BLANTERORIONv101

Program Bioflok Mekarmukti Berjalan, Pemasaran Jadi Ujian Keberlanjutan

16 April 2026

 

Kokan ikan bioflok mekarmukti
Kebersamaan dan semangat kolaborasi terlihat saat jajaran peserta berfoto bersama usai kegiatan, dengan gaya salam kompak, di sebuah saung terbuka. Suasana santai namun penuh keakraban ini menjadi simbol sinergi lintas pihak dalam mendorong program dan pembangunan di wilayah.

Ringkasan Artikel

Program berjalan, semangat kolaborasi terlihat kuat di lapangan. Namun di balik itu, ada catatan penting yang tak bisa diabaikan: pemasaran masih menjadi titik lemah yang berpotensi menghambat keberlanjutan. Produksi mungkin sudah siap, tapi tanpa strategi pasar yang matang mulai dari distribusi, branding, hingga akses ke konsumen hasilnya berisiko tidak terserap optimal. Jika ini tidak segera dibenahi, program yang sudah dibangun dengan baik bisa kehilangan daya dorongnya di tahap paling krusial.

Satuspirit — Di tengah upaya mendorong kemandirian ekonomi desa, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Desa Mekarmukti, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, mulai menggerakkan program budidaya ikan berbasis kolam bioflok yang digulirkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sejak awal 2026.

Sebanyak 24 kolam bioflok darat kini telah beroperasi dengan budidaya ikan nila sebagai siklus pertama, dan ditargetkan mulai panen pada Mei mendatang. Program ini turut mendapat perhatian pemerintah pusat melalui kunjungan monitoring perdana KKP yang didampingi Bappenas pada Kamis (16 April 2026).

Di balik kesiapan produksi, tantangan mulai muncul pada sisi hilir. Kebutuhan pasar untuk menyerap hasil panen menjadi pekerjaan rumah penting agar program ini dapat berjalan berkelanjutan dan memberi dampak nyata bagi masyarakat.

Ketua KDMP Mekarmukti, Beni Selamet, mengaku bersyukur atas perhatian yang diberikan pemerintah pusat terhadap program tersebut.

“Kami sangat merasa bahagia atas kunjungan dari Bappenas dan KKP. Harapannya ke depan lebih banyak kunjungan agar program ini bisa berjalan optimal dan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Dalam waktu dekat, sekitar tujuh kolam ikan nila diproyeksikan siap panen. Namun demikian, tantangan utama yang dihadapi saat ini adalah pemasaran hasil produksi.

“Kami tetap akan menjual hasil panen. Target kami minimal di harga Rp25 ribu per kilogram agar bisa menutup biaya operasional. Ini bukan soal keuntungan, tapi bagaimana program ini bisa terus berjalan,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan bahwa hingga saat ini operasional koperasi masih ditopang secara mandiri.

“Untuk biaya operasional seperti listrik dan kebutuhan lainnya, saat ini masih menggunakan dana pribadi karena koperasi belum memiliki pemasukan,” tambahnya.

Harapan untuk penyerapan hasil panen oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di tingkat desa juga masih dalam tahap penyesuaian.

“Kami berharap SPPG bisa menyerap hasil produksi, tapi masih perlu sinkronisasi karena ada aturan teknis yang harus dipenuhi,” jelasnya.

Dari sisi pemerintah pusat, program bioflok di Desa Mekarmukti dinilai telah berjalan sesuai harapan, baik dari sisi operasional maupun kesiapan kelompok dalam mengelola budidaya. Program ini diharapkan tidak hanya berhenti pada tahap bantuan, tetapi mampu berkembang menjadi contoh bagi masyarakat lain dalam mengelola potensi ekonomi desa.

Selain itu, penguatan ke depan juga diarahkan pada aspek pengolahan hasil agar memiliki nilai tambah, sekaligus mendukung kebutuhan pangan masyarakat, termasuk potensi integrasi dengan SPPG.

Di sisi lain, penyuluh perikanan yang mendampingi program tersebut menilai bahwa secara teknis budidaya bioflok di Mekarmukti berjalan cukup baik, meski tetap menghadapi beberapa kendala di lapangan.

“Untuk teknis, kendala utamanya ada di listrik dan kekompakan tim. Pengelolaan bioflok ini membutuhkan pencatatan yang baik, mulai dari pakan hingga tingkat kematian ikan,” jelas Suci Lestari.

Ia juga menambahkan bahwa ukuran ikan yang belum seragam menjadi salah satu faktor yang memengaruhi waktu panen, sehingga kemungkinan panen dilakukan secara bertahap.

“Karena benih tidak seragam, panen kemungkinan tidak bersamaan, tapi bertahap,” katanya.

Dalam hal pemasaran, pihak penyuluh juga terus mendorong berbagai alternatif, mulai dari menjembatani kerja sama dengan lembaga terkait hingga membuka peluang melalui bazar dan pengolahan produk.

Meski dihadapkan pada berbagai tantangan, semangat untuk menjadikan program ini sebagai penggerak ekonomi desa tetap menjadi tekad utama.

Di akhir pertemuan, diskusi berlangsung hangat dengan pembahasan yang mengerucut pada aspek teknis hingga tantangan pemasaran hasil panen. Hal ini menjadi perhatian bersama, mengingat keberhasilan program bioflok tidak hanya ditentukan dari produksi, tetapi juga dari kepastian pasar.

Kepala Desa Mekarmukti, Andriawan Burhanudin, S.H., berharap pemerintah pusat, khususnya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama pihak terkait, dapat turut menjembatani persoalan pemasaran agar program ini benar-benar berkelanjutan dan memberi dampak nyata bagi masyarakat.

Menurutnya, potensi kerja sama dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) masih membutuhkan proses sinkronisasi, sehingga diperlukan kolaborasi lintas pihak agar hasil produksi dapat terserap secara optimal.

Ke depan, ia juga berharap keterlibatan berbagai pihak, termasuk dalam forum-forum terkait pangan dan penguatan desa, dapat membuka akses pasar yang lebih luas sekaligus mendukung keberlanjutan program bioflok di Desa yang dipimpinnya 

(*)

Komentar