang belum menikah, tantangannya memang berbeda. Tidak ada penyaluran yang halal seperti pasangan suami istri.

Lalu apa yang bisa dilakukan?

Indra menyarankan hal-hal praktis:

Isi waktu kosong dengan aktivitas fisik ringan.

Olahraga sore, jalan kaki, atau membantu pekerjaan rumah bisa mengalihkan energi berlebih.

Kurangi konsumsi konten yang memancing.

Unfollow akun yang jelas-jelas mengganggu fokus. Ramadhan hanya sebulan.

Perbanyak kegiatan produktif.

Membaca, mengikuti kajian, atau mengerjakan proyek pribadi.

Perbaiki pola tidur.

Kurang tidur bisa membuat kontrol diri menurun.

Perkuat niat sejak awal.

Ramadhan adalah momentum reset, bukan sekadar ritual tahunan.

Ia menekankan, hawa nafsu itu bukan musuh. Ia bagian dari manusia. Tapi harus ditempatkan di waktu dan cara yang tepat.

“Yang berbahaya itu bukan punya hasrat. Tapi kalau kita biarkan hasrat yang mengendalikan kita.”

Ramadhan: Sekolah Pengendalian Diri

Jika dipikir-pikir, puasa adalah sistem pelatihan yang unik.

Bayangkan: kita bisa menahan lapar dan haus belasan jam, padahal makanan ada di depan mata.

Kalau menahan makan saja bisa, kenapa menahan pandangan tidak bisa?

Justru Ramadhan hadir untuk menguatkan otot kontrol diri. Ia seperti gym bagi jiwa. Awalnya berat. Tapi setelah sebulan, ada perubahan.

Mungkin tidak drastis. Tapi ada peningkatan kesadaran.

Laki-laki yang bisa menjaga pandangannya di bulan Ramadhan bukan berarti sempurna. Ia hanya sedang berusaha.

Dan usaha itu bernilai. Jangan Salah Arah: Ini Soal Kendali Diri, Bukan Menyalahkan Perempuan

Penting untuk ditegaskan: pembahasan ini bukan tentang menyalahkan perempuan atas cara berpakaian atau konten yang mereka buat.

Setiap orang bertanggung jawab atas dirinya masing-masing.

Laki-laki tidak bisa berlindung di balik kalimat, “Saya tergoda karena mereka.”

Godaan bisa ada di mana saja. Tapi keputusan ada di tangan sendiri.

Ramadhan justru mengajarkan kedewasaan itu.

Jika tergoda, itu tanda kita manusia.

Jika berusaha menahan diri, itu tanda kita sedang bertumbuh.

Pesan Indra: “Ramadhan Itu Momentum Upgrade”

Di akhir obrolan, Indra menyampaikan satu kalimat yang layak direnungkan.

“Kalau di bulan Ramadhan aja kita nggak bisa jaga pandangan, kapan lagi?”

Bagi dia, Ramadhan adalah momentum upgrade. Bukan sekadar ibadah rutin, tapi perbaikan kualitas diri.

Ia percaya, latihan selama sebulan ini akan berdampak pada sebelas bulan berikutnya.

“Minimal kita jadi lebih sadar. Lebih hati-hati.”

Dan mungkin itu inti dari semuanya. Bukan tentang menjadi suci dalam sekejap. Bukan tentang bebas dari godaan sepenuhnya.

Tapi tentang berani mengakui kelemahan, lalu berusaha mengendalikannya.

Ramadhan bukan bulan untuk pura-pura kuat.Ramadhan adalah bulan untuk benar-benar belajar menjadi kuat.

Karena pada akhirnya, kemenangan bukan saat azan maghrib berkumandang dan kita minum pertama kali.

Kemenangan adalah ketika kita berhasil menundukkan diri sendiri.

Dan itu, jauh lebih sulit daripada sekadar menahan lapar.

(*)

Komentar