BLANTERORIONv101

Dakwah Nggak Harus Serius, Mang Ohang Buktikan Lewat Tawa yang Penuh Makna

10 April 2026
Rumah dakwah dan p3sb
Momen hangat: Kiai Ari Gumanti bersama Rumah Dakwah dalam kolaborasi dakwah santai penuh inspirasi.

Satuspirit - Siapa bilang dakwah harus selalu serius?

Di Cililin, Kabupaten Bandung Barat, suasana malam itu, Kamis Malam, 9 April, 2026, justru penuh tawa. Tapi jangan salah, di balik gelak itu, ada pesan yang diam-diam masuk ke hati.

Di balik terselenggaranya kegiatan Safari Dakwah Edisi Halal Bihalal sekaligus pengumpulan donasi Palestina, bencana Sumatera-Aceh bersama Mang Ohang tersebut, ada peran Kiai Ari Gumanti, S.T., S.Sos., M.Pd., pimpinan Yayasan Pondok Pesantren Pembangunan Sumur Bandung, (P3SB), yang sejak awal memang ingin menjadikan momen ini lebih dari sekadar acara biasa.

Menurutnya, halal bihalal yang berkolaborasi dengan Rumah Dakwah ini jadi ruang untuk mempererat silaturahmi sekaligus membuka pesantren lebih dekat ke masyarakat.

“Tujuan utamanya silaturahmi. Kita ingin membangun kedekatan, sekaligus mengenalkan bahwa pesantren ini terbuka untuk masyarakat,” ungkapnya.

Ia menegaskan, pesantren bukan milik segelintir orang, tapi milik bersama.

“P3SB ini ingin kita jadikan milik masyarakat Cililin. Silakan dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan yang membawa kebaikan,” ujarnya.

Pesantren yang sudah berdiri sejak 1973 ini, kata dia, terus berupaya berkembang dan melahirkan generasi unggul.

“Alhamdulillah, sudah ada santri yang hafiz dan bahkan melanjutkan ke Al-Azhar Kairo. Ini jadi bukti bahwa pesantren juga bisa melahirkan generasi berkualitas,” katanya.

Salah satu program unggulan yang terus didorong adalah program Qurani, dengan target hafalan yang cukup besar.

“Minimal tiga tahun bisa 15 juz. Kalau enam tahun, insya Allah bisa sampai 30 juz,” jelasnya.

Lebih dari itu, ia berharap pesantren ini bisa terus menjadi sumber kebaikan bagi masyarakat.

“Seperti namanya, Sumur Bandung. Mudah-mudahan bisa jadi sumber kehidupan dan manfaat untuk banyak orang,” tutupnya.

Tapi malam itu, dakwah nggak berhenti di sambutan. Cara penyampaiannya juga ikut berubah jadi lebih santai, lebih dekat, dan terasa lebih hidup.

Adalah Mang Ohang, komedian Sunda yang sudah dikenal luas, yang membawa suasana jadi cair tanpa kehilangan makna.

Dengan gaya khasnya yang penuh celetukan, ia mengajak jamaah untuk merenung tanpa terasa digurui.

“Kita ini jangan sampai terlena. Waktu terus berjalan, dan kita nggak pernah tahu kapan ajal datang,” ucapnya, usai acara. 

Bagi Mang Ohang, dakwah itu soal pendekatan. Bukan sekadar apa yang disampaikan, tapi bagaimana cara menyampaikannya.

Ia mengingatkan, kebaikan itu nggak perlu menunggu.

“Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi?” lanjutnya.

Pesan itu terasa makin dalam ketika dikaitkan dengan kondisi saudara-saudara di Palestina, Sumatera, dan Aceh.

“Bayangkan kalau kita ada di posisi mereka. Di situlah kita belajar arti kemanusiaan,” katanya.

Di akhir, ia juga mengingatkan hal sederhana yang sering terlupa: soal menjaga hati dan saling menghargai.

“Kita ini diciptakan berbeda-beda bukan untuk saling merendahkan, tapi untuk saling mengenal,” ujarnya.

Dan malam itu, harapan itu terasa nyata.

Dalam waktu kurang lebih dua jam, kegiatan Safari Dakwah ini berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp4.070.000.

Bukan soal besar kecilnya angka.

Tapi tentang hati yang tergerak, dan kepedulian yang benar-benar hidup.

(*)

Komentar