![]() |
| Fenomena prank Lebaran dengan kaleng Khong Guan isi rengginang kembali viral. Tradisi unik ini sudah ada sejak era 80-90an dan masih jadi cerita nostalgia hingga kini. |
Satuspirit - Bulan suci Ramadan memang selalu punya cerita. Bukan cuma soal ibadah, bukan cuma soal puasa, tapi juga soal kenangan yang kadang sederhana, kadang kocak, tapi selalu membekas.
Apalagi kalau sudah mendekati Lebaran.
Suasananya beda. Jalanan mulai ramai, pasar penuh, aroma kue-kue khas Lebaran mulai terasa di mana-mana. Di rumah, ibu-ibu sibuk di dapur, anak-anak mulai tak sabar menunggu hari kemenangan.
Dan di antara semua itu, ada satu “ikon” Lebaran yang hampir semua orang Indonesia pasti kenal.
Kaleng biskuit legendaris: Khong Guan.
Kalau kita mundur ke era 70-an, 80-an, sampai 90-an, suasana Lebaran itu punya rasa yang beda. Belum ada media sosial, belum ada flexing, belum ada unboxing parcel.
Tapi justru di situlah letak hangatnya.
Lebaran dulu itu soal kumpul keluarga, soal silaturahmi, soal datang ke rumah tetangga, makan kue seadanya tapi rasanya luar biasa.
Ketupat? Wajib.
Opor ayam? Sudah pasti.
Kue-kue? Jangan ditanya.
Dan di atas meja tamu, biasanya ada satu kaleng yang selalu hadir. Kaleng Khong Guan.
Dengan gambar ikonik seorang ibu dan dua anaknya duduk di meja makan.
Yang sampai sekarang masih jadi misteri nasional: “Itu bapaknya ke mana?”
Khong Guan: Dulu Bukan Sekadar Kue
Di masanya, Khong Guan itu bukan sekadar biskuit.
Itu simbol status sosial.
Iya, serius.
Kalau di meja tamu ada Khong Guan, itu artinya tuan rumah “niat” menyambut tamu. Ada kesan “wah” tersendiri.
Bahkan, di beberapa tempat, kalau Lebaran tanpa Khong Guan… rasanya kurang afdol.
Seolah-olah ada yang kurang.
Plot Twist: Pas Dibuka, Isinya Rengginang!
Nah, di sinilah cerita mulai menarik.
Karena yang bikin fenomena ini melegenda bukan cuma kalengnya…
Tapi isinya.
Alih-alih biskuit, banyak orang justru menemukan isi yang tidak terduga:
Rengginang
Opak
Kacang goreng
Kerupuk
Bahkan kadang permen campur-campur
Dan ini bukan kejadian satu dua orang.
Ini fenomena nasional.
Didit Setiadi: Saksi Hidup Era “Prank Lebaran”
Salah satu yang mengalami langsung momen ini adalah Didit Setiadi, yang kini berusia 53 tahun.
Ia masih ingat betul bagaimana masa kecilnya di awal tahun 80-an, ketika kaleng Khong Guan jadi “bintang utama” di ruang tamu.
“Waktu kecil, saya sering lihat ibu saya ngisi kaleng Khong Guan itu bukan dengan biskuit, tapi rengginang, opak, sama cemilan kampung,” ceritanya sambil tertawa.
Menurutnya, saat itu hal tersebut dianggap biasa saja.
Tidak ada yang aneh.
Tidak ada yang dipermasalahkan.
“Karena masih kecil, ya biasa aja. Enggak mikir apa-apa,” katanya.
Momen Paling Ikonik: Anak Kota Ketipu
Tapi ada satu kejadian yang sampai sekarang masih diingat jelas oleh Didit.
Suatu hari, ada tamu dari Kota Bandung datang ke rumahnya di kampung.
Seperti biasa, tuan rumah langsung menyuguhkan “hidangan terbaik”.
Kaleng Khong Guan pun dikeluarkan.
Disajikan dengan penuh percaya diri.
Anak-anak tamu yang datang, yang mungkin belum pernah mengalami “fenomena ini”, langsung antusias.
Begitu kaleng dibuka…
Mereka langsung menyerbu.
Ekspektasi: biskuit manis, wafer, cookies.
Realita?
Rengginang.
Opak.
Dan cemilan tradisional lainnya.
“Pas dibuka, anaknya langsung bilang, ‘Eh kok ini rengginang? Bukan kue?’” cerita Didit sambil menirukan ekspresi polos anak tersebut.
Satu ruangan langsung pecah tawa.
Lucu, Tapi Penuh Makna
Kalau dipikir-pikir sekarang, kejadian itu memang lucu.
Tapi di balik itu semua, ada cerita yang lebih dalam.
Kenapa banyak orang mengisi kaleng Khong Guan dengan makanan lain?
Jawabannya sederhana: kondisi ekonomi.
Dulu, tidak semua orang mampu membeli biskuit mahal.
Tapi bukan berarti tidak bisa menyambut tamu dengan baik.
Akhirnya, kalengnya tetap dipakai.
Isinya disesuaikan dengan kemampuan.
Yang penting tetap bisa berbagi.
Yang penting tetap ada yang disuguhkan.
Tradisi yang Tidak Direncanakan, Tapi Melekat
Menariknya, kebiasaan ini bukan tradisi resmi.
Tidak ada yang mengajarkan.
Tidak ada yang menyuruh.
Tapi terjadi di banyak tempat.
Dari desa sampai kota.
Dari Jawa Barat sampai daerah lain di Indonesia.
Seolah-olah ini adalah “kode budaya” yang muncul dengan sendirinya.
Dan sampai sekarang…
Masih ada.
Era Sekarang: Masih Ada, Tapi Jadi Nostalgia
Di zaman sekarang, mungkin fenomena ini sudah tidak sebanyak dulu.
Harga biskuit lebih terjangkau.
Pilihan makanan lebih banyak.
Tapi…
Kaleng Khong Guan isi rengginang tetap hidup.
Bukan lagi karena keterbatasan.
Tapi lebih ke nostalgia.
Kadang sengaja dilakukan untuk lucu-lucuan.
Kadang jadi bahan konten.
Kadang jadi cerita keluarga yang diulang-ulang tiap Lebaran.
Kenapa Cerita Ini Tidak Pernah Mati?
Karena ini bukan cuma soal makanan.
Ini soal:
Kenangan masa kecil
Kehangatan keluarga
Kesederhanaan hidup
Dan kreativitas orang Indonesia
Didit pun mengakui hal itu.
“Sekarang kalau ingat itu, suka senyum sendiri. Lucu, tapi juga berkesan,” ujarnya.
Di balik semua cerita lucu itu, ada satu hal yang tetap jadi inti.
Lebaran bukan soal isi kaleng.
Bukan soal mahal atau murahnya hidangan.
Bukan soal siapa paling mewah.
Tapi soal silaturahmi.
Soal kembali ke fitrah.
Soal saling memaafkan.
Soal memperbaiki diri.
Dari Rengginang ke Makna Kehidupan
Kaleng Khong Guan isi rengginang mungkin terlihat sederhana.
Tapi justru di situlah letak keindahannya.
Karena dari hal kecil itu, kita belajar:
Tidak harus sempurna untuk membahagiakan orang lain
Tidak harus mahal untuk berbagi
Tidak harus mewah untuk berkesan
Yang penting tulus.
Yang penting niatnya baik.
Pesan Inspiratif
Cerita yang Akan Terus Hidup
Didit percaya, cerita seperti ini tidak akan hilang.
Akan terus diceritakan.
Akan terus diingat.
Bahkan mungkin akan jadi cerita untuk anak dan cucu nanti.
“Ini akan terus ada. Karena ini bagian dari kenangan Lebaran kita,” katanya.
Dan mungkin benar.
Di tengah perubahan zaman, teknologi, dan gaya hidup…
Cerita sederhana seperti ini justru jadi pengingat:
Bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal besar.
Kadang…
Cukup dari satu kaleng Khong Guan.
Yang isinya… rengginang.
(*)


Social Media