Ringkasan Artikel
Artikel ini mengulas perubahan makna ngabuburit di era digital, di mana aktivitas menunggu waktu berbuka kerap diwarnai oleh penggunaan media sosial dan budaya berbagi konten. Melalui kisah seorang anak muda di Bandung Barat, tulisan ini menghadirkan sudut pandang alternatif: ngabuburit sebagai momen refleksi, pengendalian diri, dan pendalaman makna Ramadan. Di tengah riuhnya layar dan notifikasi, memilih sunyi justru menjadi bentuk keberanian spiritual yang inspiratif.
satuspirit.my.id - Sore Ramadan biasanya identik dengan satu hal: layar ponsel yang tak pernah sepi.
Laporan global We Are Social dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan rata-rata orang Indonesia menghabiskan lebih dari 7 jam sehari di internet, dengan mayoritas akses melalui ponsel. Ramadan pun tak jauh berbeda. Bahkan, trafik media sosial dan platform video cenderung meningkat menjelang waktu berbuka.
Ngabuburit kini bukan cuma soal menunggu azan, tapi juga soal update story, cari konten takjil viral, atau sekadar scrolling tanpa sadar waktu.
Namun di tengah arus digital yang deras itu, ada sebagian anak muda yang justru memilih arah sebaliknya: menepi.
Farhan (27), pemuda asal Bandung Barat, adalah salah satunya.
“Dulu saya tipe yang harus keluar rumah tiap sore Ramadan. Rasanya kalau nggak nongkrong, ada yang kurang. Tapi ternyata yang kurang itu bukan nongkrongnya, tapi ketenangannya,” ujar Farhan kepada redaksi.
Farhan mengaku perubahan itu terjadi dua tahun lalu. Saat itu ia merasa Ramadan hanya jadi rutinitas: puasa, buka, tarawih, selesai. Tidak ada yang benar-benar membekas.
“Saya tanya ke diri sendiri, kenapa Ramadan cepat sekali lewat tapi nggak ada yang berubah? Akhirnya saya coba satu hal: sore hari saya nggak keluar, nggak scroll medsos, cuma baca dan nulis refleksi.” ucapnya.
Awalnya terasa aneh.
“Sepi banget. Tapi justru di situ saya mulai bisa dengar suara hati sendiri.” imbuh Farhan.
Dari Nongkrong ke Ngobrol dengan Diri Sendiri. Ngabuburit versi Farhan sederhana:
Jalan kaki 20 menit menjelang magrib
Duduk di masjid tanpa main HP
Membaca 10–15 halaman buku
Menulis satu hal yang ingin diperbaiki
Tidak ada konten. Tidak ada story Instagram.
“Dulu saya kalau ngabuburit pasti upload. Sekarang malah saya sengaja nggak upload. Biar Ramadan ini cuma saya dan Tuhan yang tahu.” jelas bapa muda ini.
Kalimat itu sederhana, tapi menohok. Di Tengah Budaya Serba Konten
Ramadan sering kali berubah menjadi musim konten: challenge ibadah, buka bersama estetik, sampai sedekah yang didokumentasikan.
Farhan tidak menghakimi tren itu. Ia hanya memilih jalannya sendiri.
“Nongkrong nggak salah. Posting juga nggak salah. Cuma jangan sampai kita sibuk cari tempat bukaan, tapi lupa buka hati.”
Ngabuburit yang awalnya sekadar menunggu waktu, bisa berubah menjadi waktu yang ditunggu.
Ramadan Tanpa Kamera
Spirit menangkap satu benang merah: ada pergeseran cara memaknai Ramadan.
Di tengah budaya serba digital, memilih sunyi justru terasa berani.
Farhan menutup obrolan dengan satu kalimat yang cukup menggugah:
“Ramadan itu bukan soal kelihatan saleh, tapi benar-benar merasa butuh berubah.”
Dan mungkin, di antara riuhnya layar yang menyala setiap sore, kita perlu sesekali mematikan notifikasi agar hati yang kembali aktif.
(*)


Social Media